Rabu, 18 September 2019

  • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) naik tipis sebesar +0,06% ke level 266,5044 pada akhir sesi end of day Kenaikan tipis juga dicatatkan INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) sebesar +0,06% ke level 261,5510. Begitu pula dengan kinerja INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) yang naik sebesar +0,07% ke level 289,7256. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) dominan bullish. Rata-rata yield pada tenor 1-30 turun tipis sebesar –0,69bps. Kenaikan rata-rata yield dicatatkan kelompok tenor menengah (5-7tahun) sebesar +0,18bps. Sedangkan rata-rata yield tenor pendek (<5tahun) dan panjang (>7tahun) turun masing-masing sebesar –2,40bps dan –0,51bps. Dengan demikian INDOBeXG-Effective Yield kemarin turun tipis –0,0090poin ke level 7,1548. Harga seri-seri SUN benchmark bervariasi. Penurunan harga SUN acuan terjadi pada FR0068 dan FR0079, sedangkan kenaikan harga dicatatkan FR0077 dan FR0078. Secara keseluruhan, harga SUN seri FR dan ORI juga bergerak bervariasi dengan rata-rata 43 serinya naik tipis sebesar +3,64bps. Dengan demikian kinerja INDOBeXG-Clean Price kemarin naik sebesar +0,0409poin ke level 113,9374. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder terpantau naik. Total volume meningkat +8,98% menjadi sebesar Rp15,02tn, dan total frekuensi naik +21,35% menjadi 898 transaksi. Kenaikan tersebut dipicu oleh transaksi obligasi negara kelompok tenor pendek dan menengah yang mencatatkan kenaikan volume masing-masing sebesar Rp3,01tnn dan Rp1,28tn dalam sehari. Seri FR0075 menjadi SBN teraktif dengan 150 transaksi (volume Rp275miliar). Pada obligasi korporasi, seri teraktif diraih oleh seri BMRI01BCN2 dengan 9 transaksi (volume Rp18miliar). Pada perdagangan Selasa, pasar obligasi Indonesia bergerak sideways dengan kecenderungan menguat. Terbatasnya pola pergerakan pasar terlihat dari tipisnya perubahan imbal hasil obligasi negara seluruh tenor yang hanya berubah pada rentang –3,10bps hingga +1,46bps. Alhasil, kondisi tersebut turut mendorong tipisnya kenaikan indeks return obligasi konvensional maupun sukuk pada kisaran +0,001% hingga +0,07%. Pergerakan pasar kemarin diperkirakan lebih didorong oleh faktor trading yang disertai aksi wait and see pelaku pasar menjelang rilis FOMC Meetings dan RDG-BI Kamis esok. Seperti yang diketahui, walaupun konsensus pasar memperkirakan akan ada penurunan FFR ke level 1,75%-2,00% namun pasar tetap menunggu dan concern terhadap bagaimana sikap The Fed selanjutnya terhadap kebijakan kedepannya. Sebagai informasi, pemerintah kemarin telah melaksanakan lelang SBSN terakhir di Q3-2019 dengan dana yang berhasil diserap mencapai Rp7,05tn. Pada perdagangan hari ini, pasar obligasi domestik berpotensi meneruskan tren terbatas akibat wait and see terhadap rapat Bank Sentral The Fed dan Bank Indonesia. Namun, optimisme dari kelanjutan hubungan dagang AS-China yang hari ini akan menggelar perbincangan setaraf Wakil Menteri berpotensi menjadi faktor positif untuk pasar SBN. Pada pembukaan pagi ini, kurs spot Rupiah dibuka menguat ke level Rp14.078/US$.

EKONOMI GLOBAL

  • Federal Open market Committee akan merilis hasil pertemuan pada dini hari nanti, dengan estimasi pemotongan suku bunga acuan AS menjadi 2.0%, dan konferensi pers oleh ketua Federal Reserve AS, Jerome Powell, 30 menit setelahnya. Bila terjadi pemangkasan suku bunga acuan, dan proyeksi perekonomian AS dipandang dovish, berpotensi melemahkan dolar AS terhadap produk lainnya. Data penggerak lainnya hari ini adalah data indeks harga konsumen dan produsen Inggris dan data indeks harga konsumen final Zona Euro pada sore hari nanti. Selanjutnya data indeks harga konsumen Kanada, perumahan AS, dan cadangan persediaan minyak AS versi EIA pada malam harinya.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpeluang bergerak naik dalam jangka pendek menguji level $1507 – $1508 di tengah sentimen peluang pemotongan suku bunga acuan AS, tetapi bila proyeksi ekonomi AS dipandang lebih baik dapat melemahkan harga emas mencoba level $1490 – $1492.

MINYAK

Harga minyak berpeluang bergerak turun menguji kisaran $57.00 – $58.00 di jangka pendek, atas meredanya kekhawatiran kurangnya persediaan jangka menengah setelah serangan ke kilang minyak Saudi Aramco. Sebaliknya bila data persediaan mendukung penguatan dapat mencoba level $61.00 – $62.50.

EURUSD

EURUSD berpeluang bergerak naik dalam jangka pendek menguji level resisten di 1.1100 – 1.1110 bila data ekonomi Zona Euro lebih baik dari estimasi pasar. Tetapi bila hasil yang dirilis lebih buruk dari estimasi dapat menekan EURUSD turun menguji kisaran 1.0960 – 1.1000.

GBPUSD

Kembalinya sentimen positif terhadap kesepakatan pra Brexit berpotensi menguatkan GBPUSD mencoba level 1.2550 – 1.2600 untuk jangka pendek. Sebaliknya data indeks harga konsumen Inggris yang diesimasikan turun berpotensi lemahkan GBPUSD menguji level 1.2420 – 1.2460.

USDJPY

Laporan neraca dagang Jepang yang stabil berpotensi melemhakan Yen jepang, potensi kuatkan USDJPY menguji resisten 108.30 – 108.60. Sebaliknya sentimen pemangkasan suku bunga acuan AS mungkin lemahkan USDJPY menguji 107.50 – 107.80.

AUDUSD

AUDUSD berpeluang turun menguji support di 0.6800 – 0.6850 dari hasil data leading indeks Australia yang lebih rendah dari estimasi. Sementara itu jika bergerak naik AUDUSD berpotensi menguji resisten di 0.6885 – 0.6930.

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.