Senin, 14 Oktober 2019

  • Kinerja sektor Industri Pengolahan pada triwulan III-2019 terindikasi ekspansif meski dengan laju yang lebih lambat dibandingkan triwulan lalu. Hal tersebut tercermin dari Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia sebesar 52,04% pada triwulan III-2019, sedikit lebih rendah daripada 52,66% pada triwulan II-2019. Fase ekspansi terjadi pada hampir seluruh sub sektor, namun terpantau adanya perlambatan pada sub sektor Makanan, Minuman & Tembakau serta Tekstil, Barang dari Kulit & Alas Kaki. Di sisi lain, kontraksi yang terjadi pada Barang Kayu dan Hasil Hutan Lainnya sejak triwulan lalu terlihat masih berlanjut pada triwulan III-2019. Perlambatan ekspansi kegiatan usaha diprakirakan akan terus berlanjut di triwulan IV 2019. Hal tersebut juga tercermin pada prakiraan PMI – BI triwulan IV-2019 sebesar 51,90% yang lebih rendah daripada triwulan sebelumnya. Perlambatan ekspansi usaha diprakirakan terjadi pada beberapa sub sektor seperti Industri Tekstil, Barang Kulit dan Alas Kaki; Industri Kertas dan Barang Cetakan; Industri Pupuk, Kimia dan Barang dari Karet serta Industri Semen dan Barang Galian Non Logam.
  • Pasar obligasi Indonesia menguat tipis pada perdagangan Jumat. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) naik +0,09% ke level 267,7825; INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) juga naik sebesar +0,09% ke level 262,7116 serta INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) naik sebesar +0,06% ke level 291,9113. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) juga terlihat bullish dengan rata-rata yield pada tenor 1-30 tahun turun sebesar –0,86bps. Penurunan rata-rata yield pada masing-masing kelompok tenor tercatat sebesar: pendek (<5tahun) –1,26bps; menengah (5-7tahun) –1,03bps; dan panjang (>7tahun) –0,76bps. Kinerja INDOBeXG-Effective Yield terpantau turun sebesar –0,0139poin ke level 7,1579. Harga kelompok seri SUN benchmark kompak menguat dengan rata-rata sebesar +20,83bps. Penguatan harga tertinggi dicatatkan FR0078 yakni sebesar +35,20bps sedangkan penguatan terendah dicatatkan FR0077 sebesar +15,00bps. Secara keseluruhan, harga SUN seri FR dan ORI juga dominan menguat dengan rata-rata perubahan harga naik +6,90bps. INDOBeXG-Clean Price kemarin Jumat ditutup menguat +0,08% ke level 113,8740. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder kemarin Jumat meningkat. Total frekuensi naik menjadi 798 transaksi (+11,14%) sedangkan total volume menjadi sebesar Rp14,72tn (+61,66%). Peningkatan tersebut lebih disebabkan oleh obligasi Negara tenor panjang dimana frekuensinya naik 52 transaksi dan volumenya meningkat Rp4,38tn dalam sehari. FR0082 menjadi SBN teraktif dengan 102 transaksi sedangkan FR0078 mencatatkan total volume terbesar senilai Rp2,59tn. Dari korporasi, seri PPLN03BCN5 menjadi yang teraktif dengan 21 transaksi sedangkan seri SMLPPI01B mencatat volume terbesar senilai Rp332miliar. Menutup perdagangan Jumat kemarin, pasar obligasi dalam negeri sanggup mencatatkan penguatan meski masih secara terbatas. Tercermin dari turunnya imbal hasil obligasi negara mayoritas tenor dalam rentang perubahan +0,16bps hingga –1,53bps sehingga turut mendorong tipisnya pergerakan indeks return obligasi konvensional maupun sukuk negara. Tidak hanya di pasar surat utang, penguatan juga terjadi pada pasar saham Indonesia yang terlihat dari kenaikan IHSG sebesar +82,16poin ke level 6.105,80. Sentimen positif diperkirakan berasal dari meningkatnya euforia positif investor paska lancarnya negosiasi dagang AS-China hari pertama di Washington. Namun terbatasnya penguatan pasar diprediksi karena pelaku pasar masih menunggu hasil akhir negosiasi tersebut. Optimisme awal negosiasi damai dagang pada akhirnya berdampak pada penurunan persepsi risiko investor global terhadap pasar domestik yang tercermin dari turunnya Credit Default Swap Indonesia tenor 5-tahun sebesar –2,19bps ke level 89,13. Pada perdagangan awal pekan ketiga Oktober ini, pasar obligasi Indonesia berpotensi meneruskan penguatan yang terjadi sejak akhir pekan lalu. Katalis positif diperkirakan berasal dari terciptanya hasil kesepakatan damai dagang AS-China fase pertama dimana AS akan menangguhkan kenaikan tarif yang sebelumnya akan berlaku 15 Oktober sedangkan China bersedia membeli produk pertanian AS sekitar US$40-50miliar. Pada pagi ini, kurs spot Rupiah dibuka menguat ke level Rp14.135/US$ (Bloomberg).

