Selasa, 08 Oktober 2019

  • Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2019 sebesar 124,3 miliar dolar AS, cukup tinggi meskipun lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Agustus 2019 yang sebesar 126,4 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,2 bulan impor atau 7,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Penurunan cadangan devisa pada September 2019 tersebut terutama dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri Pemerintah dan berkurangnya penempatan valas perbankan di Bank Indonesia. Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai dengan didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik.
  • Performa pasar obligasi Indonesia menguat tipis pada perdagangan kemarin. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) naik +0,02% ke level 267,7269; INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) juga naik sebesar +0,02% ke level 262,6847; dan INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) naik sebesar +0,06% ke level 291,6190. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) bergerak mixed dengan rata-rata yield pada tenor 1-30 tahun turun sebesar –4,14bps. Pergerakan rata-rata yield pada masing-masing kelompok tenor tercatat sebesar: pendek (<5tahun) turun –2,35bps; menengah (5-7tahun) naik +3,73bps; dan panjang (>7tahun) naik +0,69bps. Dengan demikian kinerja INDOBeXG-Effective Yield terpantau naik +0,0037poin ke level 7,1526. Harga kelompok seri SUN benchmark didominasi pelemahan dengan rata-rata sebesar –10,02bps. Penguatan harga hanya dicatatkan seri FR0079 meski tipis yakni +0,82bps. Sedangkan harga tiga seri lainnya melemah di rentang –9,16bps hingga –17,24bps. Harga SUN seri FR dan ORI bergerak variatif dengan rata-rata harga turun –4,95bps. INDOBeXG-Clean Price kemarin ditutup melemah –0,05% ke level 113,9582. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder kemarin kembali menurun dengan 590 kali transaksi (-23,08%) dan mencatat total volume sebesar Rp6,37tn (-49,30%). Adapun transaksi SUN benchmark terpantau menurun pada sisi volume menjadi sebesar Rp1,91tn (-50,70%) dan frekuensi 59 transaksi (-56,30%). Ditengah sepinya transaksi, FR0075 bertahan menjadi SBN teraktif dengan 84 transaksi sedangkan total volume terbesar diraih FR0078 sebesar Rp927miliar. Dari korporasi, seri ADMF04BCN6 menjadi yang teraktif dengan 41 transaksi (volume Rp23miliar). Pasar obligasi dalam negeri kembali menunjukkan tren sideways-nya. Hal tersebut terlihat dari tipisnya perubahan imbah hasil obligasi negara mayoritas tenor sehingga turut membuat tipisnya pergerakan indeks return obligasi konvensional maupun syariah. Selain itu, tipisnya pergerakan pasar SBN juga terindikasi dari menurunnya aktivitas perdagangan di pasar sekunder baik dari sisi volume maupun frekuensinya. Faktor penggerak pasar diperkirakan lebih terpicu oleh faktor trading investor ditengah aksi wait and see menjelang rencana pertemuan tingkat tinggi delegasi AS-China di Washington Kamis esok. Menjelang pertemuan tersebut, kabar terbaru dari Bloomberg menyatakan bahwa pejabat pemerintahan China memberi sinyal bahwa negara tersebut enggan untuk menyetujui kesepakatan dagang secara menyeluruh seperti yang diinginkan Presiden Trump. Sebagai informasi, pada perdagangan kemarin, kinerja Rupiah turun 25 poin dan IHSG turun –1% ke level 6.000,58. Pada sesi perdagangan Selasa ini, pasar obligasi Indonesia berpotensi meneruskan tren terbatas. Kondisi tersebut lantaran belum ada sentimen dominan penggerak pasar ditengah simpang siur dinamika hubungan dagang AS-China yang rencananya akan menggelar pertemuan tingkat tinggi di Washington pada Kamis 10 Oktober mendatang. Dari domestik, hari ini akan dilaksanakan lelang SBN 7 seri dengan target Rp15tn dan diperkirakan dapat meningkatkan aktivitas perdagangan di pasar sekunder.

EKONOMI GLOBAL

  • Pasar telah menempatkan posisi berdasarkan ekspektasi hasil pertemuan negosiasi dagang AS – Tiongkok yang akan dilakukan pekan ini. Kemarin sikap enggan Tiongkok untuk menyetujui semua poin penawaran dari AS sempat mendorong pesimisme pasar, tetapi harapan akan ada penyelesaian beberapa poin yang penting dan menghapus biaya tarif import akan dapat membantu peningkatan ekonomi. Sementara data yang menjadi peluang penggerak hari ini diantaranya adalah: Pidato Ketua Bank of England, Mark Carney, di Tokyo, bila menyinggung perekonomian atau kebijakan moneter Jepang, berpotensi menggerakkan USDJPY. Data negara-negara anggota Zona Euro juga akan dirilis siang ini, dengan diawali German Industrial Production, diikuti French Trade Balance, dan Italian Retail Sales. Di sesi Eropa, akan dihiasi oleh pidato dari anggota Monetary Policy Committee BOE, Andy Haldane dan Silvana Tenreyro pada acara terpisah di Zona Euro. Malam harinya data PPI dan core PPI AS akan dirilis dan menjadi potensi penggerak pasar. Lewat tengah malam, Pejabat Federal Reserve AS, Charles Evans dan Ketua the Fed, Jerome powell akan berpidato secara terpisah.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpotensi bergerak turun dalam jangka pendek menguji level support di $1480 – $1485 di tengah sentimen optimisme negosiasi dagang AS – Tiongkok. Resisten harga emas berada pada level $1498 – $1500.

MINYAK

Serangan militan di Iraq yang berpotensi menghambat produksi minyak mentah negara tersebut berpotensi angkat harga minyak dalam jangka pendek menguji resisten $53.30 – $53.50. Bila pernyataan Iran untuk tetap mengeksport minyaknya mengacuhkan larangan AS, berpotensi menguji support harga minyak di level $52.30 – $52.50.

EURUSD

EURUSD berpeluang bergerak turun menguji level support untuk jangka menengah di 1.0940 – 1.0960 di tengah pesimisme data ekonomi Zona Euro yang melemah. Tetapi bila data yang dirilis hari ini lebih baik dari ekspektasi, EURUSD berpeluang menguji resisten pada kisaran 1.1000.

GBPUSD

Drama ketegangan Brexit antara Komite Uni Eropa dan PM Inggris berpeluang tekan harga GBPUSD menguji support 1.2225 – 1.2265 . Resisten GBPUSD pada kisaran 1.2330 – 1.2350 bila sentimen Brexit membaik.

USDJPY

Penguatan dolar AS berpotensi angkat USDJPY naik menguji resisten 107.65 – 107.85. Sebaliknya SUpport USDJPY pada kisaran 106.65 – 106.80.

AUDUSD

AUDUSD berpeluang turun dalam jangka pendek menguji support 0.6700 – 0.6720 menantikan perkembangan pertemuan negosiasi dagang AS – Tiongkok pekan ini. Resisten AUDUSD pada kisaran 0.6760 – 0.6780.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Selasa 08/10/2019 pukul 10.11WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.