Senin, 04 November 2019

  • Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) rendah dan terkendali pada Oktober 2019. Inflasi IHK pada Oktober 2019 tercatat sebesar 0,02% (mtm), setelah pada bulan sebelumnya mencatat deflasi 0,27% (mtm). Inflasi yang tetap rendah pada Oktober 2019 ditopang oleh menurunnya inflasi pada kelompok inti dan deflasi pada kelompok volatile food. Sementara itu, inflasi administered prices tercatat stabil. Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK sampai dengan bulan Oktober 2019 mencapai 2,22% (ytd), atau secara tahunan tercatat 3,13% (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi September 2019 sebesar 3,39% (yoy). Ke depan, Bank Indonesia tetap konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, guna memastikan terkendalinya inflasi. Inflasi 2019 diprakirakan berada di bawah titik tengah kisaran sasarannya 3,5±1% dan terjaga dalam kisaran sasaran 3,0±1% pada 2020. Inflasi inti terus menurun sehingga menopang terkendalinya inflasi IHK. Inflasi inti tercatat sebesar 0,17% (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,29% (mtm). Penurunan inflasi inti terutama dipengaruhi oleh melambatnya harga emas perhiasan sedangkan komoditas lainnya seperti mie dan nasi dengan lauk masih menjadi penyumbang inflasi. Secara tahunan, inflasi inti tercatat 3,20% (yoy), menurun dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,32% (yoy). Inflasi inti yang terkendali tidak terlepas dari ekspektasi inflasi yang baik seiring dengan konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas harga, permintaan agregat yang terkelola baik, nilai tukar yang bergerak sesuai dengan fundamentalnya, dan pengaruh harga global yang minimal. Harga kelompok volatile food kembali mengalami deflasi, meski tidak sedalam perkembangan bulan sebelumnya. Kelompok volatile food kembali mengalami deflasi 0,47% (mtm), lebih kecil dibandingkan dengan deflasi bulan sebelumnya sebesar 2,26% (mtm). Deflasi pada kelompok volatile food terutama disebabkan oleh koreksi harga pada komoditas aneka cabai, telur ayam ras, ikan segar, kentang, dan bawang putih. Sementara itu, komoditas daging ayam ras, bawang merah, beras, ketimun, tomat sayur, dan jeruk mengalami kenaikan harga, sehingga menahan deflasi lebih lanjut. Secara tahunan, inflasi kelompok volatile food tercatat sebesar 4,82% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 5,49% (yoy). Inflasi kelompok administered prices tercatat stabil. Inflasi administered prices tercatat sebesar 0,03% (mtm), tidak banyak berbeda dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,01% (mtm). Inflasi tersebut disumbang terutama oleh komoditas rokok dan bahan bakar rumah tangga sedangkan tarif angkutan udara melanjutkan tren deflasi seiring pola musiman penurunan permintaan. Secara tahunan, kelompok administered prices mencatat inflasi sebesar 1,58% (yoy) menurun dibandingkan dengan 1,88% (yoy) pada bulan sebelumnya.
  • Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengadakan rapat berkala Kamis (31/10) di Bank Indonesia, Jakarta. Rapat dihadiri oleh Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (Bl), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Dalam rapat ini, KSSK membahas agenda utama yaitu asesmen kondisi stabilitas sistem keuangan triwulan II| 2019. Rapat KSSK menyimpulkan stabilitas sistem keuangan triwulan III 2019 tetap terkendali di tengah tingginya ketidakpastian perekonomian global. Ketidakpastian ini masih dipengaruhi ketegangan hubungan dagang AS-Tiongkok, meskipun pada Oktober 2019 sedikit mereda. Perkembangan ini menyebabkan penurunan volume perdagangan dan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia diikuti dengan melemahnya harga komoditas dan tekanan inflasi. Berbagai negara merespons perkembangan ini dengan melonggarkan kebijakan moneter dan memberikan stimulus fiskal, yang kKemudian mendorong masuknya aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Dari sisi domestik, pertumbuhan ekonomi masih tetap baik meskipun kontraksi kinerja ekspor perlu mendapat perhatian karena berdampak pada kinerja konsumsi rumah tangga dan investasi. