Senin, 09 Desember 2019

  • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) menguat +0,09% ke level 273,1916. Begitu pula dengan INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) yang menguat +0,10% ke level 268,0110 dan kinerja INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) yang naik +0,05% ke level 297,8996. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) dominan Rata-rata yield pada ketiga kelompok tenor masing-masing sebesar: pendek (<5tahun) turun –1,48bps; menengah (5-7tahun) turun –0,39bps; dan panjang (>7tahun) naik +0,55bps. Dengan demikian, INDOBeXG-Effective Yield pada end of day Jumat turun sebesar –0,0164poin ke level 6,9765. Mayoritas harga seri SUN benchmark menguat. Hanya harga FR0078 yang terkoreksi sebesar –8,17bps sedangkan ketiga seri lainnya menguat dalam kisaran +0,92bps hingga +25,61bps. Harga SUN seri FR dan ORI juga didominasi penguatan dengan rata-rata perubahan pada 44 serinya naik sebesar +7,02bps. Oleh karena itu, INDOBeXG-Clean Price kemarin Jumat menguat sebesar +0,08% ke level 114,8691. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder terpantau meningkat tipis dari sisi volume yakni sebesar +0,33% menjadi Rp12,74tn. Sementara itu total frekuensi tercatat turun sebesar –7,72% menjadi 693 transaksi. Dari sisi benchmark, frekuensi turun sebesar –3,85% menjadi 100 transaksi dan volumenya turun sebesar –10,19% menjadi Rp3,05tn. FR0076 menjadi seri SBN teraktif dengan 121 transaksi dan seri PBS014 mencatatkan volume terbesar senilai Rp1,38tn. Pada obligasi korporasi, seri BKSW01CN2 menjadi yang teraktif dengan 15 transaksi. Adapun seri BBTN03ACN1 menjadi seri yang ditransaksikan dengan total volume terbesar senilai Rp400miliar. Kinerja positif berhasil dicatatkan pasar obligasi dalam negeri pada perdagangan Jumat kemarin. Faktor positif penggerak pasar diperkirakan berasal dari internal yakni cadangan devisa posisi akhir November yang cenderung stabil (dari US$126,7miliar menjadi US$126,6miliar) serta berlanjutnya tren apresiasi Rupiah terhadap US Dollar dimana pada perdagangan Jumat menguat 30poin ke level Rp14.038/US$ (Bloomberg). Sementara itu dari global, dinamika penyelesaian hubungan dagang AS-China yang masih berlangsung turut membayangi pergerakan pasar SBN. Sejalan dengan pasar surat utang, kinerja IHSG turut menguat sebesar +0,56% ke level 6.186,87. Pasar obligasi Indonesia berpotensi masih melanjutkan tren penguatan dengan kecenderungan terbatas. Euforia positif investor terhadap indikator ekonomi domestik seperti cadev dan Rupiah, serta turut membaiknya data manufaktur China dan tenaga kerja Amerika diharapkan dapat menjadi katalis positif pasar hari ini. Pada pagi ini, kurs spot Rupiah dibuka menguat ke level Rp14.005/US$. Namun, pergerakan pasar diprediksi masih akan dibatasi oleh dinamika hubungan dagang AS-China menjelang keputusan pemberlakuan tarif bea masuk untuk China pada 15 Desember mendatang.
  • Posisi cadangan devisa Indonesia tercatat 126,6 miliar dolar AS pada akhir November 2019, tidak banyak berubah dibandingkan dengan posisi pada akhir Oktober 2019 sebesar 126,7 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,5 bulan impor atau 7,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Perkembangan cadangan devisa pada November 2019 terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa migas, penerimaan valas lainnya, dan pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai dengan didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik.
  • Survei Konsumen Bank Indonesia pada November 2019 mengindikasikan optimisme konsumen menguat. Hal ini terindikasi dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) November 2019 yang meningkat menjadi 124,2, dari IKK pada bulan sebelumnya sebesar 118,4. Peningkatan optimisme konsumen terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran. Optimisme konsumen yang menguat didorong oleh membaiknya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan. Persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini membaik didorong oleh persepsi yang lebih baik terhadap ketersediaan lapangan kerja, penghasilan saat ini, dan pembelian barang tahan lama (durable goods). Di samping itu, konsumen memiliki ekspektasi yang lebih baik terhadap kondisi ekonomi ke depan, baik pada kondisi kegiatan usaha, ketersediaan lapangan kerja, maupun penghasilan yang akan diterima. Hasil survei mengindikasikan tekanan kenaikan harga dalam 3 bulan mendatang (Februari 2020) diprakirakan melambat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga 3 bulan mendatang yang menurun dibandingkan dengan tekanan harga pada bulan sebelumnya. Sementara itu, tekanan kenaikan harga diperkirakan akan sedikit meningkat pada 6 bulan mendatang (Mei 2020). Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga 6 bulan mendatang yang lebih tinggi dari indeks pada bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh peningkatan permintaan barang dan jasa pada periode bulan Ramadhan dan Idulfitri.

