Rabu, 18 Maret 2020

 

  • Sesi End of Day Selasa, Indeks Return ICBI Turun –0,68%. Hari kedua perdagangan pekan ini, seluruh indeks return obligasi domestik ditutup melemah. Harga SUN seri FR didominasi melemah dengan rata-rata harga pada seluruh seri turun sebesar –79,11bps. Sementara penurunan rata-rata kelompok benchmark tercatat sebesar –92,00bps. Yield obligasi negara juga tertekan naik pada seluruh tenor dengan kenaikan tertinggi dialami tenor 5-tahun yakni +19,03bps. Kembali terkoreksinya harga obligasi pada transaksi hari ini terpicu oleh meningkatnya potensi resesi ekonomi global karena banyaknya negara yang melakukan lockdown guna mengantisipasi Covid-19. Hingga saat ini diketahui sudah ada 11 negara yang memutuskan untuk melakukan lockdown. Tekanan semakin besar setelah Rupiah di pasar spot juga sudah tembus ke level Rp15.173/US$. Senada dengan pasar surat utang, IHSG pada perdagangan hari ini turut ditutup melemah yakni –4,99% di level 4.456,75. Tren koreksi diprediksi berlanjut mewarnai pasar obligasi pada perdagangan hari ini terpicu maraknya aksi jual di pasar. Isu Covid-19 yang berdampak pada potensi resesi global serta pelemahan Rupiah masih akan menjadi faktor terkoreksinya harga obligasi.
  • Lembaga Pemeringkat Rating and Investment Information, Inc. (R&I) menaikkan peringkat Sovereign Credit Rating Republik Indonesia dari BBB/outlook stabil menjadi BBB+/outlook stabil (Investment Grade) pada 17 Maret 2020. Menanggapi keputusan tersebut, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyatakan “Peningkatan rating Indonesia menunjukkan masih terjaganya keyakinan stakeholder internasional terhadap kinerja perekonomian Indonesia sebagai hasil dari upaya bersama di area moneter, fiskal, dan reformasi struktural untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang kuat, didukung oleh stabilitas makroekonomi. Ke depan, Bank Indonesia akan tetap waspada dan terus memonitor perkembangan ekonomi global dan domestik, termasuk dampak Covid-19, dengan tetap memperkuat bauran kebijakan dan koordinasi dengan Pemerintah serta otoritas terkait lainnya dalam rangka menjaga stabilitas makroekonomi, mendorong reformasi struktural, dan mendukung momentum pertumbuhan ekonomi.” Menurut R&I, keputusan peningkatan rating didukung oleh beberapa faktor utama. Pertama, implementasi kebijakan yang kuat untuk meningkatkan potensi pertumbuhan ekonomi didukung fondasi politik yang kokoh. Dengan implementasi berbagai kebijakan tersebut, ekonomi diperkirakan berlanjut tumbuh stabil dalam jangka menengah. Kedua, dengan memastikan defisit fiskal tetap terjaga, pemerintah menjaga rasio hutang pada tingkat yang rendah. Ketiga, cadangan devisa yang memadai relatif terhadap utang jangka pendek. Menurut R&I, resiliensi ekonomi Indonesia terhadap guncangan eksternal tetap terjaga seiring dengan stance kebijakan yang menekankan pada stabilitas makroekonomi dan disiplin fiskal. Selama beberapa tahun terakhir ekonomi riil telah tumbuh sekitar 5% per tahun. Meskipun merebaknya wabah novel coronavirus dapat menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia, namun Pemerintah dan Bank Sentral bekerja untuk menopang perekonomian dan menjaga stabilitas makroekonomi. Mempertimbangkan kekuatan fundamental ekonomi Indonesia yang tetap terjaga dan lingkungan politik yang stabil, R&I memperkirakan perekonomian akan kembali membaik apabila dampak novel coronavirus  dapat dikendalikan. Pemerintah mentargetkan pengesahan Omnibus Law sehingga dapat meningkatkan iklim investasi dan menciptakan lapangan kerja. Implementasi aturan tersebut akan mendorong investasi dan mendukung penguatan fundamental ekonomi serta mendorong pertumbuhan dalam jangka menengah-panjang. Di sisi eksternal, neraca transaksi berjalan mengalami defisit yang rendah. Defisit transaksi berjalan diperkirakan sebesar 2-3% pada tahun 2020 dan ke depan. Cadangan devisa mampu membiayai 7,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Risiko nilai tukar di sektor swasta telah menurun sebagai dampak dari penerapan kebijakan bank sentral untuk mengendalikan risiko , termasuk penerapan peraturan terkait kewajiban untuk melakukan lindung nilai (hedging) atas utang dalam mata uang asing. Pada sisi fiskal, Pemerintah menjaga komitmen untuk memastikan disiplin fiskal. Pada 2020, Pemerintah memproyeksikan defisit fiskal sebesar 1,76% dari PDB. Pemerintah meningkatkan alokasi anggaran untuk pembangunan infrastruktur, mempertahankan rasio anggaran pendidikan dan kesehatan terhadap total pengeluaran, dan mengurangi alokasi anggaran untuk subsidi energi. R&I memandang positif upaya Pemerintah untuk meningkatkan kualitas pengeluaran dalam rangka memajukan prioritas kebijakan untuk peningkatan sumber daya manusia dan penguatan daya saing. Menurut R&I, stance kebijakan yang fokus pada stabilitas makroekonomi dan disiplin fiskal, serta komitmen kuat untuk reformasi struktural, menjadi aspek yang penting untuk terus dilaksanakan. R&I sebelumnya mengafirmasi Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada BBB/outlook stabil (Investment Grade) pada 26 April 2019.

