Senin, 15 Juni 2020

  • End of Day Perdagangan Jumat, ICBI Melemah –0,23%.Indeks return harian obligasi Indonesia, ICBI, ditutup melemah –0,23% terdorong indeks return obligasi negara yang turun –0,25%. Mayoritas seri-seri SUN fixed rate didominasi pelemahan harga dengan rata-rata turun sebesar –26,58bps.  Tekanan naik yield melanda ketiga kelompok tenor dengan kenaikan rata-rata tertinggi dicatatkan tenor menengah. Total volume transaksi obligasi tercatat sebesar Rp12.80tn (-21,73%) dan total frekuensi 1.891 transaksi (-64,43%). Meredanya optimisme investor terhadap proses pemulihan ekonomi dunia dikarenakan terus melonjaknya angka kasus terinfeksi Covid-19 menjadi faktor penahan laju penguatan pasar obligasi. Tensi hubungan AS-China yang juga terus meningkat dikhawatirkan semakin mengganggu proses pemulihan ekonomi tersebut. Rupiah di pasar spot ditutup di level Rp14.133/US$ atau sedikit menguat dari sesi siang yang di level Rp14.204/US$. Performa pasar obligasi pada perdagangan Senin berpotensi melemah sejalan dengan belum adanya sentimen lanjutan yang positif. Proses pemulihan ekonomi baik secara global maupun di Indonesia masih akan menjadi concern investor terlebih hubungan AS-China yang belum juga akur. Sebagai informasi, optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi Indonesia semakin menurun, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen bulan Mei yang sebesar 77,8 dari 84,8.
  • Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir April 2020 terkendali dengan struktur yang sehat. ULN Indonesia pada akhir April 2020 tercatat sebesar 400,2 miliar dolar AS, terdiri dari ULN sektor publik (Pemerintah dan bank sentral) sebesar 192,4 miliar dolar AS dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar 207,8 miliar dolar AS. ULN Indonesia tersebut tumbuh 2,9% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2020 sebesar 0,6% (yoy). Hal itu disebabkan oleh peningkatan ULN publik ditengah perlambatan pertumbuhan ULN swasta. ULN Pemerintah meningkat, setelah pada bulan sebelumnya mengalami kontraksi. Posisi ULN pemerintah pada akhir April 2020 tercatat sebesar 189,7 miliar dolar AS atau tumbuh 1,6% (yoy), berbalik dari kondisi bulan sebelumnya yang terkontraksi 3,6% (yoy). Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh arus modal masuk pada Surat Berharga Negara (SBN), dan penerbitan Global Bonds Pemerintah sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan pembiayaan, termasuk dalam rangka penanganan wabah COVID-19. Pengelolaan ULN Pemerintah dilakukan secara hati-hati dan akuntabel untuk mendukung belanja prioritas yang saat ini dititikberatkan pada upaya penanganan wabah COVID-19 dan stimulus ekonomi. Sektor prioritas tersebut mencakup sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (23,3% dari total ULN Pemerintah), sektor konstruksi (16,4%), sektor jasa pendidikan (16,2%), sektor jasa keuangan dan asuransi (12,8%), dan sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (11,6%). Tren perlambatan ULN swasta masih berlanjut. ULN swasta pada akhir April 2020 tumbuh sebesar 4,2% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 4,7% (yoy). Perkembangan ini disebabkan oleh makin dalamnya kontraksi pertumbuhan ULN lembaga keuangan di tengah stabilnya pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan. Pada akhir April 2020, ULN lembaga keuangan terkontraksi 4,8% (yoy), lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi bulan sebelumnya 2,4% (yoy). Sementara itu, ULN perusahaan bukan lembaga keuangan sedikit meningkat dari 7,0% (yoy) pada Maret 2020 menjadi 7,3% (yoy) pada April 2020. Beberapa sektor dengan pangsa ULN terbesar, yakni mencapai 77,4% dari total ULN swasta adalah sektor jasa keuangan & asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas & udara dingin (LGA), sektor pertambangan & penggalian, dan sektor industri pengolahan. Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir April 2020 sebesar 36,5%, sedikit meningkat dibandingkan rasio pada bulan sebelumnya sebesar 34,6%. Di samping itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 88,9% dari total ULN. Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus meningkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Peran ULN juga terus dioptimalkan dalam menyokong pembiayaan pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

EKONOMI GLOBAL

  • Dolar AS masih berpeluang melemah di awal sesi Senin (15/6) di tengah laporan meningkatnya pasien baru wabah Korona di AS selama akhir pekan, memicu kekhawatiran akan menghambat kembali upaya pemulihan ekonomi AS. Walau Federal Reserve dan pemerintah AS telah mengupayakan dana bantuan dan stimulus untuk menopang ekonomi, bila pelaksanaan pemulihan ekonomi tersebut terhambat oleh kembali meningkatnya jumlah pasien baru wabah Korona yang meningkat di AS. Sama hal nya dengan peningkatan jumlah pasien baru di negara-negara lain di dunia yang baru melepas pembatasan sosial maupun lockdown, memicu kekhawatiran pasar terhadap aset berisiko, dan berpotensi meningkatnya minat pada aset safe haven. Fokus pasar pada malam nanti adalah Empire State Manufacturing Indeks AS dan pidato dari anggota FOMC Kaplan yang berpotensi menggerakkan dolar AS.

Potensi Pergerakan

 Emas
Harga emas berpeluang naik bila kekhawatiran pasar berlanjut dan melanjutkan minat beli pada aset aman. Harga emas berpotensi menguji resisten $1743 – $1755. Sebaliknya bila minat pasar terhadap aset berisiko kembali mendominasi, harga emas berpeluang melemah menguji support $1712 – 1$1720.

Minyak
Harga minyak masih dibayangi kekhawatiran peningkatan pasien baru wabah Korona akan kembali mengurangi permintaan untuk produk minyak, dan kekhawatiran peningkatan produksi dari OPEC+ di bulan Juli mendatang, berpeluang menekan harga turun menguji support $30.50 – $33.50. Level resisten pada kisaran $36.60 – $37.70.

EURUSD
EURUSD berpotensi naik menguji resisten 1.1275 – 1.1340 bila pelemahan dolar AS di tengah meningkatnya penderita wabah Korona dan demonstrasi rasial di AS berlanjut. Level support pada kisaran 1.1150 – 1.1200. Pasar menantikan data Trade Balance Zona Euro jam 16:00 WIB.

GBPUSD
GBPUSD berpeluang naik menguji resisten 1.2550 – 1.2650 bila pelemahan dolar AS di tengah meningkatnya penderita wabah Korona dan demonstrasi rasial di AS berlanjut. Sebaliknya bila aksi demontrasi rasial di Inggris pada akhir pekan lalu berlanjut, GBPUSD berpeluang melemah menguji support 1.2350 – 1.2425.

USDJPY
USDJPY berpeluang turun menguji support 106.50 – 107.50 bila minat terhadap aset aman di tengah  pelemahan dolar AS di tengah meningkatnya penderita wabah Korona dan demonstrasi rasial di AS berlanjut. Level resisten pada kisaran 107.85 – 108.25.

AUDUSD
AUDUSD berpeluang naik menguji resisten 0.6875 – 0.6915  bila pelemahan dolar AS di tengah meningkatnya penderita wabah Korona dan demonstrasi rasial di AS berlanjut, di tengah data ekonomi Tiongkok yang lebih buruk dari ekspektasi. Level support pada kisaran 0.6710 – 0.6800.

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa TengahPerhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.