Selasa, 22 September 2020

  • ICBI Ditutup Menguat Tipis Pada Perdagangan Senin. Indeks return obligasi Indonesia baik konvensional maupun sukuk masih bergerak terbatas yakni hanya berubah dalam rentang –0,02% hingga +0,01%. Harga SUN seri FR didominasi pelemahan tipis dimana rata-rata perubahan harga pada 45 serinya turun –7,79bps. Kurva yield PHEI-IGSYC berpola bearish. Rata-rata yield seluruh tenor (1-30tahun) turun sebesar +1,11bps. Total frekuensi turun –15,73% menjadi 1.179 transaksi. Sementara, total volume meningkat tipis +0,98% menjadi Rp16,87tn. Senada dengan sesi siangnya, gerak pasar obligasi Indonesia masih bergerak dalam tren sideways. Pelaku pasar diprediksi masih menunggu serangkaian sentimen yang akan hadir jelang akhir pekan ini diantaranya testimoni atau pidato terbaru beberapa pimpinan bank sentral dunia. Selain itu, hubungan AS-China diperkirakan akan memicu wait & see lanjutan. Dari dalam negeri, bayang-bayang penyebaran Covid yang belum juga turun di Indonesia turut membayangi gerak pasar SBN. Pada perdagangan Selasa, pasar obligasi domestik berpotensi masih berada dalam tren terbatas seiring belum akan ada sentimen yang dominan. Namun, aktivitas perdagangan di pasar sekunder diperkirakan akan meningkat seiring akan diselenggarakannya lelang SBN. Pada Selasa ini, pemerintah melelang 2 seri SPN dan 6 seri FR dengan target indikatif sebesar Rp20,00tn.
  • Perekonomian global dan domestik secara bertahap mulai membaik, dengan stabilitas makroekonomi Indonesia yang tetap terjaga. Menyikapi perkembangan tersebut dan hasil asesmen keseluruhan, Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur tanggal 16 – 17 September 2020 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 4,00%, dan menekankan pada jalur kuantitas melalui penyediaan likuiditas untuk mendorong pemulihan ekonomi dari dampak pandemi COVID-19. Demikian intisari Tinjauan Kebijakan Moneter September 2020 yang diterbitkan pada Jumat 18 September 2020. Perekonomian global secara bertahap mulai membaik. Perkembangan ini terutama didorong oleh perbaikan pertumbuhan ekonomi di Tiongkok dan Amerika Serikat (AS), sedangkan kinerja perekonomian Eropa, Jepang, dan India belum kuat. Sejumlah indikator dini pada Agustus 2020 mengindikasikan prospek positif pemulihan ekonomi global, seperti meningkatnya mobilitas, berlanjutnya ekspansi PMI manufaktur dan jasa di AS dan Tiongkok, serta naiknya beberapa indikator konsumsi. Sementara itu, ketidakpastian pasar keuangan global masih tinggi dipengaruhi oleh isu geopolitik Tiongkok-AS, Tiongkok-India, dan di Inggris. Perekonomian domestik secara perlahan juga membaik, meskipun masih terbatas sejalan mobilitas masyarakat yang melandai pada Agustus 2020. Prospek berlanjutnya pemulihan ekonomi domestik banyak dipengaruhi perkembangan mobilitas masyarakat sejalan dengan penerapan protokol COVID-19 di sejumlah daerah, kecepatan realisasi anggaran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, kemajuan restrukturisasi dan penjaminan kredit, serta akselerasi ekonomi dan keuangan digital khususnya untuk pemberdayaan UMKM. Ketahanan perekonomian Indonesia tetap baik. Hal itu tercermin pada neraca perdagangan yang tetap mencatat surplus, peningkatan cadangan devisa, nilai tukar Rupiah relatif terkendali di tengah tingginya tekanan pada Agustus-September 2020. Sementara itu, inflasi tetap rendah sejalan permintaan yang belum kuat dan pasokan yang memadai. Kondisi likuiditas lebih dari cukup sehingga terus mendorong penurunan suku bunga dan kondusif bagi pembiayaan perekonomian. Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, meskipun risiko dari dampak meluasnya penyebaran COVID-19 terhadap stabilitas sistem keuangan terus dicermati. Sementara itu, kelancaran Sistem Pembayaran, baik tunai maupun nontunai, juga tetap terjaga. Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

