Senin, 30 September 2019

  • Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia mencatat peningkatan kewajiban neto, didorong terutama oleh peningkatan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN). PII Indonesia pada akhir triwulan II 2019 mencatat kewajiban neto sebesar 330,3 miliar dolar AS (31,0% terhadap PDB), sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan posisi kewajiban neto pada akhir triwulan sebelumnya sebesar 329,2 miliar dolar AS (31,3% terhadap PDB). Peningkatan kewajiban neto PII Indonesia tersebut sejalan dengan peningkatan posisi KFLN yang sedikit lebih besar dibandingkan dengan peningkatan posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN). Posisi KFLN Indonesia meningkat terutama didorong oleh besarnya aliran masuk modal asing dalam bentuk investasi portofolio. Hal tersebut didukung oleh prospek perekonomian domestik yang baik dan imbal hasil investasi aset keuangan domestik yang tetap menarik. Posisi KFLN naik 0,4% (qtq) atau sebesar 2,9 miliar dolar AS menjadi 691,2 miliar dolar AS pada akhir triwulan II 2019. Peningkatan posisi KFLN juga dipengaruhi oleh faktor pelemahan dolar AS terhadap Rupiah yang berdampak pada peningkatan nilai instrumen investasi berdenominasi Rupiah. Meskipun demikian, peningkatan posisi KFLN lebih lanjut tertahan oleh faktor revaluasi negatif instrumen finansial domestik sejalan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama triwulan laporan. Posisi AFLN Indonesia juga meningkat terutama didorong oleh transaksi perolehan AFLN dalam bentuk aset investasi langsung dan investasi lainnya. Pada akhir triwulan II 2019, posisi AFLN tumbuh 0,5% (qtq) atau sebesar 1,9 miliar dolar AS menjadi 361,0 miliar dolar AS. Posisi AFLN yang meningkat juga dipengaruhi oleh kenaikan harga obligasi dan rerata indeks saham negara-negara penempatan AFLN serta faktor pelemahan dolar AS terhadap beberapa mata uang utama penempatan investasi. Bank Indonesia memandang perkembangan PII Indonesia pada triwulan II 2019 masih tetap sehat. Hal ini tercermin dari struktur kewajiban neto PII Indonesia yang masih didominasi oleh instrumen berjangka panjang. Meski demikian, Bank Indonesia akan tetap mewaspadai risiko kewajiban neto PII terhadap perekonomian Indonesia. Ke depan, kinerja PII Indonesia diperkirakan semakin baik sejalan dengan stabilitas ekonomi yang terjaga, didukung oleh penguatan koordinasi antara Bank Indonesia dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan permintaan domestik, ekspor, pariwisata, dan aliran masuk modal asing termasuk Penanaman Modal Asing (PMA).
  • Ketiga indeks return ditutup menguat pada hari terakhir perdagangan pekan kemarin. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) naik ke level 266,5199 (+0,05%). Sedangkan INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) naik ke level 261,4589 (+0,05%) dan INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) ke level 290,6538 (+0,02%). Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) dominan bergerak Rata-rata yield seluruh tenor (1-30 tahun) turun sebesar –1,23bps dengan penurunan yield dicatatkan kelompok tenor panjang (>7tahun) sebesar –1,71bps. Sedangkan rata-rata yield tenor pendek (<5tahun) dan menengah (5-7tahun) naik masing-masing sebesar +0,61bps dan +0,02bps. INDOBeXG-Effective Yield turut bergerak positif yakni turun –0,0026poin ke level 7,1813. Akhir sesi end of day, harga seluruh seri SUN benchmark ditutup menguat dengan rentang penguatan berada di antara +0,72bps (FR0077) hingga +13,19bps (FR0068). Namun, harga SUN seri FR&ORI secara keseluruhan terpantau bergerak mixed dengan rata-rata harga pada seluruh seri naik +3,10bps. Adapun rata-rata harga kelompok SUN acuan naik sebesar +6,38bps. INDOBeXG-Clean Price Jumat kemarin naik +0,03% ke level 113,6562. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder kemarin terpantau menurun dari sisi frekuensi menjadi 689 kali transaksi (-17,19%). Sementara total volume terpantau naik +6,88% menjadi sebesar Rp13,34tn. Peningkatan volume terjadi hanya pada transaksi SUN tenor pendek senilai Rp2,20tn. Sedangkan 2 tenor lainnya terpantau menurun sebesar Rp1,60tn. FR0082 bertahan sebagai seri SBN yang mencatat total volume terbesar yakni senilai Rp1,30tn. Sementara pada obligasi korporasi, total volume terbesar senilai Rp400miliar dicatatkan seri PNMP03ACN1. Pada perdagangan Jumat, pasar diprediksi lebih digerakkan oleh faktor trading. Sempat melemah pada sesi siang, indeks return obligasi negara berhasil ditutup menguat +0,05% pada akhir sesi end of day dan berhasil mendorong penguatan ICBI. Belum adanya sentimen penggerak lanjutan ditengah wait and see lanjutan negoisasi dagang AS-China menjadi alasan investor melakukan short trading dan menyebabkan harga cenderung bergerak volatil. Salah satunya tercermin dari pergerakan harga kelompok seri SUN acuan yang mana sempat didominasi pelemahan pada sesi siang dengan koreksi harga terbesar senilai –14,28bps, namun berhasil ditutup menguat pada seluruh seri di akhir sesi end of day. Tekanan juga datang dari pergerakan Rupiah di pasar spot yang terpantau belum bisa keluar dari tren depresiasi dengan ditutup di level Rp14.173/US$ (-8,00poin). Berbeda halnya dengan pasar SUN, IHSG Jumat kemarin ditutup melemah –0,54% di level 6.196,89. Pasar obligasi diprediksi bergerak mendatar pada perdagangan hari ini terpicu wait and see kelanjutan hubungan dagang AS-China serta tensi politik di AS. Diketahui, pertemuan level tingkat tinggi antara perwakilan dagang AS dan China akan dilangsungkan pada tanggal 10-11 Oktober.

