Selasa, 17 Desember 2019

  • Pada perdagangan kemarin, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) turun –0,14% ke level 272,0721. Begitu pula dengan INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) yang turun –0,16% ke level 266,7613. Disisi lain, INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) sanggup menguat tipis sebesar +0,04% ke level 297,9898. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) bergerak mixed cenderung Rata-rata yield tenor 1-30tahun naik sebesar +0,44bps. Rata-rata yield kelompok tenor menengah (5-7tahun) naik paling tinggi sebesar +3,19bps. Sementara itu rata-rata yield tenor pendek (<5tahun) dan panjang (>7tahun) naik masing-masing sebesar +0,20bps dan +0,12bps. INDOBeXG-Effective Yield end of day perdagangan kemarin berada di level 7,0830 (+0,0303poin). Harga kelompok SUN benchmark melemah dengan rata-rata sebesar –36,34bps. Pelemahan harga SUN acuan terbesar dicatatkan seri FR0078 yakni –55,69bps. Sementara itu koreksi harga terendah dicatat seri FR0077 sebesar –8,67bps. Secara keseluruhan, harga SUN seri FR dan ORI dominan terkoreksi dengan rata-rata pada seluruh seri turun sebesar –20,31bps. Dengan demikian INDOBeXG-Clean Price kemarin melemah –0,23% ke level 114,0862. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder terpantau meningkat signifikan pada sisi frekuensi yakni naik dari 705 transaksi pada perdagangan Jumat menjadi 3.526 transaksi pada perdagangan kemarin. Peningkatan tersebut dipicu oleh semaraknya transaksi pada seri ORI016 seiring berakhirnya masa holding period seri tersebut. ORI016 menjadi SBN teraktif dengan 2.729 transaksi (volume Rp2,15tn) sedangkan untuk total volume terbesar diraih FR0082 senilai Rp2,42tn. Pada obligasi korporasi, frekuensi teraktif sebanyak 9 transaksi diraih seri KAII02A, sementara volume transaksi terbesar senilai Rp26miliar dicatatkan seri BBKP02SBCN1. Kinerja pasar obligasi Indonesia ditutup melemah pada perdagangan awal pekan kemarin. Berbeda dengan sesi siangnya yang diwarnai penguatan, tertekannya pergerakan pasar hingga sesi penutupan diperkirakan lebih disebabkan oleh respon negatif pasar terhadap rilis neraca perdagangan bulan November yang mencatatkan defisit lebih besar dibanding prediksi konsensus. Neraca perdagangan Indonesia bulan November defisit US$1,33miliar dimana kinerja ekspor tercatat turun –6,17%mom sementara impor naik sebesar +3,94%mom. Pada perdagangan kemarin, nilai Rupiah terhadap USD juga terdepresiasi sebesar 20poin ke level Rp14.010/US$. Berbeda dengan kinerja pasar surat utang, IHSG masih sanggup menguat +0,23% ke level 6.211,59. Pada perdagangan Selasa ini, pasar obligasi domestik berpotensi rebound. Katalis positif untuk pasar diperkirakan berasal dari sinyal positif hubungan dagang AS-China dimana pihak Amerika menyatakan penandatanganan kesepakatan dagang fase I akan segera terwujud dan negosiasi dagang untuk fase selanjutnya akan segera dilaksanakan. Pada pembukaan pagi ini, kurs spot Rupiah menguat ke level Rp14.005/US$
  • Neraca perdagangan Indonesia pada November 2019 mencatat defisit 1,33 miliar dolar AS, setelah pada bulan sebelumnya mengalami surplus 0,17 miliar dolar AS. Perkembangan ini terutama dipengaruhi kenaikan impor barang konsumsi sesuai pola musiman jelang akhir tahun serta kebutuhan impor untuk kegiatan produktif. Di tengah kinerja ekspor yang belum kuat sejalan kondisi global yang belum pulih, perkembangan tersebut mengakibatkan neraca perdagangan nonmigas mencatat defisit. Sementara itu, defisit neraca perdagangan migas juga meningkat didorong oleh peningkatan impor migas yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor migas pada November 2019. Secara umum perkembangan ini sejalan dengan prakiraan sebelumnya sehingga defisit transaksi berjalan pada 2019 berada sekitar 2,7% dari PDB.

EKONOMI GLOBAL

 

  • Harga emas berpeluang untuk bergerak naik dalam jangka pendek karena sentimen ketidakpastian kesepakatan dagang AS-Tiongkok serta kembali munculnya kekhawatiran akan hard Brexit yang dapat memicu permintaan terhadap aset safe haven. Sementara itu untuk AUDUSD berpeluang untuk bergerak turun dalam jangka pendek jika pasar mempertimbangkan hasil notula rapat RBA yang mengindikasikan bahwa bank sentral dapat kembali melonggarkan kebijakan moneter mereka.  Dan untuk GBPUSD berpotensi untuk bergerak turun seiring kembali munculnya kekhawatiran akan potensi hard Brexit dengan pasar akan mencari katalis lainnya untuk pergerakan GBPUSD dari data indeks upah dan tenaga kerja Inggris.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpotensi akan bergerak naik dalam jangka pendek karena outlook permintaan terhadap aset safe haven dibalik ketidakpastian kesepakatan dagang AS-Tiongkok serta kekhawatiran akan hard Brexit untuk menguji level resisten di $1479-$1484. Jika bergerak turun, level support terlihat di $1471- $1466 dengan fokus data ekonomi hari ini akan tertuju ke data ijin membangun AS pukul 20:30 WIB dan produksi industri AS pukul 21:15 WIB.

MINYAK

Harga minyak berpeluang untuk bergerak turun untuk menguji level support di $59.80 – $59.40 jika outlook ketidakpastian kesepakatan dagang AS-Tiongkok mendominasi pasar. Harga minyak berpeluang untuk bergerak naik, menguji resisten di $60.60 – $61.00 pada outlook melemahnya dolar AS.

EURUSD

EURUSD berpotensi untuk bergerak naik dalam jangka pendek karena sentimen pelemahan dolar AS untuk menguji level resisten di 1.1170 – 1.1210. Namun, EURUSD berpotensi untuk bergerak turun, menguji support di 1.1100 – 1.1060 jika data neraca perdagangan zona Euro yang dirilis pukul 17:00 WIB hasilnya lebih buruk dari estimasi.

GBPUSD

Kembali munculnya kehawatiran Brexit pasca kemenangan partai Konservatif dalam pemilu Inggris berpotensi akan menjadi beban untuk pergerakan GBPUSD dalam jangka pendek untuk menguji level support di 1.3320 – 1.3280. GBPUSD berpotensi bergerak naik untuk menguji resisten di 1.3300 – 1.3340 jika data indeks upah dan tenaga kerja Inggris yang dirilis pukul 16:30 WIB hasilnya lebih baik dari estimasi.

USDJPY

USDJPY berpeluang bergerak turun dalam jangka pendek jika pasar kembali memburu aset safe haven dibalik sentimen ketidakpastian kesepakatan dagang AS-Tiongkok untuk menguji level support di 109.20 – 108.80. Jika bergerak naik, level resisten terlihat di 110.00 – 110.40.

AUDUSD

Perilisan notula rapat RBA yang cenderung dovish berpotensi akan menjadi beban untuk kinerja AUDUSD dalam jangka pendek untuk menguji level support di 0.6840 – 0.6800. AUDUSD berpotensi untuk berbalik naik menguji resisten di 0.6900 – 0.6940 jika dolar AS bergerak melemah lebih lanjut.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Selasa, 17/12/2019 pukul 09.39 WIB :

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.