Selasa, 03 Desember 2019

  • Seluruh indeks return obligasi melemah pada transaksi kemarin. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) turun –0,30% ke level 272,4070. Begitu pula dengan INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) yang turun –0,32% ke level 267,2031 dan INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) yang turun –0,09% ke level 297,3741. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) bergerak Rata-rata yield tenor 1-30tahun naik +5,85bps. Kenaikan rata-rata yield pada ketiga kelompok tenor sebesar: pendek (<5tahun) +4,92bps; menengah (5-7tahun) +6,60bps; dan panjang (>7tahun) +5,92bps. INDOBeXG-Effective Yield pada perdagangan kemarin naik sebesar +0,0728poin ke level 7,0210. Harga kelompok SUN benchmark terkoreksi dengan rata-rata sebesar –38,56bps. Penurunan harga terbesar dicatat seri FR0068 yakni –44,11bps sedangkan koreksi harga terendah dicatat seri FR0077 sebesar –30,46bps. Secara keseluruhan harga SUN seri FR dan ORI juga bergerak melemah dengan rata-rata sebesar –37,73bps. Dengan demikian INDOBeXG-Clean Price kemarin melemah sebesar –0,39% ke level 114,6141. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder turun dari sisi total frekuensi yakni sebesar –8,60% menjadi 691 transaksi. Sementara itu total volume meningkat +2,82% menjadi Rp12,24tn. Peningkatan volume lebih disebabkan oleh transaksi obligasi negara tenor panjang dengan akumulasi kenaikan sebesar Rp536miliar dalam sehari. FR0082 menjadi seri SBN teraktif dengan 109 transaksi sekaligus mencatatkan volume terbesar yakni senilai Rp2,32tn. Pada obligasi korporasi, seri WSKT03BCN1 mencatatkan total volume terbesar senilai Rp152miliar sekaligus menjadi yang teraktif dengan 17 transaksi. Senada dengan sesi siangnya, pasar obligasi domestik bergerak bearish hingga sesi penutupan kemarin. Ditengah rilis inflasi domestik yang masih terkendali dalam rentang BI, sentimen negatif diperkirakan berasal dari kembali meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap polemik hubungan dagang AS-China yang tak kunjung mendapat kepastian penyelesaian. Alhasil, investor diperkirakan tengah menyasar aset yang lebih bersifat safe haven, salah satunya US Dollar sehingga hal tersebut turut berdampak pada berlanjutnya tren depresiasi Rupiah. Pada perdagangan kemarin, kurs spot Rupiah melemah 17poin ke level Rp14.125/US$. Namun berbeda dengan kinerja pasar surat utang, kinerja IHSG naik +1,97% ke level 6.130,06. Pada perdagangan hari ini, pasar obligasi Indonesia berpotensi meneruskan tren pelemahan. Negatifnya kinerja pasar diperkirakan lebih disebabkan oleh ancaman terbaru dari Presiden Trump yang akan mengenakan tarif bea masuk terbaru untuk beberapa negara Amerika Latin dan Eropa. Kondisi tersebut diprediksi akan semakin meningkatkan risiko dan ketidakpastian untuk perekonomian global.
  • Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada November 2019 tetap rendah dan terkendali. Inflasi IHK pada November 2019 yang tetap rendah sebesar 0,14% (mtm) ditopang oleh inflasi kelompok inti yang melambat dan inflasi kelompok administered prices yang stabil. Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK sampai dengan bulan November 2019 mencapai 2,37% (ytd), atau secara tahunan tercatat 3,00% (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi Oktober 2019 sebesar 3,13% (yoy). Bank Indonesia tetap konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, guna memastikan inflasi terjaga dalam kisaran sasaran. Bank Indonesia memprakirakan inflasi yang rendah akan berlanjut sehingga inflasi IHK 2019 berada di sekitar 3,1% dan tetap terjaga dalam kisaran sasaran 3,0±1% pada 2020. Inflasi inti melambat, sehingga menopang terkendalinya inflasi IHK. Inflasi inti tercatat sebesar 0,11% (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,17% (mtm). Berdasarkan komoditas, melambatnya inflasi inti terutama didukung oleh kembali normalnya harga mie dan nasi dengan lauk yang pada bulan sebelumnya menjadi penyumbang inflasi. Sementara itu, komoditas lainnya seperti tarif kontrak rumah dan tarif sewa rumah menjadi penyumbang inflasi inti pada November 2019. Secara tahunan, inflasi inti tercatat sebesar 3,08% (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi pada Oktober 2019 sebesar 3,20% (yoy). Inflasi inti yang terkendali tidak terlepas dari ekspektasi inflasi yang baik seiring dengan konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas harga, permintaan agregat yang terkelola baik, nilai tukar yang bergerak sesuai dengan fundamentalnya, dan pengaruh harga global yang minimal. Inflasi kelompok administered prices terpantau stabil. Inflasi administered prices tercatat sebesar 0,03% (mtm), atau sama dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya. Inflasi yang tercatat stabil dipengaruhi oleh kenaikan inflasi komoditas aneka rokok di tengah berlanjutnya deflasi angkutan udara. Meningkatnya inflasi aneka rokok merupakan dampak lanjutan dari pengumuman kebijakan kenaikan cukai rokok pada 2020. Sementara itu, tarif angkutan udara mengalami deflasi seiring pola musiman penurunan permintaan. Secara tahunan, inflasi kelompok administered prices tercatat sebesar 1,08% (yoy), menurun dibandingkan dengan 1,58% (yoy) pada bulan sebelumnya. Kelompok volatile food mencatat inflasi sebagaimana pola musimannya. Kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 0,42% (mtm), setelah pada bulan sebelumnya mencatat deflasi 0,47% (mtm). Inflasi pada kelompok volatile food terutama didorong oleh kenaikan harga komoditas bawang merah, tomat sayur, tomat buah, daging ayam ras, telur ayam ras, bayam,dan jeruk. Inflasi pada komoditas bawang merah dan sayur-sayuran terutama disebabkan oleh mundurnya periode tanam akibat kemarau panjang. Sementara itu, inflasi pada komoditas daging ayam ras dan telur ayam ras didorong oleh meningkatnya permintaan menjelang akhir tahun sesuai dengan pola musimannya. Secara tahunan, inflasi kelompok volatile food tercatat sebesar 5,02% (yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 4,82% (yoy).

