Selasa, 05 Januari 2021

  • Pasar Obligasi Mengawali Tahun 2021 Di Zona Hijau. Seluruh indeks returnobligasi domestik baik konvensional maupun sukuk ditutup menguat. ICBI naik +0,17% dan INDOBeXG-TR naik +0,18%. Rata-rata harga SUN seri Fixed Rate menguat sedikit lebih tinggi dibanding sesi siang yakni sebesar +9,83bps. Sedangkan rata-rata harga sukuk negara naik +11,46bps. Kurva yieldPHEI-IGSYC didominasi penurunan yield. Rata-rata yieldtenor 1-30 tahun turun –1,91bps dengan penurunan terbesar yakni –2,12bps dialami tenor panjang. Pasar sekunder obligasi berlangsung semarak. Total volume naik +52,41% menjadi Rp21,81tn dan total frekuensi naik +36,44% menjadi 1.318 transaksi. Menguatnya harga obligasi selain dikarenakan oleh faktor trading,juga ditopang oleh faktor dalam negeri. Ditengah rendahnya data inflasi Indonesia tahun 2020 yakni sebesar 1,68%yoy, membaiknya data manufaktur Indonesia bulan Desember yakni menjadi sebesar 51,3 dari 50,6 dan menguatnya Rupiah hingga 155,0 poin ke level Rp13.895/US$ menjadi katalis positif bagi pasar. IHSG turut ditutup menguat bahkan hingga +2,10% ke level 6.104,90 di hari pertama perdagangan tahun 2021. Today’s Outlook Pasar obligasi diprediksi berlanjut rally pada perdagangan Selasa ditopang oleh euforia sentimen dalam negeri. Namun, pasar diprediksi akan terus mencermati progress vaksinasi Covid-19 secara global ditengah peningkatan penyebaran dan bermunculannya varian baru virus Covid-19. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder berpotensi semakin meningkat sejalan dengan pelaksanaan lelang SBN perdana di tahun 2021.
  • Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada 2020 tercatat rendah 1,68% (yoy) dan berada di bawah kisaran sasaran 3,0±1%. Inflasi yang rendah tersebut dipengaruhi oleh permintaan domestik yang belum kuat sebagai dampak pandemi Covid-19, pasokan yang memadai, dan sinergi kebijakan antara Bank Indonesia dan Pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah dalam menjaga kestabilan harga. Ke depan, Bank Indonesia tetap konsisten menjaga inflasi di kisaran sasarannya 3,0±1% pada 2021. IHK Desember 2020 yang terkendali mendorong capaian inflasi tahun 2020 yang rendah. Secara bulanan, inflasi IHK pada Desember 2020 mencapai 0,45% (mtm), meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 0,28% (mtm). Inflasi tersebut lebih rendah dari rerata inflasi Desember lima tahun sebelumnya sebesar 0,67% (mtm). Berdasarkan komponennya, inflasi inti tercatat 0,05% (mtm), relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,06% (mtm). Inflasi kelompok administered prices terjaga rendah sebesar 0,35% (mtm), meskipun sesuai pola musiman akhir tahun meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 0,16% (mtm). Sementara itu, inflasi kelompok volatile food tercatat 2,17% (mtm), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi bulan November 2020 sebesar 1,31% (mtm), sejalan pola musiman akhir tahun. Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK tercatat melambat pada tahun 2020 dan melanjutkan tren penurunan sejak 2017. Perkembangan inflasi pada tahun 2020 tersebut dipengaruhi oleh inflasi inti yang tercatat rendah sebesar 1,60% (yoy), sejalan dengan pengaruh permintaan domestik yang belum kuat. Inflasi inti yang rendah juga didukung oleh kebijakan Bank Indonesia dalam pembentukan inflasi. Inflasi kelompok administered prices juga tercatat rendah sebesar 0,25% (yoy), sejalan dengan mobilitas masyarakat yang masih terbatas dan upaya Pemerintah menurunkan harga energi guna mendorong daya beli masyarakat. Sementara itu, inflasi kelompok volatile food terkendali sebesar 3,62% (yoy), didukung oleh permintaan yang belum kuat dan pasokan yang memadai, meskipun terdapat tekanan musiman pada akhir tahun. Selain itu, Bank Indonesia dan Pemerintah di tingkat pusat maupun daerah tetap bersinergi untuk menjaga kestabilan harga.

