Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia mengindikasikan perlambatan kenaikan harga properti residensial di pasar primer

  • Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia mengindikasikan perlambatan kenaikan harga properti residensial di pasar primer. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) yang tumbuh sebesar 0,42% (qtq), melambat dibandingkan dengan IHPR triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 0,76% (qtq). Perlambatan kenaikan harga properti residensial bersumber dari tipe rumah kecil dan menengah. Pada triwulan IV-2018, harga rumah diperkirakan mulai meningkat sebesar 0,52% (qtq), terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan bangunan dan upah tenaga kerja. Pada triwulan III-2018, penjualan properti residensial menurun sebesar -14,14% (qtq), lebih rendah dibandingkan -0,08% (qtq) pada triwulan sebelumnya. Penurunan penjualan properti residensial terjadi pada semua tipe rumah, terutama disebabkan oleh menurunnya permintaan konsumen, terbatasnya penawaran perumahan dari pengembang, dan tingginya suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Hasil survei mengindikasikan bahwa dana internal masih memiliki porsi yang besar dalam pembiayaan pembangunan properti residensial. Hal itu tercermin dari pangsa dana internal pengembang yang mencapai sebesar 55,73%. Sementara itu, sumber pembiayaan konsumen dalam membeli properti residensial, masih didominasi oleh KPR sebesar 77,20%.
  • Defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan III 2018 meningkat sejalan dengan menguatnya permintaan domestik. Defisit transaksi berjalan pada triwulan III 2018 tercatat sebesar 8,8 miliar dolar AS (3,37% PDB), lebih tinggi dibandingkan dengan defisit triwulan sebelumnya sebesar 8,0 miliar dolar AS (3,02% PDB). Dengan perkembangan tersebut, secara kumulatif defisit neraca transaksi berjalan hingga triwulan III 2018 tercatat 2,86% PDB sehingga masih berada dalam batas aman. Peningkatan defisit neraca transaksi berjalan dipengaruhi oleh penurunan kinerja neraca perdagangan barang dan meningkatnya defisit neraca jasa. Penurunan kinerja neraca perdagangan barang terutama dipengaruhi oleh meningkatnya defisit neraca perdagangan migas, sementara peningkatan surplus neraca perdagangan barang nonmigas relatif terbatas akibat tingginya impor karena kuatnya permintaan domestik. Peningkatan defisit neraca perdagangan migas terjadi seiring dengan meningkatnya impor minyak di tengah naiknya harga minyak dunia. Defisit neraca transaksi berjalan yang meningkat juga bersumber dari naiknya defisit neraca jasa, khususnya jasa transportasi, sejalan dengan peningkatan impor barang dan pelaksanaan kegiatan ibadah haji. Meski demikian, defisit neraca transaksi berjalan yang lebih besar tertahan oleh meningkatnya pertumbuhan ekspor produk manufaktur dan kenaikan surplus jasa perjalanan seiring naiknya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, antara lain terkait penyelenggaraan Asian Games di Jakarta dan Palembang. Transaksi modal dan finansial pada triwulan III 2018 mencatat surplus yang cukup besar sebagai cerminan masih tingginya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian domestik. Transaksi modal dan finansial pada triwulan laporan mencatat surplus 4,2 miliar dolar AS, didukung oleh meningkatnya aliran masuk investasi langsung. Selain itu, aliran dana asing pada instrumen Surat Berharga Negara dan pinjaman luar negeri korporasi juga kembali meningkat. Meskipun demikian, surplus transaksi modal dan finansial tersebut belum cukup untuk membiayai defisit transaksi berjalan, sehingga Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III 2018 mengalami defisit sebesar 4,4 miliar dolar AS. Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir September 2018 menjadi sebesar 114,8 miliar dolar AS. Jumlah cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor. Ke depan, kinerja NPI diprakirakan membaik dan dapat terus menopang ketahanan sektor eksternal. Koordinasi yang kuat dan langkah-langkah konkret yang telah ditempuh Pemerintah bersama dengan Bank Indonesia untuk mendorong ekspor dan menurunkan impor diyakini akan berdampak positif dalam mengendalikan defisit transaksi berjalan tetap berada di bawah 3%. Pada saat yang bersamaan, Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan global yang dapat memengaruhi prospek NPI, seperti masih tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global, volume perdagangan dunia yang cenderung menurun, dan kenaikan harga minyak dunia. Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas perekonomian, serta memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah dalam mendorong kelanjutan reformasi struktural.

 

EKONOMI GLOBAL

 

  • Pergerakan dollar AS yang solid akhir-akhir ini karena outlook kenaikan suku bunga AS dan data ekonomi AS yang optimis berpotensi akan menggerakan pasar mata uang di awal pekan di tengah minimnya data ekonomi penting pada hari ini. Selain itu penggerak lainnya juga bisa datang dari sentimen ketidakpastian Brexit setelah pengunduran diri Menteri Brexit Jhonson yang membatasi harapan untuk terjadinya kesepakatan Brexit.

Potensi Pergerakan

Emas

Harga emas berpotensi lanjutkan pelemahannya sejak pekan lalu di hari ini di tengah sentimen menguatnya dollar AS karena outlook kenaikan suku bunga AS dengan menguji level support terdekat di $1205 – $1203. Sementara itu jika harga bergerak naik, level resisten terlihat di $1213 – $1215.

Minyak

Harga minyak berpeluang bergerak naik dalam jangka pendek setelah Arab Saudi mengatakan bahwa mereka akan pangkas suplai di bulan Desember dengan menguji level resisten di $61.30 – $61.50. Namun, harga minyak juga berpotensi bergerak turun jika pasar mempertimbangkan kenaikan aktivitas rig dalam laporan Baker Hughes di akhir pekan lalu untuk membidik support di $60.30 – $60.00.

EURUSD

Sentimen menguatnya dollar AS dan memburuknya hubunga antara Italia dan Uni eropa setelah Menteri Giovanni Tria mengatakan tidak akan merubah kebijakan fiskal mereka berpotensi bebani EURUSD lebih dalam lagi untuk membidik support di 1.1280 – 1.1250. Namun, EURUSD berpeluang dapatkan katalis positif jika data produksi manufaktur Italia yang dirilis pukul 17:00 WIB hasilnya lebih baik dari estimasi untuk menguji level resisten di 1.1360 – 1.1390.

GBPUSD

Memburuknya harapan pasar untuk tercapainya kesepakatan Brexit setelah pengunduran menteri Brexit Jo Jhonson berpotensi akan memicu penurunan GBPUSD lebih lanjut untuk membidik support di 1.2885 – 1.2850. Sementara itu jika harga bergerak naik, level resisten terlihat di 1.2975 – 1.3000.

USDJPY

Pergerakan USDJPY berpotensi untuk bergerak turun dalam jangka pendek jika sentimen risk aversion masih berjalan dengan kejatuhan pasar saham dengan menargetkan support di 113.40. Namun, jika sentimen penguatan dollar mendominasi pergerakan pasar, USDJPY berpeluang untuk bergerak naik mengincar ke area 114.20.

AUDUSD

Dengan sentimen risk aversion, menguatnya dollar AS dan ketidakpastian hubungan dagang antara Washington dan Beijing berpeluang menjadi beban bagi pergerakan AUDUSD dalam jangka pendek dengan menguji level support di 0.7200 – 0.7180. Sementara itu jika harga bergerak naik, level resisten terlihat di 0.7250 – 0.7270.

 

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Senin 12/11/2018 pukul 09.31 WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.