EKONOMI GLOBAL

  • Dolar Australia bertahan di level tertinggi pada hari Selasa (3/12) di tengah melemahnya data manufaktur AS turun lebih dari yang diharapkan pada bulan November dan surplus neraca berjalan Australia ,naik lebih tinggi menjadi A$ 7,9 miliar, mengalahkan perkiraan kenaikan A$ 6,3 miliar dari kuartal kedua A$ 5,9 miliar. Selanjutnya pasar akan menantikan keputusan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA), yang dijadwalkan pada pukul 10:30 WIB. Bank secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di 0,75% dan memberikan penurunan suku bunga pada bulan Februari.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpotensi bergerak naik menguji level resisten di 1467 – 1472 karena didukung oleh pelemahan Wall Street serta ketidakpastian negosiasi dagang AS-Tiongkok. Namun jika turun, harga emas berpeluang bergerak menguji level support di 1458 – 1453.

MINYAK

Harga minyak berpeluang menguat dalam jangka pendek menguji level resisten di 56.70 – 57.00 karena ditopang oelh rencana perpanjangan pemangkasan produksi OPEC, namun ketidakpastian kesepakatan dagang AS-Tiongkok berpeluang membatasi kenaikan, support harga minyak berada pada level 55.00 – 54.70.

EURUSD

EURUSD berpotensi memperpanjang kenaikan dalam jangka pendek selama mampu bertahan di atas level support 1.1040 – 1.1000, resisten EURUSD berada pada kisaran 1.1110 – 1.1140.

GBPUSD

GBPUSD berpotensi bergerak naik menguji level resisten di 1.2950 – 1.2980 karena dolar AS yang melemah. Namun jika bergerak turun GBPUSD berpotensi menguji level support di kisaran 1.2900 – 1.2880.

USDJPY

Dolar AS yang melemah dan pelemahan Wall Street berpeluang menekan USDJPY menguji level support di 108.80 – 108.60. Resisten USDJPY berada pada kisaran 109.40 – 109.70.

AUDUSD

AUDUSD berpotensi bergerak turun menguji level support di 0.6800 – 0.6780 jika RBA pangkas suku bunga dan berikan komentar dovish pada kebijakan moneternya. Namun jika sebaliknya AUDUSD berpotensi melanjutkan kenaikan menguji level resisten di 0.6840 – 0.6870.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Selasa 03/12/2019 pukul 09.55 WIB :

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.