EKONOMI GLOBAL

  • Harga minyak turun tajam pada hari Senin (21/9) yang sebagian besar dipicu oleh sentimen hindar aset berisiko di seluruh pasar keuangan, yang dipicu oleh ketakutan akan kebijakan lockdown terbaru di Eropa dan meredupnya peluang untuk adanya dukungan paket stimulus di AS. Pada berita khusus mengenai minyak, pasar masih tertekan oleh prospek suplai minyak Libya yang kembali ke pasar sebagai hasil dari kesepakatan damai yang tentatif antara berbagai faksi dalam perang saudara yang telah berlangsung lama. Kesepakatan itu dapat mengembalikan hingga 1 juta barel minyak mentah per hari ke pasar dunia, namun itu belum diratifikasi oleh pemerintah yang diakui oleh PBB atau oleh panglima perang Khalifa Haftar. Pada pukul 21:42 WIB, harga minyak West Texas Intermediate turun sekitar 4,6% di level $39.41 per barel. Harga minyak telah turun ke bawah level $40 untuk pertama kalinya dalam dua pekan terakhir karena kekhawatiran terhadap melemahnya permintaan global, namun sempat naik di atas level tersebut pada pekan lalu setelah adanya pidato dari menteri perminyakan Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman, di pertemuan para menteri OPEC+. Menurut laporan The Wall Street Journal, OPEC+ dapat terpaksa merespon kembalinya minyak Libya dengan pengurangan produksi yang lebih besar dari para produsen utama di Teluk Persia. Itu mengutip dari dokumen perencanaan internal yang perkirakan Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Irak yang akan memangkas produksi lebih dari 700.000 barel per hari untuk menyeimbangkan kembali pasar.
  • Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas anjlok sebesar $37.53 ke level $1912.74  pada hari Senin karena dipicu oleh sentimen penguatan dolar AS. Potensi kenaikan dolar leih lanjut berpeluang menekan harga emas menguji level support di $ 1905. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia $1928 – $1905.

MINYAK

Terbebani sentimen menguatnya dolar AS, dan kekhawatiran perlambatan permintaan yang disebabkan lonjakan kasus Covid-19 telah membuat harga minyak melemah di hari Senin, berakhir turun  $1.15 di level $39.83.  

Kekhawatiran permintaan minyak mentah dan kembali masuknya pasokan dari Libya berpotensi menekan harga minyak menguji level support $39.10. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia $ 39.10 – $40.65.

EURUSD

Sentimen hindar aset berisko, menguatnya dolar AS dan melonjaknya kasus Covid-19 di Eropa telah menekan turun EURUSD di hari Senin, ditutup melemah  68 pips di level 1.1771.   EURUSD berpotensi melanjutkan penurunan menguji level support 1.1725 karena komentar Lagarde dari ECB bahwa pemulihan ekonomi tetap sangat tidak pasti, tidak merata dan tidak lengkap. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia 1.1725 – 1.1800.

GBPUSD

GBPUSD berakhir turun 101 pips di level 1.2816 pada hari Senin karena tertekan oleh sentimen menguatnya dolar AS, kenaikan kasus Covid-19 di Inggris dan outlook no-deal Brexit. GBPUSD berpeluang melanjutkan tren penurunan menguji level support  1.2775 karena terbebani outlook penguatan dolar AS dan kenaikan kasus covid19 di Inggris. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia 1.2775 – 1.2865.

USDJPY

USDJPY ditutup  naik 8 pips di level 104.65 pada hari Senin karena dipicu oleh sentimen menguatnya dolar AS. Selama bergerak  di atas level support 104.50 USDJPY berpeluang lanjutkan kenaikan menguji level resisten di105.00. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia 104.30 – 105.00.

AUDUSD

AUDUSD berakhir melemah 68 pips di level 0.723 pada hari Senin karena terdorong oleh sentimen menguatnya dolar AS dan turunnya harga komoditas. Outlook pelemahan harga komoditas tembaga dan potensi kembali menguatnya dolar AS berpeluang menekan turun AUDUSD menguji level support 0.7195. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia 0.7195 – 0.7260.

NIKKEI

Tertekan oleh sentimen hindar aset berisiko karena lonjakan kasus Covid-19  secara global dan turunnya harga minyak telah membebani indekks Nikkei di hari Senin, berakhir melemah 295  poin di level 22800.

Kekhawatiran pemulihan ekonomi global karena kembali meningkatnya kasus covid19 berpeluang menekan turun indeks Nikkei menguji level support 22460. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia 22460 – 23055.

HANG SENG

Dipicu oleh kejatuhan saham HSBC dan Standard Charterd yang diduga mereka memindahkan sejumlah dana besar mencurigakan telah menyebabkan kejatuhan indeks Hang Seng di hari Senin, ditutup melemah 553 poin di level 23805. Selama tidak mampu menembus level resisten 23900 indeks Hang Seng berpeluang bergerak turun menguji level support 23455. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia 23455 – 24055.

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.