Senin, 03 Februari 2020

  • Perdagangan Akhir Bulan Januari, Pasar Obligasi Indonesia Melemah. Jumat kemarin, seluruh indeks return obligasi Indonesia mencatat penurunan kinerja. Mayoritas harga SUN seri FR dan ORI terkoreksi dengan rata-rata sebesar –10,40bps. Yield obligasi negara dan obligasi korporasi kompak tertekan naik pada seluruh tenornya. Aktivitas perdagangan kemarin meningkat dari sisi total volume yakni menjadi Rp26,83tn (+1,23%) sementara total frekuensi naik menjadi 1.224 transaksi (+11,27%). Bearish-nya kondisi pasar diperkirakan masih disebabkan oleh faktor eksternal yakni kekhawatiran terkait potensi perlambatan ekonomi China dan global akibat penyebaran virus Corona Sejalan dengan pasar surat utang, kinerja pasar saham (IHSG) juga melemah hingga –1,94% ke level 5.940,05. Pada perdagangan awal Februari ini, pasar obligasi domestik diperkirakan sanggup berbalik menguat terbatas. Ditengah belum redanya isu virus Corona, sentimen terbaru dari Japan Credit Rating yang meng-upgrade sovereign rating Indonesia ke level BBB+ dengan outlook stabil diharapkan sanggup meredakan tekanan di pasar. Selain itu, pasar juga akan concern pada rilis inflasi Indonesia periode Januari siang nanti.
  • Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh melambat pada Desember 2019. Posisi M2 pada Desember 2019 tercatat Rp6.136,5 triliun atau tumbuh 6,5% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 7,1% (yoy). Perlambatan pertumbuhan M2 disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan komponen uang beredar dalam arti sempit (M1) dan surat berharga selain saham. Uang beredar dalam arti sempit (M1) tumbuh melambat, dari 10,5% (yoy) pada November 2019 menjadi 7,5% (yoy) pada Desember 2019, terutama disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan uang kartal dan giro rupiah. Perlambatan juga terjadi pada surat berharga selain saham, dari 31,3% pada bulan sebelumnya menjadi 26,5% (yoy) pada Desember 2019. Sementara itu, komponen uang kuasi tumbuh meningkat, terutama didorong oleh pertumbuhan giro valas, sehingga menjadi faktor penahan perlambatan pertumbuhan uang beredar yang lebih dalam. Berdasarkan faktor yang memengaruhi, perlambatan M2 pada Desember 2019 disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan aktiva luar negeri bersih dan aktiva dalam negeri bersih. Pertumbuhan aktiva luar negeri bersih melambat, dari 4,6% (yoy) pada November 2019 menjadi 4,4% (yoy). Sementara itu, perlambatan pertumbuhan aktiva dalam negeri bersih terutama disumbang oleh penyaluran kredit yang melambat menjadi 5,9% (yoy) dari capaian pada bulan sebelumnya sebesar7,0% (yoy). Di sisi lain, operasi keuangan pemerintah justru tercatat ekspansi sebesar 3,7% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan ekspansi bulan sebelumnya sebesar 2,4% (yoy). Ekspansi operasi pemerintah tersebut sekaligus menjadi faktor penahan perlambatan M2 lebih dalam lagi.
  • Japan Credit Rating Agency, Ltd. (JCR) meningkatkan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia dari BBB/outlook positif menjadi BBB+/outlook stabil (investment grade) pada 31 Januari 2020. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyatakan, “Peningkatan rating Indonesia oleh JCR pada level BBB+ dengan outlook stabil mencerminkan semakin meningkatnya keyakinan stakeholder internasional terhadap ketahanan perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian perekonomian global. Level BBB+/outlook stabil (investment grade) tersebut merupakan level rating tertinggi sepanjang sejarah yang dicapai Indonesia. Pencapaian ini merupakan komitmen kuat Bank Indonesia, Pemerintah dan otoritas terkait dalam mempertahankan stabilitas ekonomi Indonesia. Ke depan, Bank Indonesia akan mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik dalam memanfaatkan ruang bauran kebijakan yang akomodatif untuk menjaga tetap terkendalinya inflasi dan stabilitas eksternal, serta turut mendukung momentum pertumbuhan ekonomi.” Menurut JCR, rating Indonesia mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang solid ditopang oleh konsumsi domestik, terjaganya level defisit anggaran dan utang pemerintah, resiliensi terhadap gejolak eksternal yang didukung oleh kebijakan nilai tukar fleksibel dan kredibilitas kebijakan moneter serta akumulasi cadangan devisa. Terdapat beberapa faktor yang mendukung peningkatan Sovereign Credit Rating Pertama, dalam hal implementasi agenda reformasi pembangunan infrastruktur terus berlanjut, lebih baik dibandingkan ekspektasi JCR. Kedua, berlanjutnya reformasi pengeluaran fiskal dan terjaganya defisit anggaran yang dicapai melalui pengendalian subsidi bahan bakar minyak (BBM). JCR memandang fondasi fiskal dan ekonomi Indonesia semakin kuat. Ketiga, percepatan upaya untuk mengatasi tantangan jangka panjang, antara lain melalui simplifikasi peraturan dengan rencana penerbitan UU Omnibus untuk memfasilitasi aliran investasi langsung, pengembangan infrastruktur dan pengembangan sumber daya manusia. Keempat, dukungan politik pada pemerintahan Presiden Joko Widodo yang semakin solid sehingga memperkuat momentum kebijakan ekonomi. JCR menilai pembangunan infrastruktur yang telah menjadi prioritas utama pemerintahan Presiden Joko Widodo sejak Oktober 2014 secara konsisten terus berlanjut. JCR juga mencatat bahwa pada periode kedua pemerintahannya, Presiden Joko Widodo menegaskan untuk terus memperkuat upaya refomasi dengan menetapkan lima agenda prioritas: i) pembangunan infrastruktur, ii) pengembangan sumber daya manusia, iii) penyederhanaan ketentuan melalui penerbitan UU Omnibus, iv) reformasi birokrasi, v) transformasi ekonomi yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya alam. Secara khusus, UU Omnibus yang saat ini masih dalam proses penyusunan, adalah upaya ambisius untuk mengintegrasikan amandemen lebih dari 80 ketentuan, yang selama ini dinilai menjadi hambatan dalam investasi. Lebih lanjut, Bank Indonesia dipandang mampu menjaga keseimbangan antara menjaga stabilitas eksternal dan menjaga momentum ekonomi domestik melalui kebijakan moneter dan makroprudensial yang akomodatif, penguatan lebih lanjut kebijakan sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuanganserta koordinasi dengan Pemerintah dan lembaga terkait. Sejak 2019, Bank Indonesia berupaya untuk mendorong pertumbuhan kredit melalui kombinasi penurunan suku bunga kebijakan dan relaksasi kebijakan makroprudensial. . Ketahanan fiskal Indonesia terjaga dengan rasio utang Pemerintah terhadap PDB yang terbatas di sekitar 30%. JCR menilai Pemerintah memiliki rencana yang cukup feasible untuk menurunkan defisit fiskal menjadi 1,76% PDB pada 2020 dan menurunkan rasio utang Pemerintah di bawah 30% PDB dalam jangka menengah. Selanjutnya, di tengah pentingnya upaya pendalaman pasar keuangan, kesehatan perbankan Indonesia tetap solid, dengan rasio kecukupan modal (CAR) dan rasio kredit bermasalah (NPL gross) pada November 2019, masing-masing sebesar 23,66% dan 2,77%. JCR sebelumnya memperbaiki outlook Sovereign Credit Rating Republik Indonesia dari Stable menjadi Positive, sekaligus mengafirmasi rating pada BBB (Investment Grade) pada 26 April 2019.

