Senin, 16 Desember 2019

  • Pada transaksi Jumat, ketiga indeks return obligasi Indonesia seri-seri konvensional bergerak terbatas. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) turun –0,01bps ke level 272,4488; INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) turun –0,01% ke level 267,1905; dan INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) naik +0,003% ke level 297,8850. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) didominasi kenaikan Rata-rata yield tenor 1-30tahun naik sebesar +1,45bps. Penurunan rata-rata yield hanya dialami kelompok tenor menengah (5-7tahun) sebesar –0,34bps. Sementara itu rata-rata yield tenor pendek (<5tahun) dan panjang (>7tahun) naik masing-masing sebesar +2,30bps dan +1,54bps. INDOBeXG-Effective Yield end of day Jumat kemarin berada di level 7,0527 (+0,0105poin). Harga kelompok SUN benchmark bergerak variatif dengan rata-rata menguat sebesar +3,02bps. Penguatan harga SUN acuan dicatatkan seri FR0078 dan FR0068 masing-masing sebesar +10,52bps dan +12,39bps. Namun demikian, harga SUN seri FR dan ORI secara keseluruhan masih dominan terkoreksi dengan rata-rata pada seluruh seri turun sebesar –3,72bps. INDOBeXG-Clean Price kemarin Jumat melemah 0,03% ke level 114,3442. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder terpantau menurun pada kedua sisinya dengan mencatatkan total volume transaksi sebesar Rp14,75tn (—0,62%) dalam 705 transaksi (-28,21%). Sementara itu pada transaksi kelompok seri benchmark, total volume transaksinya naik tipis +0,66% menjadi sebesar Rp3,79tn dalam 86 transaksi (-28,33%). Frekuensi transaksi SBN teraktif dicatatkan seri FR0076 sebanyak 105 kali, sedangkan total volume terbesar diraih FR0082 senilai Rp2,85tn. Pada obligasi korporasi, frekuensi teraktif sebanyak 16 transaksi diraih seri WSBP01CN2, sementara volume transaksi terbesar senilai Rp236miliar dicatatkan seri VOKS01A. Koreksi harga yang mewarnai mayoritas seri-seri obligasi negara mulai mereda pada transaksi Jumat kemarin. Pembatalan pemberlakuan tarif baru produk China oleh AS yang rencananya akan diberlakukan per tanggal 15 Desember diperkirakan menjadi faktor utama yang menahan koreksi harga yang semakin dalam. Selain itu, prediksi hasil Pemilu Inggris yang kembali memenangkan Boris Johnson sebagai PM Inggris turut memberikan tenaga bagi performa pasar pada akhir pekan kemarin. Dari dalam negeri, Rupiah di pasar Spot terpantau menguat hingga +43,0poin ke level Rp13.990/US$. Semua kondisi tersebut pada akhirnya berhasil mendorong CDS Indonesia tenor 5-tahun turun hingga –2,89bps. Performa pasar obligasi dalam negeri berpotensi menguat pada perdagangan hari ini terpicu oleh euforia lanjutan pembatalan kenaikan tarif produk China oleh AS yang sekiranya mulai berlaku pada hari Minggu kemarin (15/12). Selain faktor euforia hubungan dagang AS-China, pasar juga akan dibayangi rilis data beberapa data ekonomi global.
  • Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Oktober 2019 tetap terkendali. Posisi ULN Indonesia pada akhir Oktober 2019 tercatat sebesar 400,6 miliar dolar AS, terdiri dari ULN sektor publik (Pemerintah dan bank sentral) sebesar 202,0 miliar dolar AS dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar 198,6 miliar dolar AS. ULN Indonesia tersebut tumbuh 11,9% (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 10,4% (yoy), terutama dipengaruhi oleh transaksi penarikan neto ULN dan penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS sehingga utang dalam Rupiah tercatat lebih tinggi dalam denominasi dolar AS. Pertumbuhan ULN yang meningkat dipengaruhi oleh peningkatan pertumbuhan ULN Pemerintah di tengah perlambatan ULN swasta. Pertumbuhan ULN Pemerintah meningkat sejalan dengan keyakinan investor asing terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi keuangan domestik yang menarik. Posisi ULN Pemerintah pada akhir Oktober 2019 tercatat sebesar 199,2 miliar dolar AS atau tumbuh 13,6% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan bulan sebelumnya. Pertumbuhan ULN terutama dipengaruhi oleh peningkatan arus masuk neto asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan penerbitan global bonds pada Oktober 2019. Pengelolaan ULN Pemerintah diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, dengan porsi terbesar pada beberapa sektor produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (19,0% dari total ULN Pemerintah), sektor konstruksi (16,5%), sektor jasa pendidikan (16,1%), sektor administrasi Pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (15,3%), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (13,4%). ULN swasta tumbuh melambat dari bulan sebelumnya. Posisi ULN swasta pada akhir Oktober 2019 tumbuh 10,5% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 10,7% (yoy). Perkembangan ini disebabkan oleh pertumbuhan ULN Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) dan Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan (PBLK) yang melambat. Secara sektoral, ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan & asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas & udara (LGA), sektor industri pengolahan, dan sektor pertambangan & penggalian. Pangsa ULN di keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,6%. Struktur ULN Indonesia tetap sehat didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Kondisi tersebut tercermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada Oktober 2019 sebesar 35,8%, membaik dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya. Di samping itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 88,4% dari total ULN. Dalam rangka menjaga struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus meningkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menyokong pembiayaan pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

