Selasa, 03 Maret 2020

  • Transaksi Senin: Harga Berlanjut Terkoreksi, Yield Bearish. Seluruh indeks total return obligasi Indonesia ditutup melemah pada transaksi kemarin. Tekanan naik yield juga berlanjut melanda obligasi negara dan obligasi korporasi pada seluruh tenor. Transaksi obligasi di pasar sekunder semakin menurun dengan total volume sebesar Rp21,59tn (-34,58%) dan total frekuensi 1.156 transaksi (-29,12%). Meluasnya penyebaran kasus virus Covid-19 masih menjadi penyebab utama terkoreksinya harga obligasi, terlebih ketika telah dikonfirmasi adanya 2 kasus Covid-19 di Indonesia. CDS Indonesia tenor 5-tahun terpantau turun –1,08bps terpicu oleh nada dovish the Fed dan BoJ yang berkomitmen untuk menstabilkan pasar seiring dengan dampak virus corona. Bank Indonesia sendiri kemarin mengumumkan 5 kebijakan baru guna mengantisipasi efrek virus corona, diantaranya adalah menurunkan GWM valas terhadap DPK dari 8% menjadi 4%. Koreksi harga yang melanda pasar obligasi negara berpotensi mereda pada perdagangan hari ini. Euforia stimulus oleh Bank Indonesia dan komitmen dari the Fed dan BoJ diprediksi dapat menahan laju penurunan yang semakin dalam. Selain itu kembali menguatnya Rupiah turut menjadi sentimen positif di pasar. Senin kemarin kurs spot Bloomberg menguat 53,0poin ke level Rp14.265/US$. Transaksi pasar sekunder obligasi hari ini berpotensi meningkat sejalan dengan adanya pelaksanaan lelang SBN.
  • Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2020 tetap rendah dan terkendali. Inflasi IHK pada Februari 2020 tercatat 0,28% (mtm), lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 0,39% (mtm). Perkembangan ini dipengaruhi oleh kelompok inflasi inti yang rendah, kelompok administered prices yang kembali mencatat deflasi, serta inflasi volatile food yang melambat. Dengan perkembangan tersebut, secara tahunan inflasi IHK tercatat tetap rendah 2,98% (yoy), meskipun sedikit meningkat dibandingkan dengan inflasi Januari 2020 sebesar 2,68% (yoy). Ke depan, Bank Indonesia akan terus konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, guna memastikan inflasi 2020 tetap rendah dan stabil dalam sasarannya sebesar 3,0%±1%. Inflasi inti menurun sehingga mendukung terjaganya inflasi. Inflasi inti tercatat 0,14% (mtm), sedikit menurun dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,19% (mtm). Secara tahunan, inflasi inti tercatat 2,76% (yoy), sedikit menurun dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 2,88% (yoy). Inflasi inti yang tetap terkendali tidak terlepas dari konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam mengarahkan ekspektasi inflasi, termasuk dalam menjaga pergerakan nilai tukar sesuai fundamentalnya. Kelompok administered prices kembali mencatat deflasi. Kelompok administered prices mengalami deflasi 0,11% (mtm), melanjutkan perkembangan deflasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,28% (mtm). Perkembangan deflasi ini dipengaruhi oleh penurunan harga tarif angkutan udara dan Bahan Bakar Khusus, sedangkan harga rokok kretek filter, rokok putih, dan Bahan Bakar Rumah Tangga (BBRT) meningkat. Secara tahunan, komponen administered prices mencatat inflasi 0,54% (yoy), sedikit menurun dibandingkan dengan inflasi administered prices pada bulan sebelumnya sebesar 0,64% (yoy). Inflasi volatile food menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Inflasi kelompok volatile food tercatat sebesar 1,27% (mtm), melambat dibandingkan dengan inflasi bulan Januari 2020 sebesar 1,93% (mtm). Namun demikian, perkembangan inflasi volatile food ini lebih tinggi dari rerata lima tahun terakhir yang tercatat deflasi 0,76% mtm, antara lain disebabkan oleh gangguan pasokan pangan akibat kondisi cuaca yang kurang menguntungkan. Beberapa komoditas volatile food yang mencatat kenaikan harga antara lain bawang putih, aneka cabai, dan minyak goreng. Secara tahunan, inflasi kelompok volatile food tercatat 6,68% (yoy), meningkat dari inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 4,13% (yoy).
  • Ketidakpastian pasar keuangan global akibat COVID-19 makin tinggi, meskipun intensitas di Tiongkok mulai berkurang. Asesmen terkini Bank Indonesia menunjukkan penyebaran COVID-19 di Tiongkok mulai berkurang dan berdampak positif pada kenaikan kegiatan ekonomi di Tiongkok. Namun demikian, ketidakpastian pasar keuangan makin meningkat pasca ditemukannya kasus COVID-19 di luar Tiongkok. Investor global menarik penempatan dananya di pasar keuangan negara berkembang dan mengalihkan kepada aset keuangan dan komoditas yang dianggap aman seperti UST Bond dan emas. Kondisi ini kemudian menekan pasar keuangan dunia dan memberikan tekanan depresiasi cukup tajam pada banyak mata uang global, termasuk Indonesia. Bank Indonesia memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah dan Otoritas lain dalam melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar Rupiah dan memitigasi dampak risiko COVID-19 terhadap perekonomian domestik. Pemerintah telah dan akan terus meningkatkan ruang stimulus fiskal dan memberikan kemudahan berusaha di sektor riil termasuk kegiatan pariwisata dan ekspor-impor, sehingga dapat menopang pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia terus konsisten menjaga stabilitas moneter, nilai tukar Rupiah, dan pasar keuangan, serta mendorong momentum pertumbuhan ekonomi. Otoritas Jasa Keuangan menempuh kebijakan untuk melakukan stabilisasi pasar saham serta terus memperkuat ketahanan industri perbankan dan jasa keuangan lain. Pada RDG 19-20 Februari 2020, Bank Indonesia telah menempuh berbagai kebijakan untuk memitigasi risiko COVID-19. Suku bunga kebijakan, BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) diturunkan sebesar 25 bps menjadi 4,75%. Strategi operasi moneter juga terus diperkuat guna menjaga kecukupan likuiditas dan mendukung transmisi bauran kebijakan yang akomodatif. Selain itu, Bank Indonesia juga menyesuaikan ketentuan terkait perhitungan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) dengan memperluas cakupan pendanaan dan pembiayaan pada kantor cabang bank di luar negeri yang diperuntukkan bagi ekonomi Indonesia. Kebijakan sistem pembayaran juga terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi antara lain melalui perluasan akseptasi QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) serta elektronifikasi bansos dan transaksi keuangan Pemda. Dalam rangka memperkuat koordinasi dan berbagai langkah kebijakan yang telah diambil sebelumnya, Bank Indonesia pada hari ini menempuh beberapa langkah kebijakan lanjutan untuk menjaga stabilitas moneter dan pasar keuangan, termasuk memitigasi risiko COVID-19. Langkah penguatan tersebut meliputi lima kebijakan:
  1. Meningkatkan intensitas triple intervention agar nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya dan mengikuti mekanisme pasar. Untuk itu, Bank Indonesia akan mengoptimalkan strategi intervensi di pasar DNDF, pasar spot, dan pasar SBN guna meminimalkan risiko peningkatan volatilitas nilai tukar Rupiah.
  2. Menurunkan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) Valuta Asing Bank Umum Konvensional, dari semula 8% menjadi 4%, berlaku mulai 16 Maret 2020. Penurunan rasio GWM Valas tersebut akan meningkatkan likuiditas valas di perbankan sekitar 3,2 miliar dolar AS dan sekaligus mengurangi tekanan di pasar valas.
  3. Menurunkan GWM Rupiah sebesar 50bps yang ditujukan kepada bank-bank yang melakukan kegiatan pembiayaan ekspor-impor, yang dalam pelaksanaannya akan berkoordinasi dengan Pemerintah. Kebijakan ini diharapkan dapat mempermudah kegiatan ekspor-impor melalui biaya yang lebih murah. Kebijakan akan diimplementasikan mulai 1 April 2020 untuk berlaku selama 9 bulan dan sesudahnya dapat dievaluasi kembali.
  4. Memperluas jenis underlying transaksi bagi investor asing sehingga dapat memberikan alternatif dalam rangka lindung nilai atas kepemilikan Rupiah.
  5. Menegaskan kembali bahwa investor global dapat menggunakan bank kustodi global dan domestik dalam melakukan kegiatan investasi di Indonesia. Ke depan, Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan pasar keuangan dan perekonomian, termasuk dampak COVID-19 serta terus memperkuat bauran kebijakan dan koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait, untuk mempertahankan stabilitas ekonomi, mendorong momentum pertumbuhan ekonomi, serta mempercepat reformasi struktural.

