Selasa, 11 Agustus 2020

  • Rally Harga Berlanjut, ICBI Ditutup Menguat. Seluruh indeks return obligasi Indonesia (konvensional maupun sukuk) ditutup menguat pada perdagangan Senin. Mayoritas harga seri SBN tipe fixed rate bergerak menguat dengan rata-rata pada seluruh serinya naik +4,80bps. Yield SBN berlanjut didominasi penurunan dengan rata-rata perubahan yield tenor 1-30tahun turun –1,24bps. Aktivitas transaksi obligasi di pasar sekunder tampak sepi dengan total volume Rp11,10tn (-27,57%) dan total frekuensi 1.045 transaksi (-9,99%). Penguatan harga yang terjadi hari ini masih lebih dikarenakan oleh aksi trading. Meski demikian, minimnya sentimen lanjutan ditengah wait and see perang teknologi AS dan China serta kasus Covid-19 yang terus menunjukkan tren peningkatan tampak menyurutkan minat investor untuk bertransaksi di pasar sekunder. Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS awal pekan ini tampak melemah 23,0poin ke level Rp14.648/US$ (Kurs spot Bloomberg).  Performa pasar obligasi Indonesia berpotensi semakin positif pada perdagangan Selasa. Kali ini penguatan harga yang terjadi ditopang oleh dipertahankannya peringkat utang Indonesia di level BBB/stable oleh Fitch Ratings ditengah bayang-bayang ancaman resesi. Kondisi tersebut diprediksi juga akan berdampak pada semaraknya pelaksanaan lelang SUN esok hari. Pada lelang besok, akan ada 4 seri new issuance yang dilelang yakni FR0086, FR0087, serta 2 seri SPN.
  • Lembaga pemeringkat Fitch mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada peringkat BBB (investment grade) dengan outlook stabil pada 10 Agustus 2020. Menurut pandangan Fitch, beberapa faktor kunci yang mendukung afirmasi peringkat Indonesia tersebut adalah prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah yang baik dan beban utang pemerintah yang relatif rendah. Pada sisi lain, Fitch menggarisbawahi tantangan yang dihadapi, yaitu masih tingginya ketergantungan terhadap sumber pembiayaan eksternal, penerimaan pemerintah yang rendah, serta sisi struktural seperti indikator tata kelola dan PDB per kapita yang masih tertinggal dibandingkan negara peers. Menanggapi keputusan Fitch tersebut, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan, “Afirmasi rating Indonesia pada peringkat BBB dengan outlook stabil merupakan bentuk pengakuan Fitch, sebagai salah satu lembaga pemeringkat utama dunia, atas stabilitas makroekonomi dan prospek ekonomi jangka menengah Indonesia yang tetap terjaga di tengah pandemi COVID-19 yang menekan perekonomian global. Hal ini didukung oleh kredibilitas kebijakan dan sinergi bauran kebijakan yang kuat antara Bank Indonesia dan Pemerintah. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik, mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta terus bersinergi dengan Pemerintah untuk mempercepat proses pemulihan ekonomi nasional.” Gubernur Bank Indonesia menambahkan, “Indonesia telah mengambil berbagai kebijakan baik di sisi fiskal, moneter, maupun sistem keuangan secara berhati-hati dan terukur untuk mengatasi dampak COVID-19 terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Dalam kaitan ini, berbagai indikator menunjukkan bahwa stabilitas makroekonomi masih terjaga sehingga turut mendukung ketahanan ekonomi nasional. Inflasi pada Juli 2020 tercatat 1,54% (year-on-year) dan diperkirakan akan berada dalam kisaran sasaran inflasi 3%+1% untuk keseluruhan 2020. Defisit transaksi berjalan triwulan II 2020 diprakirakan tetap rendah dan investasi portofolio asing kembali mencatat net inflows. Sejalan dengan itu, nilai tukar Rupiah secara point to point menguat 14,4% pada triwulan II 2020. Cadangan devisa pada akhir Juli 2020 meningkat menjadi USD135,1 miliar atau setara dengan pembiayaan 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.” Dalam asesmennya Fitch memperkirakan bahwa aktivitas ekonomi di Indonesia akan terkontraksi pada 2020, dipengaruhi pandemi COVID-19. Kontraksi ini merupakan dampak dari penerapan kebijakan social distancing yang memengaruhi konsumsi dan investasi, penurunan terms of trade yang bersifat temporer, dan terhentinya arus masuk wisatawan mancanegara. Dampak dari pandemi yang cukup kuat dan menyeluruh terhadap aktivitas ekonomi ini tercermin pada kontraksi sebesar 5,3% pada triwulan II-2020. Namun, Fitch memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan kembali meningkat menjadi 6,6% pada 2021. Momentum pertumbuhan ekonomi diperkirakan berlanjut pada 2022, yaitu tumbuh 5,5%, antara lain didukung oleh fokus pemerintah pada pembangunan infrastruktur. Lebih lanjut, Fitch menyatakan bahwa pemerintah telah merespons pandemi COVID-19 dengan cepat melalui berbagai kebijakan untuk mendukung sektor rumah tangga dan korporasi, termasuk Usaha Kecil dan Menengah (UMK). Secara keseluruhan, jumlah dukungan pemerintah untuk mengatasi pandemi mencapai Rp695 triliun (4,4% dari PDB), mencakup bantuan langsung tunai, penyediaan kebutuhan pokok, penyediaan jaminan, dan insentif perpajakan. Pemerintah juga menempuh sejumlah langkah terobosan yang bersifat sementara, termasuk penundaan ketentuan batas atas defisit fiskal sebesar 3% dari PDB selama tiga tahun serta kebijakan pembiayaan defisit secara langsung oleh bank sentral. Dalam pandangan Fitch, kebijakan fiskal yang berhati-hati dalam beberapa tahun terakhir telah memberikan ruang bagi berbagai kebijakan yang ditempuh Pemerintah untuk mengatasi dampak pandemi COVID-19. Mengacu pada defisit fiskal selama satu dekade terakhir yang selalu berada di bawah 3% dari PDB, Fitch meyakini Pemerintah akan memenuhi komitmennya untuk membawa defisit fiskal kembali di bawah 3% dari PDB pada 2023. Fitch memperkirakan defisit fiskal pada 2020 akan meningkat menjadi sekitar 6,0% pada 2020 dari 2,2% pada 2019 dipengaruhi oleh belanja Pemerintah yang lebih tinggi di tengah penerimaan yang lebih rendah akibat perlambatan ekonomi. Selanjutnya, defisit fiskal akan terus menurun menjadi 5,0% dan 3,5% masing-masing pada 2021 dan 2022, sejalan dengan berkurangnya pengeluaran terkait pandemi. Mengenai kesepakatan “burden sharing” antara Bank Indonesia dan Pemerintah dalam membiayai pengeluaran negara terkait COVID-19, Fitch memandang kesepakatan ini akan membantu mengurangi beban bunga yang ditanggung pemerintah. Fitch memperkirakan kesepakatan ini tidak akan memberikan tekanan inflasi pada tahun 2020 seiring permintaan yang masih lemah. Kebijakan moneter di Indonesia selama beberapa tahun terakhir yang dinilai kredibel memberikan keyakinan kepada Fitch bahwa kesepakatan “burden sharing” ini akan bersifat temporer (one-off). Fitch mencatat bahwa Bank Indonesia telah menyediakan likuiditas bagi sistem perbankan sebagai respon atas terjadinya pandemi disertai dengan penurunan suku bunga kebijakan sebesar 100 bps sejak Februari 2020 menjadi 4,0%. Selain kondisi likuiditas yang memadai, Fitch menilai kondisi permodalan sektor perbankan, sebagaimana tercermin pada capital-adequacy ratio, juga masih kuat, yaitu 22,1% pada Mei 2020. Secara khusus, Fitch menyoroti upaya Pemerintah untuk terus mendorong reformasi struktural. Dalam pandangan Fitch, dalam jangka menengah, berbagai upaya reformasi yang ditempuh Pemerintah berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi dan menarik investasi langsung asing. Fitch sebelumnya mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada BBB dengan outlook Stabil pada 24 Januari 2020.