EKONOMI GLOBAL

  • Dolar AS nampak menguat di awal pekan setelah alami pelemahan signifikan di akhir pekan lalu, oleh kekhawatiran wabah Korona memicu perlambatan ekonomi Tiongkok dan dunia. Dengan kembali beroperasinya mayoritas perusahaan di Tiongkok hari Senin ini, mendorong harapan akan kembali bergeraknya perekonomian Tiongkok dan dunia. Fokus pasar pekan ini pada rangkaian data tenaga kerja AS, termasuk Non-Farm payroll, yang diekspektasikan meningkat, dan mendukung penguatan dolar. Data Caixin Manufacturing PMI Tiongkok yang dirilis lebih rendah dari sebelumnya, masih dipandang cukup baik di tengah wabah Korona, tetapi Bank Sentral Tiongkok dikabarkan menyiapkan dana untuk diinjekkan ke pasar sebesar 1.2 triliun Yuan , sebagai upaya memperlancar ekonomi yang terhambat oleh penyebaran wabah Korona.  Data – data indeks manufaktur dunia akan dirilis di hari Senin ini, dengan data Manufacturing PMI Swiss jam 15:30 WIB, Manufacturing PMI Jerman jam 15:55 WIB, Manufacturing PMI Zona Euro jam 16:00 WIB, Manufacturing PMI Inggris jam 16:30 WIB, dan Final Manufacturing PMI AS jam 21:45 WIB, serta ISM Manufacturing PMI AS jam 22:00 WIB.

Potensi Pergerakan

EMAS
Rencana PBOC untuk meng-inject dana sebesar 1.2 triliun yuan untuk memperlancar ekonomi Tiongkok yang terhambat oleh wabah telah menekan turun harga emas, berpeluang melanjutkan pelemahan menguji support $1577, Level resisten pada kisaran $1590 – $1595.
MINYAK
Kabar rencana inject dana oleh PBOC sebagai upaya memperlancar perekonomian Tiongkok berpotensi membantu kenaikan harga minyak menguji resisten $52.00 – $52.50. Support pada level $50.50.

EURUSD
Kembali menguatnya dolar AS di awal pekan ini berpotensi menekan EURUSD turun menguji support 1.1035 – 1.1050. Resisten pada kisaran 1.1100.

GBPUSD
Di tengah optimisme Inggris akan mendapatkan perjanjian dagang dengan Zona Euro pasca Brexit dalam tahun ini,berpotensi angkat GBPUSD naik menguji resisten 1.3210 – 1.3250. Sebaliknya penguatan dolar AS pagi ini, berpeluang menekan GBPUSD turun menguji support 1.3100 -1.3150.

USDJPY
USDPY berpeluang naik menguji resisten 108.60 – 109.00 bila penguatan dolar AS berlanjut dan pasar kembali meminati aset berisiko. Level support pada kisaran 108.00 – 108.15.

AUDUSD
Masih dibayangi kekhawatiran penyebaran wabah Korona, AUDUSD berpeluang turn menguji support 0.6670. Tetapi kabar kesiapan PBOC melakukan stimulus untuk melancarkan perekonomian Tiongkok memberikan peluang audusd naik menguji resisten 0.6725 – 0.6750.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Senin, 03 Februari 2020 pukul 10.40 WIB :

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.