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) di triwulan III 2019 diprakirakan membaik didukung oleh surplus transaksi modal dan finansial yang tetap besar serta defisit transaksi berjalan yang terkendali. Cadangan devisa masih berada jauh di atas standar kecukupan internasional. Kinerja NPI yang membaik berdampak pada nilai tukar rupiah yang menguat. Sementara itu, inflasi terkendali pada level yang rendah dan stabil di dalam target 3,5+1%. Ketahanan ekonomi yang terjaga pada gilirannya mendukung stabilitas sistem keuangan. Stabilitas sistem keuangan yang terkendali didukung ketahanan perbankan yang terjaga, likuiditas yang memadai, serta pasar uang yang stabil. Hal ini tercermin dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) yang tinggi dan risiko kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) yang tetap rendah. Kecukupan likuiditas tetap baik, tergambar dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang tinggi. Perkembangan ini berkontribusi pada penurunan suku bunga deposito dan suku bunga kredit yang searah dengan pelonggaran suku bunga kebijakan moneter. Koordinasi kebijakan KSSK yang terus diperkuat berdampak positif pada stabilitas sistem keuangan yang tetap baik. Koordinasi kebijakan diarahkan untuk mempertahankan stabilitas sistem keuangan sehingga tetap mendorong momentum pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Selain itu, sinergi kebijakan juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan eksternal melalui berbagai upaya meningkatkan ekspor barang dan jasa, serta menarik aliran masuk modal asing, termasuk penanaman modal asing. BI memperkuat bauran kebijakan akomodatif dengan menurunkan suku bunga kebijakan Bl 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 100 bps sejak Juli hingga Oktober 2019. Hal ini sejalan dengan prakiraan inflasi yang terkendali dan imbal hasil investasi keuangan domestic yang tetap menarik, serta sebagai langkah pre-emptive untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah kondisi ekonomi global yang melambat. BI juga melakukan relaksasi kebijakan makroprudensial. Pertama, meningkatkan kapasitas penyaluran kredit perbankan melalui pelonggaran pengaturan Rasio_ Intermediasi Makroprudensial (RIM)/RIM Syariah. Kedua, mendorong permintaan kredit pelaku usaha melalui pelonggaran ketentuan rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV), termasuk tambahan keringanan rasio LTV/FTV untuk kredit/pembiayaan properti dan uang muka Kredit Kendaraan Bermotor yang berwawasan lingkungan. Selain itu, kebijakan sistem pembayaran dan kebijakan pendalaman pasar keuangan juga terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi. Dalam rangka mendorong momentum pertumbuhan ekonomi domestik, Pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas belanja dan menjaga pelaksanaan program-program prioritas agar APBN mampu memberikan daya dorong yang optimal bagi perekonomian. Pemerintah telah mengantisipasi potensi pelebaran defisit fiskal yang mungkin terjadi dan mempertimbangkan secara cermat beberapa opsi pendanaan yang dapat diambil, baik yang berasal dari Saldo Anggaran Lebih (SAL), penarikan pinjaman tunai, maupun penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Dalam hal ini, Pemerintah akan mengedepankan prinsip efisiensi dan kehati-hatian dalam pengelolaan utang dengan tetap mengendalikan rasio utang dalam batas aman. Untuk melengkapi insentif fiskal dan moneter, OJK akan terus mengoptimalkan kontribusi sektor jasa keuangan dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dengan _ tetap memperhatikan ketahanan sektor jasa keuangan. OJK akan terus memantau transmisi kebijakan moneter di pasar dan lembaga jasa keuangan, dimana saat ini suku bunga telah berada dalam tren yang menurun. Upaya lainnya dilakukan dengan mempertajam kebijakan dan insentif yang telah dikeluarkan dalam rangka pendalaman pasar keuangan, peningkatan akses keuangan, pemberdayaan UMKM dan masyarakat kecil, serta mendukung upaya pembiayaan pada sektor produktif yang prospektif dengan tetap memperhatikan aspek prudensial. Di sisi lain, OJK juga terus melakukan penyempurnaan pengaturan dan pengawasan industri jasa keuangan. Ke depan, OJK akan senantiasa memantau dinamika perkonomian global dan berupaya memitigasi dampaknya terhadap kinerja sektor jasa keuangan dengan mengeluarkan langkah-langkah dan kebijakan yang dibutuhkan pasar secara tepat waktu dan terukur. Merespons tren penurunan suku bunga simpanan yang terjadi secara bertahap pasca penurunan suku bunga kebijakan moneter serta kondisi likuiditas perbankan yang relatif membaik, LPS pada periode September 2019 menurunkan kembali tingkat bunga penjaminan pada bank umum dan BPR masing-masing 25 bps menjadi sebesar 6,50% dan 9,0% untuk Rupiah sementara untuk valuta asing menjadi sebesar 2,00%. Mempertimbangkan bahwa proses penyesuaian suku bunga simpanan masih berlangsung, LPS akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kebijakan Tingkat Bunga Penjaminan sesuai dengan perkembangan suku bunga simpanan dan hasil asesmen atas kondisi ekonomi makro, likuiditas perbankan serta stabilitas sistem keuangan. KSSK akan menyelenggarakan rapat berkala kembali pada bulan Januari 2020.

