Rabu, 16 Oktober 2019

  • Pasar surat utang Indonesia berlanjut bertahan di zona hijau. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) dan INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) mencatat kenaikan yang sama yakni +0,12% masing-masing ke level 268,6700 dan level 263,6224. Sedangkan INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) naik +0,09% ke level 292,5410. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) juga berlanjut Rata-rata yield tenor 1-30 tahun turun sebesar –1,58bps. Memimpin penurunan yield adalah tenor pendek (<5tahun) dengan rata-rata –2,98bps. Mengikuti dibelakangnya adalah tenor menengah (5-7tahun) yang turun –1,95bps dan panjang (>7tahun) –1,29bps. INDOBeXG-Effective Yield kemarin turun –0,0210poin ke level 7,1099. Rally harga juga berlanjut mewarnai seluruh seri SUN benchmark. Rata-rata harga seluruh seri naik sebesar +9,48bps dengan kenaikan harga tertinggi sebesar +23,97 dicatat FR0068. Sedangkan penguatan terendah tecatat sebesar +0,87bps oleh FR0078. Harga SUN seri FR dan ORI juga berlanjut didominasi penguatan dengan rata-rata naik sebesar +10,44bps. INDOBeXG-Clean Price kemarin ditutup di level 114,1809, menguat +0,10% dari penutupan perdagangan Senin. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder kemarin terpantau meningkat dengan total frekuensi 1.057 transaksi (+14,15%) dan total volume sebesar Rp16,95tn (+4,86%). Namun, transaksi SUN benchmark terpantau turun dengan total volume Rp4,18tn (-39,97%) dalam 187 transaksi (-29,43%). FR0082 menjadi SBN teraktif ditransaksikan yakni 96 kali, sementara total volume transaksi terbesar dicatat FR0068 dengan total nilai Rp1,22tn. Dari korporasi, seri PPLN03BCN5 bertahan menjadi yang teraktif dengan 12 transaksi. Sedangkan total volume terbesar senilai Rp314miliar dicatat seri SMRA03ACN2. Penguatan harga berlanjut mewarnai mayoritas SUN seri FR dan ORI meski tidak setinggi perdagangan Senin. Ditengah penguatan harga 41 seri SUN , kenaikan rata-rata harga yang tercatat masih lebih rendah dari perdagangan Senin yakni +10,44bps berbanding 15,21bps. Penurunan rata-rata yield seluruh tenor juga mereda dari –2,33bps menjadi –1,58bps. Meredanya kenaikan tersebut disebabkan belum adanya jaminan bahwa damai dagang AS-China fase 1 betul-betul akan terealisasi. Selain itu, rilis neraca perdagangan Indonesia bulan September yang defisit US$160,5juta (konsensus surplus US$104,2juta) serta pelemahan Rupiah di pasar spot sebesar –26,0poin menjadi ke level Rp14.166/US$ turut menjadi penyebab tertahannya penguatan harga yang lebih tinggi. Meski demikian, pelaksanaan lelang SBSN kemarin berlangsung semarak. Tercermin dari total penawaran masuk yang mencatat oversubscribed 4,27 kali dan total dana dimenangkan pemerintah sebesar Rp7,04tn. IHSG pada perdagangan kemarin juga ditutup menguat +0,51% di level 6.158,17. Pasar obligasi domestik diprediksi berlanjut bergerak menguat meski tidak setinggi perdagangan kemarin. Kondisi tersebut terpicu wait and see finalisasi damai dagang AS-China fase 1 ditengah dipangkasnya kembali proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2019 menjadi 3,0% dari 3,2% pada bulan Juli lalu oleh IMF. Namun, adanya kemungkinan Inggris keluar dari Uni Eropa tidak dalam kondisi “No-Deal Brexit” mampu menjadi katalis positif di pasar.
  • Neraca perdagangan Indonesia pada September 2019 mengalami defisit 0,16 miliar dolar AS, setelah pada bulan sebelumnya mencatat surplus 0,11 miliar dolar AS. Defisit tersebut terutama dipengaruhi oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang menurun di tengah defisit neraca perdagangan migas yang stabil. Penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas disebabkan oleh ekspor nonmigas yang belum kuat di tengah impor nonmigas yang meningkat. Meskipun demikian, kinerja pertumbuhan ekspor secara keseluruhan menunjukkan perbaikan dari -10,0% (yoy) menjadi -5,7% (yoy) pada September 2019. Demikian pula kinerja pertumbuhan impor secara keseluruhan juga menunjukkan perbaikan dari -15,7% (yoy) menjadi -2,4% (yoy) pada September 2019. Neraca perdagangan nonmigas pada September 2019 tercatat surplus 0,60 miliar dolar AS, menurun dibandingkan dengan surplus pada bulan sebelumnya sebesar 0,87 miliar dolar AS. Kondisi ini dipengaruhi oleh ekspor nonmigas yang belum kuat sejalan dengan perekonomian dunia yang melambat dan harga komoditas yang menurun. Sebaliknya, kinerja impor nonmigas meningkat terutama didorong oleh meningkatnya impor barang konstruksi sejalan dengan masih kuatnya investasi bangunan. Sementara itu, defisit neraca perdagangan migas pada September 2019 tercatat sebesar 0,76 miliar dolar AS, tidak banyak berbeda dibandingkan dengan catatan bulan sebelumnya. Ekspor migas dalam bentuk minyak mentah dan gas menurun lebih dalam, baik secara nilai maupun volume, sedangkan ekspor produk minyak meningkat sejalan dengan kenaikan permintaan dari Malaysia. Adapun impor migas menurun antara lain dipengaruhi penurunan harga minyak dunia. Bank Indonesia memandang perkembangan neraca perdagangan pada September 2019 tidak terlepas dari pengaruh pertumbuhan ekonomi global yang melambat dan harga komoditas yang terus menurun. Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk meningkatkan ketahanan eksternal, termasuk prospek kinerja neraca perdagangan.

