Senin, 10 Februari 2020

  • Survei Konsumen Bank Indonesia pada Januari 2020 mengindikasikan optimisme konsumen tetap terjaga. Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2020 yang tetap berada pada level optimis (di atas 100) yakni sebesar 121,7, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan IKK pada Desember 2019 sebesar 126,4. Optimisme konsumen yang tetap terjaga tersebut terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran. Persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi terhadap kondisi ekonomi ke depan yang tetap baik menopang optimisme konsumen tetap terjaga. Konsumen memandang positif kondisi ekonomi saat ini terutama dari kondisi penghasilan dan pembelian barang tahan lama. Di samping itu, konsumen tetap berekspektasi positif terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha pada 6 bulan mendatang. Konsumen memprakirakan tekanan kenaikan harga pada 12 bulan mendatang (Januari 2021) meningkat. Hal ini terindikasi dari Indeks Ekspektasi Harga 12 bulan yang akan datang meningkat dibandingkan dengan indeks pada bulan sebelumnya. Peningkatan tekanan harga tersebut dipengaruhi oleh permintaan yang diprakirakan lebih tinggi pada tahun depan.
  • Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2020 tercatat sebesar 131,7 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir Desember 2019 sebesar 129,2 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,8 bulan impor atau 7,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Peningkatan cadangan devisa pada Januari 2020 terutama didorong oleh penerbitan global bond pemerintah, penerimaan devisa migas, dan penerimaan valas lainnya. Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik.
  • Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan IV 2019 mencatat surplus sehingga menopang ketahanan eksternal Indonesia. NPI pada triwulan IV 2019 mencatat surplus sebesar 4,3 miliar dolar AS, membaik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mengalami defisit sebesar 46 juta dolar AS. Surplus NPI tersebut terutama ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat serta defisit transaksi berjalan yang tetap terkendali. Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir Desember 2019 mencapai 129,2 miliar dolar AS, meningkat dari 124,3 miliar dolar AS pada akhir September 2019. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,6 bulan impor atau 7,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor. Surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan IV 2019 meningkat yang mencerminkan optimisme terhadap prospek perekonomian domestik. Surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan IV 2019 tercatat sebesar USD12,4 miliar, lebih tinggi dari surplus pada triwulan sebelumnya sebesar USD7,4 miliar. Besarnya surplus tersebut terutama didorong oleh tingginya arus masuk investasi portofolio yang bersumber dari penerbitan obligasi global baik pemerintah maupun korporasi. Selain itu, investasi lainnya juga mencatat surplus sejalan dengan adanya penarikan simpanan bank di luar negeri oleh pelaku usaha domestik dan bertambahnya penempatan dana nonresiden di bank dalam negeri. Hal tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian domestik dan imbal hasil aset keuangan domestik yang tetap menarik. Defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan IV 2019 tetap terkendali, sehingga turut menopang ketahanan sektor eksternal Indonesia. Defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan IV 2019 tercatat sebesar 8,1 miliar dolar AS (2,84% dari PDB), ditopang oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang meningkat. Meningkatnya surplus neraca perdagangan nonmigas terutama dipengaruhi oleh penurunan impor nonmigas di tengah kinerja ekspor nonmigas yang belum kuat. Di sisi lain, defisit neraca perdagangan migas meningkat sejalan dengan naiknya impor minyak untuk memenuhi tingginya permintaan di akhir tahun. Perkembangan NPI secara keseluruhan tahun 2019 menunjukkan ketahanan sektor eksternal yang tetap kuat. NPI tahun 2019 mencatat surplus 4,7 miliar dolar AS, membaik dari tahun sebelumnya yang mengalami defisit sebesar 7,1 miliar dolar AS. Perkembangan tersebut didorong oleh defisit neraca transaksi berjalan yang membaik serta surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat signifikan. Defisit neraca transaksi berjalan pada 2019 tercatat sebesar 30,4 miliar dolar AS atau 2,72% dari PDB, membaik dibandingkan dengan defisit pada tahun sebelumnya sebesar 2,94% dari PDB. Perkembangan tersebut terutama ditopang oleh neraca perdagangan barang yang mencatat surplus, berbeda dibandingkan tahun sebelumnya yang mengalami defisit. Neraca perdagangan barang yang mencatat surplus dipengaruhi oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang meningkat serta defisit neraca perdagangan migas yang menurun. Hal tersebut dipengaruhi oleh turunnya impor minyak sejalan dengan kebijakan pengendalian impor seperti program B20. Kinerja NPI yang membaik juga ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat signifikan menjadi sebesar 36,3 miliar dolar AS dari 25,2 miliar dolar AS pada 2018, ditopang oleh aliran masuk modal berjangka panjang di tengah berlanjutnya ketidakpastian pasar keuangan global. Ke depan, kinerja NPI diprakirakan tetap baik sehingga dapat menopang ketahanan sektor eksternal. Prospek NPI tersebut didukung defisit transaksi berjalan tahun 2020 yang diprakirakan tetap terkendali dalam kisaran 2,5%-3,0% PDB. Prospek aliran masuk modal asing diperkirakan juga tetap besar didorong persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi Indonesia yang tetap terjaga. Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta senantiasa memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait guna meningkatkan ketahanan sektor eksternal, termasuk mendorong peningkatan Penanaman Modal Asing (PMA).
  • Pasar obligasi domestik menunjukkan kinerja positif pada perdagangan Jumat. Mayoritas harga SUN seri FR dan ORI menguat dengan rata -rata pada 44 serinya naik sebesar +18,91bps. Kurva yield obligasi negara dan korporasi turut didominasi penurunan yield. Hanya tenor pendek (<5tahun) yang mencatatkan kenaikan rata-rata yield. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder turun dari total volume yakni menjadi Rp15,61tn (-1,16%) sedangkan total frekuensinya naik menjadi 1.415 transaksi (+18,71%). Katalis di pasar SBN kemarin Jumat diperkirakan berkat respon positif pasar terhadap kepastian China yang menurunkan tarif impor produk AS per 14 Februari sebagai implementasi kesepakatan damai dagang fase pertama. Dari domestik, rilis cadangan devisa Januari 2020 yang meningkat melebihi prediksi konsensus yakni sebesar $131,7miliar turut menopang penguatan pasar. Mengawali pekan kedua Februari ini, pasar obligasi Indonesia berpotensi masih menguat namun dalam kecenderungan terbatas. Pelaku pasar dalam negeri diperkirakan akan menunggu bagaimana Current Account Deficit (CAD) Indonesia tahun 2019 yang dirilis Senin ini. Selain itu, masih berlanjutnya penyebaran wabah virus Corona diperkirakan juga menjadi concer.

