Informasi

Sebagai bentuk ketaatan Perseroan kepada Undangundang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Perseroan melaksanakan beberapa program terkait dengan kelestarian lingkungan. Perseroan meningatkan efisiensi proses bisnis perusahaan dengan menghindari kemungkinan terjadinya kerusakan lingkungan yang berdampak negatif bagi para warga ataupun komunitas yang menetap atau bertempat tinggal di sekitar area lingkungan Bank Jateng.

Program Green Office

Perseroan menggalakkan program ramah lingkungan yaitu Green Office sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Green Office merupakan konsep kantor yang kegiatan operasionalnya dijalankan dengan memperhatikan aspek lingkungan sebagai upaya meminimalkan dampak yang ditimbulkan. Salah satu bentuk green office di antaranya pengelolaan penggunaan kertas, energi (listrik, BBM, dan gas), air, dan pengelolaan limbah.

Penggunaan Kertas
Penggunaan kertas merupakan salah satu bahan baku operasional Bank Jateng yang ditujukan sebagai penunjukan korespondensi, administrasi pelaporan, pembuatan rekening nasabah, dan kegiatan administratif lainnya. Sepanjang tahun 2018, Bank Jateng mencatatkan penggunaan kertas sebanyak 4.270 rim, menurun 392 rim dari tahun 2017 yang tercatat sebesar 4.667 rim. Bank Jateng terus mendorong kegiatan operasional yang berorientasi pada penggunaan kertas yang minimum (paperless) melalui inisiatif sebagai berikut.

  • Pengembangan aplikasi e-Money dengan berbasis aplikasi dan digital sehingga penggunaan warkat transaksi dengan menggunakan kertas dapat ditekan. Aplikasi e-Money juga bersifat multifungsional dengan fitur-fitur beragam, antara lain pembayaran tagihan, pembelian pulsa, alat pembayaran belanja online, transfer antar bank, top up saldo, dan donasi;
  • Pengembangan aplikasi Sistem Informasi Manajemen Sumber Daya Manusia (SIMSDM);
  • Optimalisasi media online dan jaringan intranet sebagai sarana komunikasi internal dan publikasi antar jaringan kantor;
  • Pemanfaatan kertas bekas untuk kebutuhan memo dan note konsep;
  • Pemanfaatan media online sebagai sarana komunikasi dan promosi kepada nasabah.

Penggunaan Energi (Listrik dan BBM)
Penggunaan listrik Bank Jateng digunakan sebagai penunjang ruang lingkup operasional seperti lampu, mesin-mesin perkantoran, komputer, pendingin udara, penggunaan lift. Sementara itu, penggunaan BBM digunakan untuk keperluan mobil sebagai penggerak konektivitas Bank Jateng. Hingga akhir tahun 2018, penggunaan listrik Bank Jateng sebesar 68.021 gigajoule meningkat dibandingkan penggunaan listrik pada tahun 2017 sebesar 14.300 gigajoule. Dalam mendorong efisiensi penggunaan listrik dan BBM di tahun 2018, Bank Jateng melakukan sejumlah strategi diantaranya:

  • Efisiensi penggunaan listrik:
    • Penggunaan lampu LED yang lebih hemat listrik;
    • Efisiensi penggunaan pendingin ruangan hanya pada saat diperlukan;
    • Optimalisasi penggunaan pencahayaan alam untuk penerangan ruangan;
    • Peletakan bunga hias (sirih gading) di meja dan sudut-sudut ruangan.
  • Efisiensi penggunaan BBM:
    • Perawatan kendaraan operasional secara berkala;
    • Penggunaan transportasi publik dibandingkan kendaraan operasional untuk dinas jarak jauh.

Penggunaan Air

Penggunaan Air ditujukan untuk keperluan sanitasi pegawai, bangunan kantor, kebutuhan vair minum, wudhu, dan rumah dinas. Bank Jateng menggunakan air yang berasal dari air bawah tanah. Hingga akhir tahun 2018, Bank Jateng tercatat menggunakan air sebanyak 18.895 m3. Jumlah ini mengalami peningkatan/penurunan dari tahun 2017 sebesar 17.751 m3. Dalam menekan penggunaan air, Bank Jateng senantiasa menghimbau pegawai agar menghemat penggunaan air yang ditempelkan pada dinding kamar mandi, menutup kran air apabila tidak diperlukan, menggunakan air secukupnya untuk mencuci kendaraan operasional, dan membatasi penggunaan air untuk kebutuhan kebersihan (MCK).

Pengelolaan Limbah

Kegiatan pengelolaan limbah yang dilakukan Bank Jateng antara lain pengelolaan limbah padat dan limbah cair yang tidak termasuk ke dalam limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Limbah padat yang dihasilkan Bank Jateng antara lain berupa kertas, alat tulis, dan sampah plastik. Pengelolaan limbah padat menggunakan jasa pengangkutan dan pengelolaan sampah oleh dinas kebersihan daerah. Sementara itu, limbah cair yang dihasilkan Bank Jateng berupa air kotor dan pengelolaannya menggunakan sistem septic tank untuk kemudian diangkut dan diproses oleh pihak ketiga.

Program Penyaluran Kredit Ramah Lingkungan

Bank Jateng mendukung langkah strategis yang diusung oleh Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), dan Bank Indonesia dalam menciptakan dan menerapkan sistem ekonomi yang ramah lingkungan (green banking). Kebijakan ini diwujudkan melalui pertimbangan aspek keramahan lingkungan dalam pengukuran prospek usaha. Bank Jateng juga telah menyusun kebijakan yang mengharuskan nasabah korporasi untuk menyediakan dokumen analisis Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) dan izin gangguan guna mengantisipasi terjadinya potensi risiko berkelanjutan yang memprioritaskan keberlanjutan lingkungan.

Bank Jateng mempertimbangkan sejumlah faktor dalam pemberian kredit atau pinjaman kepada nasabah, yang meliputi proses pre screening dan analisis komprehensif terhadap latar belakang nasabah, antara lain karakter, track record, kemampuan finansial, prospek usaha, kapasitas usaha, ketersediaan second way, dan pengukuran estimasi kondisi ekonomi baik jangka pendek maupun jangka panjang. Bank Jateng turut memperhitungkan opini dari konsultan atau penilai independen yang bertugas untuk memantau dan meninjau kegiatan operasional calon nasabah dengan mematuhi kriteria peraturan lingkungan yang berlaku.