Senin, 30 Desember 2019

  • Pada perdagangan Jumat, pasar obligasi Indonesian melanjutkan tren positifnya. Masih pada besaran yang sama, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) dan INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) naik +0,08% masing-masing ke level 274,1847 dan ke level 268,9170. Sementara INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) naik +0,07% ke level 299,5733. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) bergerak mixed dengan rata-rata yield tenor 1-30tahun naik +1,45bps. Rata-rata yield tenor pendek (<5tahun) dan tenor menengah (5-7tahun) turun masing-masing sebesar –3,78bps dan –0,83bps. Sementara rata-rata yield tenor panjang (>7tahun) naik sebesar +2,66bps. INDOBeXG-Effective Yield pada sesi end of day Jumat berada di level 6,9742 (-0,0199poin). Harga kelompok seri SUN benchmark berlanjut di zona positif. Penguatan harga terjadi di rentang +1,94bps hingga +13,30bps dengan rata-rata naik sebesar +9,16bps. Rally harga juga berlanjut mendominasi mayoritas SUN seri FR dan ORI dan mencatatkan penguatan rata-rata sebesar +6,94bps. Sehingga INDOBeXG-Clean Price menguat +0,06% ke level 114,7581. Aktivitas perdagangan obligasi mengalami peningkatan volume transaksi di pasar sekunder pada perdagangan kemarin dengan total nilai sebesar Rp11,39tn (+9,29%) dalam 547 transaksi (-8,38%). Aktivitas transaksi SUN benchmark terpantau menurun dengan total volume sebesar Rp2,14tn (-25,44%) dan total frekuensi 53 transaksi (+1,85%). FR0082 menjadi seri SBN teraktif dan sekaligus mencatatkan total volume perdagangan terbesar Jumat kemarin yakni sebanyak 56 kali ditransaksikan dengan total nilai Rp1,55tn. Untuk obligasi korporasi, volume terbesar dicatatkan seri IIFF01ACN1 senilai Rp250miliar. Sementara frekuensi teraktif sebanyak 8 kali dicatatkan oleh seri PPLN03ACN4. Performa positif berlanjut mewarnai pasar obligasi dalam negeri meski tidak setinggi transaksi Kamis. Senada dengan sesi siang, menguatnya mayoritas seri-seri obligasi negara lebih dipicu oleh faktor trading ditengah minimnya sentimen dan belum semaraknya pasar sekunder. Rupiah di pasar spot Jumat kemarin menguat +6,0poin ke level Rp13.952/US$ dan turut menopang performa positif pasar. Namun, mixed-nya imbal hasil obligasi negara ditengah penguatan seri-seri obligasi negara mencerminkan mulai meredanya euforia kesepakatan damai dagang AS-China. Pasar obligasi domestik diprediksi sideways pada hari terakhir perdagangan tahun 2019 terpicu oleh minimnya sentimen dan efek libur tahun baru. Belum adanya sentimen penggerak lanjutan, tren apresiasi Rupiah diprediksi masih akan menjadi faktor yang mendorong performa positif pasar.
  • Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia mencatat penurunan kewajiban neto, dipengaruhi terutama oleh penurunan Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN). PII Indonesia mencatat kewajiban neto sebesar 326,2 miliar dolar AS (29,8% dari PDB) pada akhir triwulan III 2019, menurun dibandingkan dengan posisi kewajiban neto pada akhir triwulan sebelumnya sebesar 329,6 miliar dolar AS (30,9% dari PDB). Penurunan kewajiban neto tersebut didorong oleh penurunan Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) dan peningkatan Aset Finansial Luar Negeri (AFLN). Posisi KFLN Indonesia menurun terutama dipengaruhi oleh faktor perubahan lainnya, seperti penguatan nilai tukar dolar AS terhadap Rupiah dan penurunan nilai instrumen investasi berdenominasi Rupiah sejalan dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Penurunan tersebut terjadi di tengah meningkatnya aliran modal masuk asing khususnya dalam bentuk investasi langsung dan investasi portofolio. Posisi KFLN menurun 0,3% (qtq) atau sebesar 1,9 miliar dolar AS menjadi 691,4 miliar dolar AS pada akhir triwulan III 2019. Penurunan lebih lanjut tertahan oleh meningkatnya aliran modal masuk asing dalam bentuk ekuitas, obligasi global korporasi, dan Surat Utang Negara (SUN) berdenominasi Rupiah. Peningkatan aliran modal masuk asing tersebut mencerminkan persepsi investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang positif dan imbal hasil investasi aset keuangan domestik yang tetap menarik. Posisi AFLN Indonesia meningkat terutama didorong oleh aset dalam bentuk investasi lainnya dan cadangan devisa. Posisi AFLN pada akhir triwulan III 2019 tumbuh 0,4% (qtq) atau sebesar 1,5 miliar dolar AS menjadi 365,3 miliar dolar AS. Peningkatan aset investasi lainnya terutama dipengaruhi oleh peningkatan simpanan penduduk di luar negeri, sementara peningkatan cadangan devisa antara lain berasal dari penerimaan devisa migas dan penerimaan valas lainnya. Peningkatan posisi AFLN lebih lanjut tertahan oleh faktor penguatan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia lainnya dan penurunan rerata indeks saham pada sebagian besar negara penempatan investasi. Bank Indonesia memandang perkembangan PII Indonesia pada triwulan III 2019 tetap sehat. Hal ini tercermin dari struktur kewajiban neto PII Indonesia yang masih didominasi oleh instrumen berjangka panjang. Meski demikian, Bank Indonesia akan tetap mewaspadai risiko kewajiban neto PII terhadap perekonomian Indonesia. Ke depan, Bank Indonesia meyakini kinerja PII Indonesia akan makin baik sejalan dengan stabilitas perekonomian yang terjaga dan pemulihan ekonomi Indonesia yang berlanjut didukung oleh konsistensi dan sinergi bauran kebijakan Bank Indonesia, kebijakan fiskal, dan reformasi struktural.