EKONOMI GLOBAL

  • Dolar AS melonjak terhadap mata uang utama lainnya pada hari Selasa (17/33) karena pasar mencari tempat berlindung yang aman karena pandemi coronavirus global menekankan ekonomi yang saat ini lebih rentan seperti zona euro. Sementara itu logam kuning naik 3% pada hari Selasa, menghentikan penurunan beruntun selama lima hari berturut -turut, seiring sejumlah langkah-langkah stimulus yang bertujuan melindungi bisnis dan keluarga AS dari penutupan ekonomi yang dipaksakan oleh pandemi Covid-19.Market movers lainnya adalah rilis data CPI Kanada (19:30 WIB), Building Permits AS (19:30 WIB) dan Crude Oil Inventories (21:30 WIB).

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpotensi bergerak naik menguji level 1560 – 1570 karena tertopang oleh AS yang meluncurkan dukungan fiskal tambahan untuk membantu bisnis dan menopang ekonomi yang lebih luas.Level support harga emas berada pada kisaran 1515 – 1500.

MINYAK

Harga minyak berpeluang bergerak lebih rendah menguji level support di 25.00 – 24.50. karena potensi suplai yang berlebih seiring OPEC dan Rusia yang terus membanjiri pasar minyak,Level resisten harga minyak berada pada kisaran 29.00 – 30.00.

EURUSD

EURUSD berpotensi bergerak turun menguji level support 1.0950 – 1.0900 karena tertekan oleh

outlook penguatan dolar AS dan lemahnya ekonomi zona euro. bila mampu bergerak naik EURUSD berpeluang bergerak menguji resisten di 1.1050 – 1.1100.

GBPUSD

Outlook penguatan dolar AS lebih lanjut berpeluang menekan GBPUSD menguji level support di 1.2000 – 1.1950. Namun jika bergerak naik GBPUSD berpeluang menguji level resisten di 1.2170 – 1.2265.

USDJPY

USDJPY berpeluang bergerak naik menguji resiten di 107.85 – 108.55 karena Outlook kebijkan moneter yang lebih longgar dari BOJ dan potensi penguatan dolar AS karena investor mencari mata uang safe-haven di tengah meningkatnya ketakutan akan virus coronavirus. level support USDJPY berada pada level 106.40 – 106.00.

AUDUSD

AUDUSD berpotensi bergerak turun menguji level support di 0.5910 – 0.5840 karena dovishnya notula RBA, menguatnya dolar AS dan turunnya harga tembaga. Level resisten AUDUSD berada pada kisaran di 0.6110 -0.6150.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Rabu 18/03/2020 pukul 10.28 WIB :

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.