EKONOMI GLOBAL

  • Minat terhadap aset berisiko dan dolar AS berpeluang meningkat permintaanya seiring tercapainya kesepakatan dagang antara AS dengan Tiongkok untuk fase pertama yang diperkuat oleh pernyataan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer pada hari Minggu bahwa kesepakatan tersebut “telah tuntas sepenuhnya.” Data ekonomi penting yang perlu diperhatikan hari ini adalah data produksi industri dan investasi aset tetap Tiongkok pukul 9:00 WIB, data indeks manufaktur dan jasa dari Perancis pukul 15:15 WIB, Jerman pukul 15:30 zona Euro pukul 16:00 WIB, Inggris pukul 16:30 WIB, dan Amerika Serikat pukul 21:45 WIB sebelum ditutup hasil stress test Bank of England pukul 23:00 WIB.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpeluang untuk bergerak turun dalam jangka pendek karena sentimen tercapainya kesepakatan dagang antara AS dengan Tiongkok untuk menguji level support di $1470 – $1465. Namun, harga emas berpeluang untuk bergerak naik jika data indeks manufaktur dari sejumlah negara maju dirilis pesimis pada hari ini untuk menguji level resisten di $1478 – $1483.

MINYAK

Kenaikan aktivitas rig AS dalam laporan Baker Hughes di akhir pekan lalu berpotensi akan menjadi beban untuk pergerakan harga minyak dalam jangka pendek untuk menguji level support di $59.40 – $59.00. Namun, jika dominannya sentimen tercapainya kesepakatan dagang AS-Tiongkok berpeluang menopang kenaikan harga minyak untuk menguji level resisten di $60.20 – $60.70.

EURUSD

Sentimen menguatnya dolar AS karena tercapainya kesepakatan dagang AS-Tiongkok berpeluang menjadi beban untuk pergerakan EURUSD dalam jangka pendek untuk menguji level support di 1.1100 – 1.1060. Jika bergerak naik, level resisten terlihat di 1.1150 – 1.1190. Hari ini pasar akan mencari katalis dari data indeks manufaktur dan jasa dari Perancis, Jerman dan zona Euro.

GBPUSD

GBPUSD berpeluang bergerak turun dalam jangka pendek pada outlook profit taking trader pasca lonjakan di hari Jumat lalu serta antisipasi pasar terhadap kebijakan partai Konservatif dalam menyikapi masalah Brexit untuk menguji level support di 1.3320 – 1.3270. GBPUSD berpeluang bergerak naik jika data indeks manufaktur dan jasa Inggris dirilis lebih tinggi dari estimasi untuk menguji level resisten di 1.3380 – 1.3430.

USDJPY

USDJPY berpeluang bergerak naik dalam jangka pendek untuk menguji level resisten di 109.70 – 110.20 karena indeks manufaktur Jepang yang masih di area kontraksi serta sentimen tercapainya kesepakatan dagang AS-Tiongkok. USDJPY berpotensi bergerak turun untuk menguji support di 109.10 – 108.60 jika data aktivitas industri Jepang yang dirilis pukul 11:30 WIB hasilnya lebih baik dari estimasi.

AUDUSD

AUDUSD berpeluang turun dalam jangka pendek seiring pesimisnya data indeks manufaktur dan jasa Australia serta menguatnya dolar AS untuk menguji level support di 0.6840 – 0.6800. Namun, AUDUSD berpeluang bergerak naik jika sentimen tercapainya kesepakatan dagang AS-Tiongkok mendominasi pasar untuk menguji level resisten di 0.6900 – 0.6940.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Senin, 16/12/2019 pukul 10.12 WIB :

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.