EKONOMI GLOBAL

  • Kabar dari media Tiongkok bahwa Presiden AS & Tiongkok sudah mempersiapkan penandatanganan kesepakatan dagang tahap pertama kurang direspon pasar, karena diiringi penolakan Tiongkok untuk mengomentari tanggal pelaksanaan penandatanganan tersebut, dan masih adanya teguran dari Presiden Xi kepada Trump terkait masalah Taiwan. Pergerakan militer AS ke Iraq dan Suria untuk menekan militan Kataib Hezbollah di hari Minggu berpeluang menekan dolar AS melemah di awal sesi.  Fokus penggerak hari ini adalah laporan Chicago PMIAS jam 21:45 WIB, yang berpotensi menekan harga emas turun bila data dirilis lebih baik dari estimasi.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpotensi naik dalam jangka pendek menguji $1516 bila sentimen serangan militer AS di Iraq & Suria masih berlanjut melemahkan dolar AS. Sebaliknya data Chicago PMI bila dirilis lebih baik dari ekspektasi berpeluang menekan harga emas turun menguji $1500 – $1510.

MINYAK

Laporan turunnya jumlah kilang minyak AS yang beroperasi dan kekhawatiran serangan militer AS di Iraq dan Suria berpotensi memicu naik harga minyak dalam jangka pendek menguji resisten $62.00 – $62.50. Level support pada kisaran $60.80 – $61.20.

EURUSD

Bila pelemahan dolar AS berlanjut, EURUSD berpeluang naik dalam jangka pendek menguji resisten 1.1200 – 1.1250. Sebaliknya level Support pada kisaran 1.1150.

GBPUSD

GBPUSD berpotensi naik dalam jangka pendek menguji level resisten di 1.3153 – 1.3150 bila kekhawatiran hard Brexit mereda. Namun kekhawatiran Level support pada kisaran 1.3000 – 1.3030.

USDJPY

USDJPY berpotensi turun dalam jangka pendek menguji support 109.00 – 109.20 bila pelemahan dolar AS berlanjut. Level Resisten pada kisaran 109.70.

AUDUSD

Pelemahan dolar AS atas gerakan militer di Iraq dan Suria berpotensi membantu AUDUSD naik dalam jangka pendek menguji resisten 0.7000. Level support pada kisaran 0.6950 – 0.6960.

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.