Senin, 25 Januari 2021

  • Biden Effect Topang Penguatan Pasar Obligasi Indonesia. Seluruh indeks return obligasi baik konvensional maupun sukuk kompak ditutup menguat. ICBI dan INDOBeXG-TR naik +0,07%. Rata-rata harga SUN seri fixed rate pada akhir end of day tercatat sebesar +4,78bps atau sedikit lebih tinggi dari sesi siang yang naik +2,78bps.  Kurva yield PHEI-IGSYC bergerak mixed. Yield tenor 1 tahun dan 2 tahun tertekan naik cukup besar yakni +2,76bps dan +1,97bps. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder menurun dengan total volume Rp23,22tn (-14,40%) dan total frekuensi 1.362 transaksi (-21,09%). Senada dengan sesi siang, terbatasnya pergerakan pasar obligasi disebabkan oleh bervariasnya sentimen yang beredar. Sentimen positif datang dari aksi konkret Biden dalam upayanya melawan pandemi Covid-19 sesaat setelah pelantikannya sebagai Presiden AS. Sementara tekanan justru lebih berasal dari dalam negeri yakni terkait diperpanjangnya masa PPKM sebagian wilayah Jawa dan Bali. Today’s Outlook Pada perdagangan Senin, pasar obligasi diprediksi berlanjut sideways. Belum adanya sentimen lanjutan dominan, dan minimnya rilis data ekonomi penting menyebabkan pasar lebih digerakkan oleh faktor trading. Persepsi risiko terkait Covid-19 dalam negeri diperkirakan terus meningkat dengan semakin mendekatinya angka 1 juta kasus Covid yang terkonfirmasi, dan berpotensi mendorong investor lebih mengambil posisi jual.
  • Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) meningkat pada Desember 2020 didorong oleh komponen uang beredar dalam arti sempit (M1). Posisi M2 pada Desember 2020 sebesar Rp6.900,0 triliun atau meningkat 12,4% (yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 12,2% (yoy). Peningkatan tersebut didorong oleh M1 yang tumbuh sebesar 18,5% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 15,8% (yoy). Hal tersebut sejalan dengan peningkatan peredaran uang kartal di masyarakat dan giro Rupiah. Sementara itu, komponen uang kuasi melambat, dari 11,1% (yoy) menjadi 10,5% (yoy) pada Desember 2020. Pertumbuhan surat berharga selain saham juga terkontraksi lebih dalam menjadi -10,6% (yoy) dari -5,8% (yoy) pada November 2020. Berdasarkan faktor yang memengaruhi, peningkatan M2 pada Desember 2020 disebabkan oleh aktiva luar negeri bersih dan kenaikan ekspansi keuangan pemerintah. Hal ini tercermin dari pertumbuhan aktiva luar negeri bersih Desember 2020 sebesar 13,6% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan November 2020 sebesar 10,3% (yoy). Tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat juga meningkat, dari 66,5% (yoy) menjadi 66,9% (yoy) pada Desember 2020. Sementara itu, pertumbuhan kredit[1] terkontraksi lebih dalam menjadi -2,7% (yoy) dari -1,7% (yoy) pada November 2020.

FOREIGN OWNERSHIP EQUITY VS IHSG

  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari Jumat (25/01) ditutup melemah sebesar 1.66% ke level 6,307. 107 saham menguat, 396 saham terkoreksi dan 128 saham flat. Tercatat asing melakukan net sell pada saham PT. Telkom Indonesia sebesar Rp. 110 Miliar dan PT. Charoen Pokphand Tbk. Sebesar Rp. 62 Miliar. Investor asing mencatat net sell alias penjualan bersih Rp 39 Miliar di pasar reguler.

BONDS

  • Pada pedagangan hari Jumat (22/01), harga SBN diperdagangkan melemah di tenor 5, 10, dan 15 tahun dengan yield yang turun masing-masing 1 bps. Di tengah ketidakpastian ekonomi global serta panasnya hubungan AS-Cina dikarenakan Cina tidak dapat memenuhi target pembelian kepada AS membuat Investor asing mulai mengalihkan asetnya ke Surat Berharga AS yang dinilai aman (safe haven) sehingga mengakibatkan harga SBN tertekan.

ECONOMIC GLOBAL

  • Pada hari Jumat (22/01) Rupiah ditutup melemah ke level 14,035 dengan kurs acuan JISDOR di level 14,054 (prior : 14,039). Searah dengan pergerakan Rupiah harga SBN bergerak melemah di beberapa seri benchmark (5, 10, dan 15 tahun). Pelemahan Rupiah dan SBN tersebut dipengaruhi oleh laporan bahwa Cina gagal untuk memenuhi target pembelian produk AS pada perjanjian dagang fase 1 serta PPKM Jawa Bali yang diperpanjang s.d 8 Februari 2021 yang turut memberikan sentimen negatif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pada hari Jumat, mayoritas mata uang di kawasan Asia bergerak melemah terhadap Dolar AS seperti Yen Japan melemah 0.16%, Dolar Singapura melemah 0.36%, Baht Thailand melemah 0.23%, dan Won Korea melemah 0.54%.
  • Cina dilaporkan gagal memenuhi target pembelian produk Amerika Serikat yang ditetapkan pada perjanjian dagang fase 1. Data Peterson Institute for International Economics menyebutkan Cina mengimpor barang dari Amerika Serikat senilai USD 100 Miliar, atau hanya 58% dari target sebesar USD 173.1 Miliar. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina masih akan terus berlangsung sehingga menghambat prospek pemulihan ekonomi dunia. Investor global pun mulai mengalihkan asetnya ke Surat Berharga AS yang dinilai aman (Safe Haven) sehingga Dolar AS diprediksi masih akan menguat serta akan mempengaruhi pergerakan Rupiah dan SBN.