FOREIGN OWNERSHIP EQUITY VS IHSG

  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari Senin (04/01) ditutup menguat sebesar 2.09% di level 6,104. Tercatat 304 saham menguat, 183 saham melemah dan 87 saham tidak mengalami perubahan harga dibandingkan closing hari sebelumnya.

BONDS

  • Harga obligasi dipasar surat utang Indonesia bergerak relative sideways pada perdagangan Senin (04/01). Harga SUN seri acuan bergerak variatif pada kisaran 30bps hingga 65bps, yield SUN bertenor 10tahun (FR0082) naik 3bps ke level 5.92%. Meskipun bergerak sideways, namun aktifitas investor di pasar sekunder tercatat mengalami peningkatan. Hal tersebut dapat terlihat dari volume transaksi SBN secara outright yang tercatat mencapai Rp 21.4 triliun pada Senin (04/01), meningkat dari volume transaksi di hari Rabu (30/12) yang hanya sebesar Rp 13.6 triliun.

ECONOMIC GLOBAL

  • Pada Hari Senin (04/01), Rupiah dibuka di level 13,900/13,950 dengan kurs acuan JISDOR di level 13,903 (prior:14,105). Rupiah diperdagangkan pada range 13,865–13,950. Penguatan Rupiah ditopang masuknya arus modal ke pasar keuangan Indonesia. Harga SBN bergerak variatif dengan kecenderungan menguat. Mulai digunakannya vaksin buatan Pfizer, Moderna dan Astra Zaneca di beberapa negara memberikan sentiment positif bagi para pelaku pasar. Dari dalam negeri, PMI Manufacture Indonesia naik ke angka 51.3, tertinggi sejak Februari 2020, Indonesia mengindikasikan dunia usaha Indonesia sangat positif mengakhiri 2020. Hal ini dikarenakan sector manufaktur sebagai komponen utama penggerak ekonomi nasional dari sisi lapangan usaha menyumbang 20% PDB.
  • Perkembangan perang dagang antara AS dan Cina tidak mendukung optimism pelaku pasar akan perbaikan perekonomian di tahun 2021. NYSE memutuskan untuk mengeluarkan tiga emiten asal Cina yang berada di bursa saham AS. Hal ini merupakan lanjutan dari blacklist yang diterapkan Presiden Donald Trump kepada beberapa perusahaan asal Cina. Perusahaan yang akan dikeluarkan tersebut antara lain China Telecom Corp. Limited, China Mobile Limited, dan China Unicom Hong Kong Limited. Sebelumnya Trump menandatangani perintah pada November 2020 yang melarang warga AS berinvestasi di 35 perusahaan yang diduga terkait dengan pengembangan militer Cina, termasuk di dalamnya yaitu ketiga perusahaan tersebut. Larangan investasi akan mulai berlaku pada 11 Januari 2021, beberapa hari sebelum Presiden terpilih Joe Biden akan dilantik.

Peluang Pergerakan

EMAS

Harga emas ditutup menguat  $44.54 di level $1942.70  pada hari Senin, tertopang oleh sentimen pelemahan dolar AS karena outlook kebijakan suku bunga rendah The Fed dan prospek pembatasan aktivitas ekonomi yang lebih ketat untuk melawan varian baru virus korona.  Pagi ini (5/1), tren kenaikan harga emas masih berpotensi berlanjut menguji level resisten $1964 selama harga konsisten di atas level support $1929. Sementara penembusan level support tersebut berpotensi memicu aksi jual harga emas menguji support selanjutnya $1923. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia $1923 – $1964.