EKONOMI GLOBAL

  • Pelaku pasar terus mengamati upaya stimulus AS yang terhenti dan ketegangan yang memburuk antara Washington dan Beijing terkait Hong Kong. Trump juga menambahkan bahwa kesepakatan perdagangan Fase 1 dengan Tiongkok berarti sangat sedikit, ini dapat memicu ketegangan lebih lanjut. Selain itu pasar juga akan menanti data German ZEW Economic Sentiment (16:00WIB) dan PPI AS (19:30 WIB)

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berakhir melemah sebesar $7,42 di level 2027.60 pada hari Senin, harga emas berpotensi melanjutkan penurunan menguji level support di 2010 – 2005 karena outlook penguatan dolar AS lebih lanjut. Level resisten harga emas berada pada level 2030 – 2040.

MINYAK

Harga minyak berakhir naik sebesar $0.39 di level 41.99 pada perdagangan hari Senin, Harga minyak berpotensi melanjutkan kenaikan menguji level resisten 42.30 – 42.60 karena optimisnya data ekonomi Tiongkok, outlook meningkatnya permintaan di Asia serta akan turunnya produksi minyak Irak. Level support minyak berada pada level 41.70 – 41.40.

EURUSD

EURUSD berakhir melemah sebesar 50 pips di level 1.1737 pada hari Senin, hari ini EURUSD berpotensi kembali lanjutkan penurunan menguji level support 1.1680 – 1.1650 karena tertekan oleh penguatan dolar AS. Level resisten EURUSD berada pada kisaran 1.1765 – 1.1795.

GBPUSD

Didukung oleh optimisme dari para pejabat Inggris seperti Michael Gove dan Rishi Sunak terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan Brexit di September GBPUSD berakhir naik sebesar 24 Pips di level 1.3073. GBPUSD berpotensi berbalik turun menguji level support 1.3030- 1.3000 karena outlook penguatan dolar AS. Level resisten GBPUSD berada pada kisaran 1.3110 – 1.3130.

USDJPY

Dipicu oleh kenaikan dolar AS, USDJPY berakhi naik sebesar 5 pips di level 105.97 di hari Senin, USDJPY berpotensi melanjutkan kenaikan menguji level resisten di 106.20 – 106.40 selama terus mampu bertahan di atas level support 105.70 – 105.50.

AUDUSD

AUDUSD berakhir melemah sebesar 9 pips di level 0.7149 di hari Senin, AUDUSD berpeluang melanjutkan penurunan menguji level 0.7120 – 0.7100 karena tertekan oleh outlook penguatan dolar AS lebih lanjut, level resisten AUDUSD berada pada kisaran 0.7190 – 0.7220.

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.