EKONOMI GLOBAL

  • Kesepakatan dagang AS – Tiongkok masih menjadi fokus pasar, di tengah ketegangan politik kedua negara, masih nampak ada upaya untuk mencapai kesepakatan dagang baik dari AS maupun Tiongkok, tetapi tanpa tanggal penandatanganan yang jelas, pelaku pasar masih bersikap hati-hati. Data suku bunga acuan 3 bank sentral besar akan diumumkan pekan ini. Diawali The Fed pada dini hari Kamis, diikuti oleh Swiss National Bank dan European Central Bank di sore dan malam harinya. Bersamaan dengan itu, Inggris dijadwalkan memulai pemilihan umum parlemen di tanggal yang sama, yang menjadi petunjuk pasar bagi kejelasan Brexit. Di hari Senin (9/12) ini, data Neraca Perdagangan Jerman untuk bulan Oktober, dan Indeks Tingkat Kepercayaan Investor versi Sentix di sore hari. Lalu malam harinya data sektor perumahan dan ijin bangunan Kanada juga menjadi faktor penggerak hari ini.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpotensi turun bila sentimen penguatan dolar AS berlanjut, menguji support $1452 – $1455. Tetapi ketidakpastian kesepakatan dagang AS – Tiongkok yang berlarut-larut dapat mengangkat harga emas menguji level $1470.

MINYAK

Kabar rencana pemangkasan lebih besar oleh OPEC+ berpotensi angkat harga minyak naik menguji level $59.60 – $60.00.Sebaliknya isu pesimis kesepakatan dagang AS – Tiongkok dapat menekan harga minyak turun menguji support $58.00.

EURUSD

EURUSD berpotensi naik menguji kisaran 1.1070 – 1.1100 bila data neraca perdagangan Jerman sore nanti dirilis lebih baik dari ekspektasi. Bila dirilis lebih rendah dari ekspektasi, mungkinturun menguji support 1.1000 – 1.1040.

GBPUSD

Hasil Optimis dari polling terbaru memungkinkan penguatan GBPUSD menguji resisten 1.3180 – 1.3250. Sebaliknya level support GBPUSD pada kisaran 1.3050 – 1.3100.

USDJPY

Bila minat aset aman di tengah ketidakpastian kesepakatan dagang AS – Tiongkok berlanjut, USDJPY berpotensi turun menguji support 108.25. sebaliknya, level resisten pada kisaran 108.80 – 109.20.

AUDUSD

Bila AUDUSD menanggapi lemahnya data Neraca Perdagangan Tiongkok akhir pekan kemarin, berpeluang turun menguji support 0.6800 – 0.6810. Sebaliknya, level resisten pada kisaran 0.6860 – 0.6880.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Senin, 09/12/2019 pukul 11.13 WIB :

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.