EKONOMI GLOBAL

 

  • Dolar mampu bertahan di level level tertinggi mingguan karena karena banyak data ekonomi AS mengalahkan ekspektasi dan kekhawatiran ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok ang mereda. Selanjutnya fokus pasar akan tertuju pada data Caixin Manufacturing PMI yang akan dirilis pada pukul 8:45 WIB. Dan data Current Account Inggris yang akan dirilis pada pukul 15:30 WIB.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpotensi bergerak turun menguji level support di 1495 – 1490 di tengah optimisme pasar pada perundingan dagang AS-Tiongkok dan meredahnya ketegangan di Timur Tengah. Resisten harga emas berada pada level 1500 – 1505.

MINYAK

Harga minyak berpeluang bergerak turun menguji level support di 55.50 – 55.00 karena tertekan oleh meredanya ketegangan di Timur Tengah dengan adanya genjatan senjata antara pasukan Arab Saudi dan Yaman. Resisten harga minyak berada pada level 56.70 – 57.20.

EURUSD

Dolar yang terus menguat dan potensi outlook pelonggaran moneter ECB berpeluang menekan EURUSD untuk menguji level support di 1.0900 – 1.0880. Gagal menembus level tersebut EURUSD berpeluang bergerak naik menguji level resisten di 1.0975 – 1.1000.

GBPUSD

GBPUSD berpeluang bergerak turun dalam jangka pendek menguji level support di 1.2250 – 1.2220 karena tertekan penguatan dolar AS dan ketidakpastian politik Inggris terkait Brexit. Resisten GBPUSD berada pada level 1.2355 – 1.2380.

USDJPY

Dalam jangka pendek USDJPY berpotensi bergerak naik menguji level resisten di 108.20 – 108.40 karena ditopang oleh penguatan dolar AS. Namun kegagalan menembus resisten tersebut berpeluang menekan USDJPY menguji support di 107.60 – 107.30.

AUDUSD

AUDUSD berpeluang bergerak turun menguji level support di 0.6735 – 0.6700 karena RBA yang tetap memiliki pandangan yang dovish, namun optimisme pada perundingan dagang AS-Tiongkok berpeluang menopang kenaikan AUDUSD menguji resisten di 0.6780 – 0.6800.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Senin 30/09/2019 pukul 10.39 WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.