Senin, 23 Agustus 2021

  • Seluruh Indeks Return Obligasi Ditutup Melemah. Seluruh indeks return obligasi Indonesia baik konvensional maupun sukuk ditutup melemah. Rata-rata harga SUN seri fixed rate turun sedikit lebih besar pada Jumat sore yakni –8,61bps. Sementara, sukuk negara turun –7,81bps. Yield obligasi negara tampak tertekan naik pada seluruh tenor (1-30 tahun) dengan rata-rata naik +1,99bps. Total volume transaksi obligasi di pasar sekunder turun –28,45% menjadi sebesar Rp10,99tn, dan total frekuensi turun –16,81% menjadi 1.603 transaksi. Koreksi harga pada SUN seri FR tampak semakin merata. Dari 47 seri yang beredar, hanya 4 seri yang tercatat naik, sementara selebihnya bergerak turun. Demikian pula dengan tekanan naik pada yield obligasi. Lebih tertekannya berbagai indikator kinerja pasar obligasi di sesi sore, diperkirakan disebabkan oleh Rupiah yang kian melemah ditengah bayang-bayang tapering The Fed. Sore ini, kurs spot Bloomberg ditutup di level Rp14.453/US$. Sementara itu, data transaksi berjalan Indonesia Q2-2021 yang defisit 0,8% dari PDB, atau meningkat dibanding Q1 yang defisit 0,4% dari PDB diperkirakan tidak terlalu direspon negatif oleh pasar, karena meskipun mengalami peningkatan namun masih relatif rendah. Today’s Outlook Harga obligasi diprediksi masih akan bergerak dalam rentang terbatas. Ditengah wait and see kelanjutan PPKM yang akan berakhir hari ini , sentimen dominan masih akan berasal dari isu tapering The Fed, perkembangan kasus Covid-19 di global dan Indonesia, dan kinerja Rupiah. Hari ini, juga akan dirilis data indeks manufaktur di Amerika, Inggris dan beberapa negara di Eropa. Namun demikian, rilis data tersebut diperkirakan tidak akan terlalu banyak mempengaruhi arah gerak pasar.
  • Pasar saham global bergerak negatif sepekan lalu. Indeks S&P500, Eurostoxx, dan Indeks Shanghai Composite masing-masing turun – 0.59%, -1.94%, dan -2.53%. Imbal hasil Obligasi AS turun 2 bps ke 1.25%. Pergerakan pasar didorong oleh kemungkinan tapering yang lebih cepat, rilis data penjualan ritel AS, serta kembali meningkatnya angka hospitalisasi Covid-19 di Amerika serikat. Faktor tersebut juga mempengaruhi pergerakan pasar domestik. Imbal hasil obligasi negara tenor acuan 10 tahun ditutup naik 0.50 bps ke 6.37%, IHSG turun -1.77% ke level 6,031, dan rupiah melemah ke level 14,453 di tengah rilis nota keuangan anggaran negara 2022 dan defisit transaksi berjalan (CAD) yang melebar.

ECONOMIC GLOBAL

  • Pada bulan Juli 2021, Jepang mencatatkan deflasi sebesar -0,3% YoY (cons: -0,4%, prior: -0,5%), lebih tinggi dibandingkan konsensus dan membaik dibandingkan dengan periode sebelumnya yang telah direvisi. Hal ini serupa dengan tren global, dimana kenaikan indeks harga didorong oleh kenaikan harga komoditas utamanya dari kelompok energi, meskipun kedepan risiko deflasi masih kuat seiring dengan perpanjangan kondisi darurat atas Covid-19 yang diperpanjang hingga 31 Agustus 2021. Indonesia mencatatkan defisit neraca pembayaran pada 2Q21 sebesar USD0,4 miliar. Hal ini utamanya disebabkan oleh defisit neraca transaksi berjalan sebesar USD2,2 miliar meskipun dari sisi neraca transaksi modal dan finansial mencatatkan surplus sebesar USD1,9 miliar. Sebagai informasi, investasi langsung dan investasi portofolio mencatatkan surplus masing-masing sebesar USD5,3 miliar dan USD4,4 miliar.
  • Pada sesi perdagangan US semalam, indeks saham DJ, S&P, dan Nasdaq bergerak menguat sebesar 0.65%, 0.81%, dan 1.19% menutup perdagangan mingguan lalu setelah sempat diperdagangkan melemah merespon sentimen Tapering pada Minutes of Meeting (MoM) mingau lalu. Jabatan 4 tahunan Jerome Powell akan berakhir pada bulan Februari 2022 mendatang dan mengharusnya presiden Joe Biden memutuskan akan memperpanjang masa periode Powell atau menggantinya dengan yang baru. Namun Menteri Keuangan, Janet Yellen, menyatakan bahwa dirinya mendukung penuh Jerome Powell untuk kembali memimpin The Fed di tengah kritikan karena dianggap tidak mampu menangani level inflasi. Tidak hanya itu, Biden juga harus mengganti Randal Quarles, Richard Clarida, dan mengisi satu kursi yang masih kosong pada anggota dewan The Fed.
  • Perdagangan pasar keuangan pasar Asia diperkirakan akan bergerak menguat menyusul penguatan pada pasar saham AS di tengah perhitungan risiko yang berkembang dalam beberapa terakhir dan menunggu Jackson Hole Symposium pada akhir minggu ini. Investor perkirakan bahwa pada simposium mendatang, the Fed akan menjabarkan rencana lebih detail terkait tapering pada pembelian surat berharga.

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.