MINYAK

Harga minyak ditutup melemah sebesar $1.10 di level $47.32 karena terbebani oleh meningkatnya kasus baru virus korona yang berpotensi memicu pembatasan aktivitas global. Sementara OPEC masih belum mengambil keputusan soal jumlah produksi minyak ke depan dalam pertemuannya kemarin.  Pagi ini (5/1), aksi jual terhadap harga minyak berpotensi masih berlanjut menargetkan level support $46.65 selama harga tidak mampu menembus level resisten $47.70. Kenaikan lebih tinggi dari level resisten tersebut, harga minyak berpotensi dibeli menguji level resisten selanjutnya, $48.05. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia  $46.65 – $48.05.

EURUSD

EURUSD berakhir naik 36 pip di level 1.2251 pada hari Senin, karena dipicu oleh sentimen pelemahan dolar AS merespon outlook kebijakan suku bunga rendah The Fed  dan optimisme pasar terhadap data indeks manufaktur dari wilayah zona euro yang masih di area ekspansi.  Pagi ini (5/1), di tengah kewaspadaan pasar terhadap sentimen negatif dari pandemi covid-19, EURUSD masih berpotensi dibeli menargetkan level resisten 1.2300 selama harga tidak mampu menembus level support 1.2230. Penurunan lebih lanjut dari level support tersebut, EURUSD berpotensi dijual menguji level support 1.2195. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia 1.2195 – 1.2300.

GBPUSD

Abaikan data indeks manufaktur Inggris yang positif, GBPUSD tergerus turun pada hari Senin, berakhir melemah 92 pip di level 1.3570 karena kekhawatiran pasar terhadap meluasnya penyebaran virus korona jenis baru di Inggris.  Pagi ini (5/1), aksi jual terhadap GBPUSD berpotensi berlanjut menguji level support 1.3525 selama harga tidak mampu menembus level resisten 1.3585. Sementara kenaikan yang lebih tinggi dari level resisten tersebut, GBPUSD berpotensi dibeli menguji resisten selanjutnya, 1.3605. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia 1.3525 – 1.3605.

USDJPY

Sentimen pelemahan dolar AS dan optimisnya data indeks manufaktur Jepang telah memicu penurunan USDJPY di hari Senin, berakhir melemah 17 pip di level 103.12.  Pagi ini (5/1), di tengah kewaspadaan pasar terhadap sentimen negatif dari pandemi covid-19 yang mendorong penguatan dollar AS, USDJPY berpotensi dibeli menargetkan level resisten 103.45 selama bertahan di atas level support 103.00. Sementara penembusan ke bawah level support tersebut, USDJPY berpotensi dijual menguji level support selanjutnya, 102.85. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia 102.85 – 103.45.\

AUDUSD

Kekhawatiran terhadap pandemi covid-19 telah memicu pelemahan AUDUSD di hari Senin, ditutup turun 26 pip di level 0.7665.  Pagi ini (5/1), AUDUSD berpotensi dijual menguji level support 0.7625 bila harga tidak mampu menembus level resisten 0.7695. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia 0.7625 – 0.7695.

NIKKEI

Indeks Nikkei ditutup turun 370 poin di level 27130 pada hari Senin, tertekan oleh sentimen menguatnya mata uang yen dan kekhawatiran lonjakan kasus Covid-19 di Jepang.  Hari ini (5/1), Indeks Nikkei berpotensi dijual menguji level support 26850 selama harga tidak mampu menembus level resisten 27435. Sementara, kenaikan yang lebih tinggi dari level resisten ini, Indeks Nikkei berpotensi dibeli menguji level resisten selanjutnya, 27545. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia 26850 – 27545.  

HANG SENG

Terbebani oleh kekhawatiran varian baru virus korona yang berpotensi memicu pemulihan ekonomi global, indeks Hang Seng ditutup melemah sebesar 52 poin di level 27163 pada perdagangan hari Senin. Hari ini (5/1), aksi jual terhadap Indeks Hang Seng berpotensi berlanjut dengan menargetkan level support 26670 selama harga tidak mampu menembus level resisten 27390. Kenaikan lebih tinggi dari level resisten ini, Indeks Hang Seng berpotensi dibeli menguji level resisten 27565. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia 26670 – 27565.

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.