EKONOMI GLOBAL

  • Meningkatnya korban karena wabah Korona Wuhan, Tiongkok, telah mencatat 908 jiwa di awal pekan ini. Jumlah yang lebih banyak dari korban SARS beberapa tahun lalu. Hal ini memicu kekhawatiran pasar akan terbambatnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok sebagai negara perekonomian terbesar ke-2 dunia, dan juga perekonoman negara-negara rekan kerjasamanya. Kekhawatiran pasar berpeluang meningkatkan minat pasar terhadap aset-aset aman seperti Emas dan yen Jepang, dan mungkin melemahkan harga minyak yang dikhawatirkan akan menurunnya tingkat permintaan minyak mnetah di tengah perlambatan ekonomi global. Pagi ini, data CPI tiongkok tercatat naik menjadi 5.4%,lebih tinggi dari ekspektasi 4.9%. memberikan angin segar bagi pelaku pasar, bahwa perekonomian Tiongkok belum tertekan secara siggnifikan oleh wabah korona. Fokus pasar pekan ini juga pada pidato dari para pejabat bank sentral dunia, diantaranya ketua The Fed, Jerome Powell, ketua ECB, Christine Lagarde, dan ketua BoC serta RBA, Stephen poloz dan Phllip Lowe.

Potensi Pergerakan

EMAS
Harga emas berpeluang bergerak naik dalam jangka pendek di tengah masih tingginya kekhawatiran wabah Korona terhadap pertumbuhan ekonomi menguji level resisten di $1580 – $1586. Level support di kisaran $1560 – $1568.

MINYAK

Kekhawatiran turunnya permintaan minyak mentah akibat perlambatan ekonomi karena wabah Korona berpotensi menekan turun harga minyak untuk jangka pendek, menguji support $49.00 – %49.30. level resisten pada kisaran $50.50 – $51.00.

EURUSD

Turunnya minat pasar terhadap aset-aset berisiko, berpeluang menekan EURUSD turun untuk jangka pendek menguji support 1.0900 – 1.0925. Level resisten pada kisaran 1.0970 – 1.1000.

GBPUSD

Masih adanya kekhawatiran tertundanya kesepakatan Zona Euro – Inggris pasca Brexit hingga tahun depan, serta penyebaran wabah Korona, berpeluang menekan turun GBPUSD dalam jangka pendek menguji support 1.2825 – 1.2865.Resisen pada kisaran 1.2920 – 1.2950.

USDJPY

USDJPY berpeluan turun untuk jangka pendek, menguji support 109.00 – 109.30 di tengah naiknya minat pasar terhadap aset aman karena penyebaran wabah korona yang makin ganas. Resisten pada kisaran 110.00 – 110.30.

AUDUSD

Naiknya data CPI Tiongkok memberikan angin segar bagi AUDUSD untuk jangka pendek, berpeluang naik menguji resisten pada kisaran 0.6700 – 0.6730. Level support pada kisaran 0.6600 – 0.6650.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Senin 10/02/2020 pukul 10.48 WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.