EKONOMI GLOBAL

  • Pesimisnya mayoritas data ekonomi AS pada akhir pekan lalu berpeluang menjadi katalis positif untuk aset-aset safe haven seperti emas dimana itu memicu permintaan terhadap aset safe haven karena kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global. Selanjutnya pada hari ini, pergerakan pasar akan dipengaruhi oleh data penjualan retail Australia pukul 7:30 WIB, indeks manufaktur Jerman pukul 15:55 WIBm indeks manufaktur zona Euro pukul 16:00 WIB, sentimen keyakinan investor zona Euro pukul 16:30 WIB, indeks konstruksi Inggris pukul 16:30 WIB, pesanan pabrik AS pukul 22:00 AS serta pidato ketua European Central Bank yang baru pukul 1:30 WIB/Selasa.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpeluang untuk bergerak naik dalam jangka pendek di tengah sentimen kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global untuk menguji level resisten di $1518 – $1523. Harga emas berpotensi bergerak turun jika dolar AS menguat pada perilisan data pesanan pabrik AS pukul 22:00 WIB untuk menguji level support di $1508 – $1503.

MINYAK

Harga minyak berpeluang untuk bergerak turun dalam jangka pendek jika pasar melakukan aksi profit taking pasca kenaikan tajam pada hari Jumat lalu di tengah outlook perlambatan ekonomi global untuk menguji level support di $55.90 – $55.50. Namun, harga minyak berpeluang naik jika ditopang sentimen pelemahan dolar AS untuk menguji level resisten di $56.60 – $57.00.

EURUSD

EURUSD berpeluang untuk menguat dalam jangka pendek di tengah sentimen pelemahan dolar AS untuk menguji level resisten di 1.1200 – 1.1250. EURUSD berpeluang bergerak turun jika sejumlah data indeks manufaktur dari Jerman dan zona Euro dirilis pesimis untuk menguji level support di 1.1130 – 1.1080. Selanjutnya pasar akan menantikan pidato Presiden ECB yang baru yaitu mantan pemimpin IMF Christine Lagarde.

GBPUSD

GBPUSD berpeluang menguat dalam jangka pendek dibalik outlook melemahnya dolar AS serta kondusifnya kondisi politik Inggris menjelang pemilu di bulan Desember nanti untuk menguji level resisten di 1.2980 – 1.3030. GBPUSD berpotensi untuk berbalik turun menguji support di 1.2900 – 1.2850 jika data indeks konstruksi Inggris yang dirilis pukul 16:30 WIB hasilnya lebih rendah dari estimasi.

USDJPY

USDJPY berpeluang untuk bergerak turun dalam jangka pendek untuk menguji level support di 107.90 – 107.40 di tengah sentimen melemahnya dolar AS dan meningkatnya permintaan aset safe haven karena outlook perlambatan ekonomi global. Jika bergerak naik, level resisten berada di 108.50 – 109.00.

AUDUSD

Perilisan data penjualan retail Australia yang pesimis pagi ini berpotensi akan menjadi beban untuk pergerakan AUDUSD dalam jangka pendek untuk menguji level support di 0.6880 – 0.6840. Namun, AUDUSD berpeluang untuk bergerak naik, menguji resisten di 0.6950 – 0.6990 jika pasar mempertimbangan outlook pasar yang memperkirakan RBA kemungkinan tidak dalam tekanan untuk memangkas suku bunga pada bulan depan.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Senin 04/11/2019 pukul 09.42 WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.