Selasa, 01 Oktober 2019

  • Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh melambat pada Agustus 2019. Posisi M2 pada Agustus 2019 tercatat Rp5.933,0 triliun atau tumbuh 7,3% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 7,8% (yoy). Perlambatan M2 terutama terjadi pada komponen uang beredar dalam arti sempit (M1) dan uang kuasi. M1 pada Agustus 2019 tumbuh melambat, dari 7,4% (yoy) menjadi 6,6% (yoy), baik pada komponen uang kartal maupun giro rupiah. Komponen uang kuasi juga tumbuh melambat, dari 8,0% (yoy) menjadi 7,4% (yoy) pada Agustus 2019, dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan tabungan dan simpanan berjangka serta giro valuta asing (valas). Berdasarkan faktor yang memengaruhi, perlambatan M2 terutama disebabkan oleh aktiva dalam negeri bersih. Aktiva dalam negeri bersih pada Agustus 2019 tumbuh sebesar 8,9% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 10,1% (yoy). Perlambatan aktiva dalam negeri bersih terutama disebabkan oleh pertumbuhan penyaluran kredit yang lebih rendah, dari 9,7% (yoy) pada Juli 2019 menjadi 8,6% (yoy) pada Agustus 2019. Tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat juga masih mengalami kontraksi sebesar -2,5% (yoy) meskipun tidak sedalam bulan sebelumnya. Perkembangan tersebut sejalan dengan peningkatan tagihan sistem moneter kepada Pemerintah Pusat terutama pada instrumen obligasi negara. Meskipun demikian, perlambatan M2 tersebut tertahan seiring dengan pertumbuhan aktiva luar negeri bersih yang meningkat dari 1,5% pada Juli 2019 menjadi 2,9% (yoy) pada Agustus 2019, sejalan dengan meningkatnya cadangan devisa dan penurunan DPK valas.
  • Hari pertama perdagangan pekan ini, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) naik +0,12% ke level 266,8418. INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) dan INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) juga naik masing-masing ke level 261,7891 (+0,13%) dan ke level 290,8825 (+0,08%). Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) bergerak mixed dengan rata-rata yield tenor 1-30 tahun naik sebesar +0,54bps. Penurunan yield hanya dicatatkan kelompok tenor pendek (<5tahun) sebesar –0,69bps. Sedangkan rata-rata yield tenor menengah (5-7tahun) dan panjang (>7tahun) naik masing-masing sebesar +0,62bps dan +0,74bps. Meski demikian, INDOBeXG-Effective Yield mampu bergerak positif yakni turun –0,0128poin ke level 7,1686. Pergerakan harga SUN benchmark di akhir sesi end of day Senin senada dengan sesi siangnya dengan rata-rata harga pada seluruh seri naik +10,03bps. Hanya harga FR0077 yang ditutup melemah yakni –10,00bps. Sedangkan selebihnya menguat di rentang +9,60bps hingga +20,53bps. Secara keseluruhan, harga SUN seri FR&ORI berlanjut bergerak mixed dengan rata-rata harga pada seluruh seri naik +4,26bps. INDOBeXG-Clean Price kemarin terpantau ditutup di level 113,7301 (+0,07%). Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder kemarin terpantau meningkat. Total frekuensi naik +17,13% menjadi 807 kali transaksi, dan total volume naik +9,33% menjadi sebesar Rp14,59tn. Transaksi SUN benchmark juga terpantau semarak dengan total volume Rp3,33tn (+15,53%) dan total frekuensi 141 transaksi (+62,07%). Seri SBN yang mencatat total volume transaksi terbesar masih dipegang FR0082 senilai Rp1,46tn. Pada obligasi korporasi, total volume transaksi terbesar dicatatkan seri BDMN01ACN1 dengan total nilai Rp132miliar. Pasar obligasi domestik mengawali pekan ini di zona hijau meski sempat tertekan di sesi siang. Ditengah masih minimnya sentimen dominan lanjutan, maka performa positif yang ditunjukkan pasar diprediksi lebih dikarenakan oleh faktor trading. Kondisi tersebut turut tercermin dari harga SUN (seri FR&ORI) serta imbal hasil SBN yang bergerak mixed. Dari 43 seri yang beredar, 22 seri tampak mencatatkan penguatan harga di rentang +0,48bps hingga +60,30bps. Sedangkan 21 seri lainnya terkoreksi pada kisaran –0,10bps hingga –37,25bps. Adapun imbal hasil SBN terpantau bergerak di antara –2,65bps hingga +2,26bps. Diketahui, sentimen yang beredar di pasar kemarin masih sekitar kesimpangsiuran berita terkait policy dagang AS-China yang kali ini adalah mengenai isu pembatasan investasi AS di China. Selain itu, isu upaya pemakzulan Presiden Trump yang kabarnya didukukung masyarakat AS semakin memberikan ketidakpastian pasar. Rupiah di pasar spot kemarin juga langsung melemah hingga –22,0poin ke level Rp14.195/US$. Pasar obligasi diprediksi bergerak mendatar pada perdagangan hari ini. Selain belum adanya sentimen dominan lanjutan, adanya rencana aksi demo mahasiswa jelang pelantikan anggota DPR periode 2019-2024 pada hari ini berpotensi menyebabkan menurunnya aktivitas pasar sekunder obligasi. Meski demikian, rilis beberapa data ekonomi penting di China yang terpantau lebih baik dari konsensus diharapkan dapat menjadi katalis positif. Hari ini, pemerintah akan menyelenggarakan lelang SBSN pertama di Q4-2019 yang diperkirakan mencatat penurunan total penawaran masuk.