Peluang Pergerakan

EMAS

Harga emas berakhir turun $13.97 ke level $1855.49 di hari Jumat karena tertekan aksi beli dollar AS di tengah masih tingginya minat investor terhadap imbal hasil obligasi AS dan terus meningkatnya kasus baru covid-19 diwilayah AS. Pagi ini (25/1), harga emas berpotensi dibeli menguji level resisten $1885 karena Tiongkok, Inggris dan sejumlah negara lainnya yang kembali melakukan pembatasan aktivitas terhadap warganya dan ini bisa memicu kekhawatiran pemulihan ekonomi global. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia $1837 – $1885.

MINYAK

Harga minyak berakhir turun sebesar $1.03 ke level $51.97 di akhir sesi Jumat karena tertekan laporan cadangan minyak mentah AS yang menunjukkan peningkatan cadangan sebesar 4.4 juta barel, serta masih tingginya kasus baru covid-19 disejumlah negara. Aksi jual terhadap harga minyak berpotensi berlanjut menguji level support $51.45 selama harga tidak mampu menembus level resisten $52.65. Kenaikan lebih tinggi dari level resisten tersebut, harga minyak berpeluang dibeli menguji level resisten selanjutnya $53.15. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia $51.45 – $53.15.

EURUSD

EURUSD berakhir naik 3 pip ke level 1.2170 di sesi Jumat, di tengah upaya Bank Sentral Eropa memulihkan ekonomi Zona Euro dan  laporan indeks Manufaktur dan jasa Jerman serta Zona Euro yang dirilis alami kenaikan dari ekspektasi. Pagi ini (25/1) potensi beli EURUSD berpeluang masih berlanjut menargetkan resisten 1.2200 selama harga konsisten di atas level support 1.2155. Namun, penurunan lebih rendah dari support ini bisa memicu aksi jual EURUSD menguji level support selanjutnya 1.2135. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia 1.2135 – 1.2200.

GBPUSD

Memburuknya aktivitas manufaktur di Inggris serta masih tingginya kasus baru virus covid-19 telah memicu penurunan GBPUSD pada hari Jumat sebesar 51 pip dan ditutup di level 1.3681. Pagi ini (25/1), GBPUSD berpeluang dijual menargetkan level support 1.3640 selama tidak mampu menembus level resisten 1.3710. Penembusan level resisten tersebut, GBPUSD berpotensi dibeli menguji level resisten berikutnya 1.3735. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia 1.3640 – 1.3735.

USDJPY

Aksi jual yen Jepang karena dolar AS yang mampu menguat ditopang kekhawatiran kasus covid-19 yang tetap tinggi di AS telah memicu kenaikan USDJPY pada hari Jumat, berakhir naik 26 pip dan ditutup di level 103.74. Potensi beli ini masih bisa berlanjut pagi ini (25/1) menguji level resisten 104.10 selama harga bertahan di atas level support 103.65.Namun, penurunan lebih rendah dari level support tersebut USDJPY berpeluang dijual menguji level support selanjutnya di 103.45. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia 103.45 – 104.10.

AUDUSD

Terbebani oleh aksi beli dolar AS karena meningkatnya kasus covid-19 di AS dan melemahnya harga komoditas tembaga telah menekan turun AUDUSD sebesar 50 pip dan ditutup di level 0.7714. Aksi jual terhadap AUDUSD berpotensi masih berlanjut pagi ini (25/1) menargetkan level support 0.7670 selama harga tidak mampu menembus level resisten 0.7730. Namun, bila harga mampu naik lebih tinggi dari level resisten tersebut, AUDUSD berpotensi dibeli menguji level resisten berikutnya 0.7750. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia 0.7670 – 0.7750.

NIKKEI

Di tengah tingginya kasus covid-19 disejumlah negara dan optimisme terhadap stimulus  yang lebih besar dari pemerintah AS, indeks Nikkei ditutup mendatar pada hari Jumat di level 28645. Pagi ini (25/1) indeks Nikkei berpotensi di beli menargetkan level resisten 28860 selama harga tidak mampu menembus level support 28535. Namun, penurunan lebih rendah dari level support tersebut  indeks Nikkei berpeluang dijual menguji level support selanjutnya di 28365. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia 28365 – 28860.

HANGSENG

Indeks Hang Seng turun sebesar 351 poin ke level 29508 di akhir perdagangan Jumat karena terbebani oleh meningkatnya kasus baru Virus covid-19 di Tiongkok. Aksi jual terhadap Indeks Hang berpotensi  berlanjut pagi ini (25/1) menargetkan level support 28890 selama harga tidak mampu menembus level resisten 29670. Namun, bila harga mampu naik lebih tinggi dari level resisten tersebut, Indeks Hang berpotensi dibeli menguji level resisten berikutnya 30075. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia 29670 – 30075.

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.