EKONOMI GLOBAL

   

  • Permintaan terhadap aset safe haven berpotensi kembali meningkat dalam jangka pendek di tengah kembali munculnya friksi baru antara AS dengan Tiongkok pasca DPR meloloskan RUU yang mengatur Hak Asasi Manusia dan Demokrasi Hong Kong. Namun, hasil tersebut segera mendapatkan respon dari Tiongkok yang mengatakan bahwa mereka akan membalas jika AS mensahkan RUU tersebut. Sentimen lainnya yang berpotensi akan menjadi penggerak pasar hari ini adalah perkembangan Brexit. Setelah kemarin dilaporkan kesepakatan semakin dekat antara Uni Eropa dengan Inggris. Kini pasar mendapatkan berita terbaru yang mengatakan bahwa para anggota parlemen partai DUP dan Irlandia terlihat tidak menyukai kesepakatan Brexit dari PM Inggris serta kepala negosiator Uni Eropa, Michael Barnier menunjukkan kekecewaanya terhadap proposal dari Inggris. Data ekonomi penting hari ini adalah data inflasi Inggris pukul 15:30 WIB, inflasi zona Euro pukul 16:00 WIB, inflasi Kanada pukul 19:30, dan data penjualan retail AS pukul 19:30 WIB.

Potensi Pergerakan

Emas

Harga emas berpeluang untuk bergerak naik dalam jangka pendek untuk menguji level resisten di $1485 – $1490 karena outlook akan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven dibalik kembali munculnya friksi terbaru antara AS dengan Tiongkok yang terkait dengan RUU Hong Kong di tengah belum adanya kepastian hubungan dagang di antara kedua negara tersebut. Namun, harga emas berpotensi untuk bergerak turun, menguji support di $1477 – $1472 jika data penjualan retail AS dirilis lebih baik dari estimasi.

Minyak

Outlook perlambatan ekonomi global serta suplai minyak mentah di AS yang diperkirakan meningkat berpeluang akan menjadi beban untuk pergerakan harga minyak dalam jangka pendek untuk menguji level support di $52.50 – $52.00. Sementara itu jika harga bergerak naik, level resisten terlihat di $53.40 – $53.90.

EURUSD

EURUSD berpeluang bergerak turun dalam jangka pendek pada outlook sentimen hindar aset berisko untuk menguji level support di 1.1000 – 1.0960. Namun, EURUSD berpeluang untuk bergerak naik, menguji level resisten di 1.1060 – 1.1100 jika data inflasi konsumen zona Euro yang dirilis pukul 16:00 WIB hasilnya lebih tinggi dari estimasi.

GBPUSD

GBPUSD berpotensi untuk berbalik turun dalam jangka pendek untuk membidik support di 1.2720 – 1.2670 di tengah kembali munculnya keraguan pasar akan tercapainya kesepakatan Brexit setelah adanya penolakan dari partai DUP dan pernyataan kekecewaan dari kepala negosiator Uni Eropa. Namun, jika data inflasi konsumen Inggris yang dirilis lebih tinggi dari estimasi pada pukul 15:30 WIB, berpeluang memicu kenaikan GBPUSD untuk menguji level resisten di 1.2800 – 1.2850.

USDJPY

USDJPY berpeluang untuk bergerak turun dalam jangka pendek di tengah outlook hindar aset berisiko karena ketegangan terbaru antara AS dengan Tiongkok, untuk menguji level support di 108.40 – 107.90. USDJPY berpeluang untuk bergerak naik menguji level resisten di 109.20 – 109.70 jika perilisan data penjualan retail AS dirilis lebih tinggi dari estimasi.

AUDUSD

AUDUSD berpeluang untuk bergerak turun dalam jangka pendek untuk menguji level support di 0.6720 – 0.6670 di balik memburuknya hubungan antara AS dengan Tiongkok pasca adanya ancaman dari Beijing bahwa mereka akan melakukan pembalasan jika AS mensahkan RUU Hong Kong. Jika bergerak naik, level resisten terlihat di 0.6780 – 0.6830.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Rabu 16/10/2019 pukul 11.32 WIB :

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.