EKONOMI GLOBAL

 

  • Dolar AS berada di level tertinggi 2019 pada hari Senin (1/10) sebelum rilis data yang diperkirakan akan menunjukkan sektor manufaktur AS kembali ke pertumbuhan, yang akan meredakan kekhawatiran tentang dampak dari perang perdagangan AS – Tiongkok yang sedang berlangsung. Selain itu pasar akan tertuju pada RBA Cash Rate pada jam 11:30 WIB, dan anggota FOMC, Clarida, Bullard, Bowman yang akan berpidato dimulai pada jam 19:50 WIB.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpotensi bergerak turun menguji level support di 1460 – 1455 karena tertekan oleh penguatan dolar dan tingginya minat pelaku pasar terhadap minat aset beresiko, sementara itu jika bergerak naik harga emas berpeluang menguji level resisten di 1485 – 1490.

MINYAK

Harga minyak berpeluang bergerak turun menguji level 53.55 – 53.00 karena tertekan oleh Arab Saudi yang menjaga pasokan minyak dan meredanya ketegangan di Timur Tengah. Namun optimisme perundingan dagang AS – Tiongkok berpeluang menopang harga minyak menguji resisten di 55.50 – 56.00.

EURUSD

EURUSD berpotensi bergerak turun menguji level support di 1.0865 – 1.0835 karena tertekan oleh dolar yang menguat ke level tertinggi 2019 dan ECB yang berpotensi melonngarkan kebijakan moneternya. Resisten EURUSD berada pada level 1.0925 – 1.0940.

GBPUSD

GBPUSD berpeluang bergerak turun menguji level support di 1.2250 -1.2220 karena tertekan oleh kekhawatiran Brexit dan dan dolar AS yang menguat. Resisten GBPUSD berada pada level 1.2340 – 1.2370.

USDJPY

Tertekan oleh dolar AS yang menguat ke level tertinggi 2019 dan minat pelaku pasar yang tinggi terhadap aset beresiko, USDJPY berpeluang bergerak naik menguji level resisten 108.40 – 108.70. Support USDJPY berada pada level 107.50 – 107.30.

AUDUSD

AUDUSD berpeluang bergerak turun menguji level support di 0.6720 – 0.6700 jika RBA kembali memangkas suku bunga acuan, jika bergerak naik AUDUSD berpotensi menguji resisten di 0.6780 – 0.6800.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Selasa 01/10/2019 pukul 09.42WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.