EKONOMI GLOBAL

  • Permintaan terhadap aset berisiko berpeluang meningkat dalam jangka pendek seiring pasar yang terlihat menyambut baik hasil pertemuan antara AS dengan Tiongkok pada akhir pekan lalu yang menghasilkan kesepakatan untuk fase pertama. Selanjutnya pada hari ini pasar akan menantikan hasil data neraca perdagangan Tiongkok, produksi industri zona euro serta pidato anggota MPC Jon Cunliffe.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpeluang untuk bergerak turun dalam jangka pendek di tengah meningkatnya permintaan terhadap aset berisiko dibalik euforia tercapainya kesepakatan dagang fase pertama antara AS dengan Tiongkok pada akhir pekan lalu untuk menguji level support di $1479 – $1474. Sementara itu jika bergerak naik, level resisten berada di $1489 – $1494.

Minyak

Harga minyak berpeluang untuk bergerak turun dalam jangka pendek jika pasar mempertimbangkan kenaikan aktivitas rig AS dalam laporan oleh Baker Hughes pada akhir pekan lalu untuk menguji level support di $54.30 – $53.80. Namun, harga minyak berpeluang untuk bergerak naik menguji level resisten di $55.10 – $55.60 jika pasar menyambut baik membaiknya hubungan dagang antara AS dengan Tiongkok serta ketegangan terbaru di Timur Tengah pasca ditembaknya kapal tanker miliki Iran.

EURUSD

EURUSD berpootensi bergerak naik dalam jangka pendek di tengah sentimen risk appetite untuk menguju level resisten di 1.1070 – 1.1120. Namun, EURUSD berpeluang untuk bergerak turun menguji support di 1.0990 – 1.0940 jika data produksi industri zona Euro yang dirilis pukul 16:00 WIB hasilnya lebih buruk dari estimasi.

GBPUSD

GBPUSD berpeluang untuk bergerak turun dalam jangka pendek untuk menguji level support di 1.2580 – 1.2530 setelah adanya pernyataan baik dari pihak Uni Eropa dan Inggris yang mengatakan bahwa kesepakatan untuk soft Brexit masih panjang dan masih banyak pekerjaan yang harus tuntaskan. Namun, GBPUSD berpeluang untuk bergerak naik menguji level resisten di 1.2660 – 1.2710 jika anggota MPC Cunliffe dalam pidatonya pada pukul 19:10 memberikan pandangan yang optimis terhadap ekonomi Inggris.

USDJPY

Sentimen riks appetite pasca tercapainya kesepakatan dagang fase pertama antara AS dengan Tiongkok berpeluang memicu kenaikan USDJPY dalam jangka pendek untuk menguji level resisten di 108.80 – 109.30 Sebaliknya jika bergerak turun, level support terlihat di 108.20 – 107.70.

AUDUSD

Euforia pasar terkait membaiknya hubungan dagang antara AS dengan Tiongkok pasca tercapainya kesepakatan dagang fase pertama berpeluang menopang kenaikan AUDUSD dalam jangka pendek untuk menguji level resisten di 0.6820 – 0.6860. Namun, AUDUSD berpeluang bergerak turun untuk menguji level support di 0.6760 – 0.6720 jika data neraca perdagangan Tiongkok dirilis pesimis.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Senin 14/10/2019 pukul 10.35 WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.