EKONOMI GLOBAL

 

  • AUDUSD bergerak terbatas di awal sesi Selasa (3/3) dengan sedikit melemah, di tengah antisipasi pasar pada peluang pemangkasan suku bunga acuan bank sentral Australia pagi nanti. Reserve bank of Australia dijadwalkan akan mengumumkan kebijakan moneter pada jam 10:30 WIB nanti, dengan ekspektasi terjadi pemangkasan sebesar 25 bps, menjadi 0.50%. Tetapi beredar kembali kabar bahwa rencana pemangkaan tersebut mungkin akan diundur atau dibatalkan, dan tingkat suku bunga acuannya akan bertahan di level 0.75%, berpotensi menguatkan AUDUSD.  Selain itu, Ketua Bank of England dan anggota MPC lainnya akan membacakan laporan kebijakan moneter dihadapan komite keuangan parlemen Inggris pada jam 16:30 WIB, bila pernyataan bernada hawkish, GBPUSD berpotensi menguat.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpeluang naik menguji level resisten di $1610 – $1615 bila minat terhadap logam mulia masih berlanjut di tengah pelemahan dolar AS. Level support pada kisaran $1575 – $1584.

MINYAK

Harapan pemangkasan produksi dari OPEC membantu penguatan harga minyak di awal hari ini, berpeluang menguji resisten $48.50 – $49.00. Level Support pada level $47.00 – $47.35.

EURUSD

EURUSD berpotensi bergerak naik menguji level resisten di 1.1185 – 1.1200 bila pelemahan dolar berlanjut dan mendukung minat pada aset berisiko. Level support pada kisaran 1.1080 – 1.1100.

GBPUSD

Nantikan laporan moneter BoE jam 16:30 WIB, GBPUSD berpeluang naik menguji resisten 1.2825 – 1.2850 bila pernyataan bernada hawkish. Level support pada kisaran 1.2700 – 1.2725.

USDJPY
Bila pelemahan dolar AS berlanjut, berpeluang menekan USDJPY turun menguji support 107.50 – 107.85. Level resisten pada kisaran 108.85 – 109.00.

AUDUSD

Nantikan kebijakan moneter RBA jam 10:30 WIB, bila terjadi pemangkasan suku bunga lebih dari ekspektasi, berpeluang menekan AUDUSD turun menguji support 0.6450 – 0.6500. Sebaliknya bila pemangkasan suku bunga dibatalkan, berpeluang mendukung AUDUSD naik menguji resisten 0.6570 – 0.6620.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Selasa 03/03/2020 pukul 14.07 WIB :

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.