Senin, 18 November 2019

  • Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan III 2019 terkendali dengan struktur yang sehat. ULN Indonesia pada akhir triwulan III 2019 tercatat sebesar 395,6 miliar dolar AS, terdiri dari ULN publik (pemerintah dan bank sentral) sebesar 197,1 miliar dolar AS, serta ULN swasta (termasuk BUMN) sebesar 198,5 miliar dolar AS. ULN Indonesia tersebut tumbuh 10,2% (yoy), relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang dipengaruhi oleh meningkatnya pertumbuhan ULN pemerintah di tengah perlambatan ULN swasta. Pertumbuhan ULN pemerintah meningkat sejalan dengan optimisme investor asing terhadap prospek perekonomian nasional. Posisi ULN pemerintah pada akhir triwulan III 2019 tercatat sebesar USD194,4 miliar atau tumbuh 10,3% (yoy), meningkat dari 9,1% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Sepanjang triwulan III 2019, investor nonresiden membukukan pembelian neto Surat Berharga Negara (SBN) domestik yang cukup besar sehingga mendorong kenaikan ULN Pemerintah. Perkembangan ini mencerminkan kepercayaan investor yang tinggi terhadap prospek perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global, serta imbal hasil investasi aset keuangan domestik yang menarik. Pengelolaan ULN pemerintah diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, dengan porsi terbesar pada beberapa sektor produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (19,0% dari total ULN Pemerintah), sektor konstruksi (16,5%), sektor jasa pendidikan (16,0%), sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (15,3%), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (13,7%). ULN swasta tumbuh melambat dari triwulan sebelumnya. Posisi ULN swasta pada akhir triwulan III 2019 tumbuh 10,4% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 11,3% (yoy). Perlambatan ULN swasta tersebut terutama disebabkan oleh penurunan ULN Bank. Secara sektoral, ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara (LGA), sektor industri pengolahan, serta sektor pertambangan dan penggalian. Pangsa ULN di keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 75,4%.  Struktur ULN Indonesia tetap sehat didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Kondisi tersebut tercermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan III 2019 sebesar 36,3%, membaik dibandingkan dengan rasio pada triwulan sebelumnya. Selain itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 88,1% dari total ULN. Dalam rangka menjaga struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus meningkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menyokong pembiayaan pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.
  • Neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2019 mencatat surplus 0,16 miliar dolar AS, membaik dari kondisi bulan sebelumnya yang mencatat defisit 0,16 miliar dolar AS. Surplus tersebut terutama didukung oleh kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas sejalan dengan kinerja ekspor nonmigas yang membaik. Ekspor nonmigas pada Oktober 2019 tumbuh -2,48% (yoy), lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh -2,70% (yoy), di tengah kondisi global yang semakin melambat. Sementara itu, defisit neraca perdagangan migas meningkat disebabkan oleh peningkatan impor migas yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor migas. Namun, secara kumulatif sampai dengan Oktober 2019, defisit neraca perdagangan migas membaik menjadi 7,27 miliar dolar AS, dibandingkan dengan 10,82 miliar dolar AS di periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tersebut sejalan dengan impor nonmigas yang menurun didukung kebijakan substitusi impor. Neraca perdagangan nonmigas pada Oktober 2019 tercatat surplus 0,99 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada bulan sebelumnya sebesar 0,60 miliar dolar AS. Perkembangan tersebut ditopang oleh meningkatnya kinerja ekspor nonmigas, terutama untuk komoditas bahan bakar mineral, bijih, kerak dan abu logam, alas kaki, serta kendaraan dan bagiannya. Sementara itu, kinerja impor nonmigas juga meningkat didorong oleh impor barang modal seperti mesin/peralatan listrik serta besi dan baja, sejalan dengan kinerja investasi. Di sisi lain, neraca perdagangan migas mencatat defisit sebesar 0,83 miliar dolar AS, sedikit meningkat dibandingkan dengan defisit pada bulan sebelumnya sebesar 0,76 miliar dolar AS. Peningkatan defisit tersebut didorong naiknya impor migas terutama dalam bentuk hasil minyak dan gas, sedangkan impor minyak mentah turun. Adapun kinerja ekspor migas juga meningkat didorong oleh naiknya ekspor minyak mentah dan gas. Bank Indonesia memandang surplus neraca perdagangan pada Oktober 2019 positif dalam memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk meningkatkan ketahanan eksternal, termasuk prospek kinerja neraca perdagangan.

EKONOMI GLOBAL

  • Komentar positif dari pejabat Gedung Putih, bahwa AS – Tiongkok sudah memasuki pembahasan akhir pada kesepakatan tahap satu mereka, dan kabar kementerian perdagangan Tiongkok melakukan komunikasi langsung via telepon dengan Sekretaris Keuangan dan Representasi Perdagangan AS di akhir pekan lalu menopang kembali optimisme kesepakatan dagang AS – Tiongkok. Tetapi pasar mengawasi hal-hal yang dapat mengganjal kelancaran penanda-tanganan kesepakatan tersebut, yaitu tuduhan AS bahwa adanya aksi teroris yang dilakukan Iran meningkatkan ketegangan di Timur Tengah, dan kelanjutan kerusuhan di Hong Kong yang sempat mendapat kecaman dari petinggi AS terhadap langkah yang diambil pemerintah Tiongkok di negara administrasi khusus tersebut.  Laporan Bundes Bank Jerman akan dirilis Senin (18/11) jam 18:00 WIB, berpotensi mendukung penguatan EURUSD bila dirilis bernada hawkish.Dan Data perumahan AS jam 22:00 WIB berpeluang menekan turun harga emas bila dirilis lebih baik dari estimasi.
    Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpeluang bergerak naik menguji level resisten di $1470 – $1474 bila kekhawatiran ketegangan Timur Tengah dan Hong Kong berlanjut. Tetapi berlanjutnya optimisme kesepakatan dagang AS – Tiongkok berpeluang menekan harga emas menguji level support di $1460 – $1464.

MINYAK

Meningkatnya ketegangan AS – Iran dan optimisme kesepakatan dagang AS – Tiongkok berpotensi angkat harga minyak naik menguji level resisten $58.20 – $58.50

EURUSD

EURUSD berpotensi digerakkan oleh laporan Bundes Bank Jerman, bila dirilis bernada hawkish berpeluang naik menguji level resisten 1.1070 – 1.1100. Sebaliknya level support pada kisaran 1.1000 – 1.1025.
GBPUSD

Optimisme Brexit berpeluang dukung GBPUSD naik menguji resisten 1.2975 – 1.3000,setelah kabar dukungan partai Brexit kepada partai konservatif akhir pekan lalu. Level support pada kisaran 1.2820 – 1.2865.
USDJPY

Berlanjutnya optimisme kesepakatan dagang berpeluang angkat USDJPY naik menguji resisten 108.90 – 109.50. Tetapi minat beli aset aman bila kekhawatiran ketegangan Timur Tengah dan Hong Kong berlanjut, mungkin menguji support 108.00 – 108.45.

AUDUSD

AUDUSD berpotensi naik signifikan menguji resisten 0.6840 – 0.6860 di tengah optimisme kesepakatan dagang AS – Tiongkok. Tetapi ketegangan Timur Tengah dan kerusuhan hong Kong berpeluang tekan turun menguji support 0.6750 – 0.6780.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Senin 18/11/2019 pukul 10.20WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.