Rabu, 02 Oktober 2019

  • Indeks Harga Konsumen (IHK) bulanan mengalami deflasi pada September 2019. Deflasi IHK tercatat sebesar 0,27% (mtm), berbeda dibandingkan dengan perkembangan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi 0,12% (mtm). Deflasi IHK terutama didorong deflasi kelompok volatile food dan penurunan inflasi inti, di tengah kenaikan inflasi kelompok administered prices. Dengan perkembangan tersebut, sampai dengan bulan September 2019, inflasi IHK 2019 mencapai 2,20% (ytd), atau secara tahunan tercatat 3,39% (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi Agustus 2019 sebesar 3,49% (yoy). Ke depan, Bank Indonesia tetap konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, guna memastikan terkendalinya inflasi. Inflasi 2019 diprakirakan berada di bawah titik tengah kisaran sasarannya 3,5±1% dan terjaga dalam kisaran sasaran 3,0±1% pada 2020. Inflasi inti melambat sehingga turut menopang terkendalinya inflasi IHK dalam sasarannya. Inflasi inti tercatat sebesar 0,29% (mtm), lebih rendah dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,43% (mtm). Penurunan inflasi inti dipengaruhi melambatnya beberapa komoditas utama penyumbang inflasi inti seperti emas perhiasan, jasa pendidikan, dan tarif sewa rumah. Secara tahunan, inflasi inti tercatat sebesar 3,32% (yoy), stabil dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,30% (yoy). Inflasi inti yang terkendali tidak terlepas dari ekspektasi inflasi yang baik seiring dengan konsistensi kebijakan Bank Indonesia menjaga stabilitas harga, permintaan agregat yang terkelola baik, nilai tukar yang bergerak sesuai dengan fundamentalnya, dan pengaruh harga global yang minimal. Harga kelompok volatile food kembali mengalami deflasi sebesar 2,26% (mtm), lebih dalam dibandingkan dengan deflasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,25% (mtm). Deflasi pada kelompok volatile food terutama dipengaruhi oleh penurunan harga pada komoditas aneka cabai, aneka bawang, daging ayam ras, telur ayam ras, ikan segar, dan sayur-sayuran. Sementara itu, komoditas beras mengalami inflasi yang tetap terkendali. Secara tahunan, inflasi kelompok volatile food tercatat sebesar 5,49% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 5,96% (yoy). Kelompok administered prices mengalami inflasi yang rendah. Pada September 2019, inflasi administered prices tercatat sebesar 0,01% (mtm), setelah pada bulan sebelumnya mengalami deflasi sebesar 0,40% (mtm). Inflasi disumbang oleh kenaikan harga komoditas rokok sedangkan tarif angkutan udara kembali mencatat deflasi seiring pola musiman penurunan permintaan. Secara tahunan, kelompok administered prices mencatat inflasi sebesar 1,88% (yoy), stabil dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,87% (yoy).
  • Ketiga indeks return obligasi terpantau bergerak menguat terbatas pada level perubahan yang sama yakni +0,02%. Akhir sesi end of day kemarin, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) berada di level 266,8936; INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) di level 261,8412; dan INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) di level 290,9279. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) berlanjut bergerak Rata-rata yield tenor 1-30 tahun naik sebesar +0,29bps dengan kenaikan yield dicatatkan kelompok tenor pendek (<5tahun) dan panjang (>7tahun) masing-masing sebesar +0,30bps dan +0,40bps. Sedangkan rata-rata yield tenor menengah (5-7tahun) turun –0,54bps. INDOBeXG-Effective Yield kemarin naik +0,0198poin ke level 7,1884. Sempat bergerak mixed, harga SUN benchmark berhasil ditutup menguat pada ketiga serinya dengan rata-rata harga pada seluruh seri naik +1,99bps. Koreksi harga hanya dicatatkan FR0079 sebesar –11,26bps, dan selebihnya menguat pada rentang +0,40bps hingga +11,25bps. Secara keseluruhan, harga SUN seri FR bergerak mixed dengan rata-rata harga turun –1,51bps. Sementara harga seri ORI dominan turun dengan rata-rata –2,79bps. Kemarin, INDOBeXG-Clean Price turun –0,0010poin ke level 113,7291. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder kemarin terpantau meningkat dari sisi frekuensi menjadi 971 kali ditransaksikan (+20,32%). Sedangkan total volume turun –8,86% menjadi sebesar Rp13,30tn. Pada transaksi SUN benchmark, kenaikan justru terjadi dari sisi volume yakni menjadi sebesar Rp4,39tn (+31,98%). Sementara total frekuensi turun –48,94% menjadi 72 transaksi. Seri obligasi negara yang mencatat total volume transaksi terbesar diraih seri sukuk, PBS002, senilai Rp1,31tn. Pada obligasi korporasi, total volume transaksi terbesar dicatatkan seri ADMF04CCN1 dengan total nilai Rp78miliar. Ditengah situasi yang serba tidak menentu, performa positif yang ditunjukkan pasar obligasi lebih disebabkan oleh faktor trading. Meski demikian pasar masih terus dibayangi wait and see kelanjutan hubungan dagang AS-China, serta aksi demo yang masih terus berlangsung di Indonesia. Semua kondisi tersebut turut tercermin pada aktivitas pasar sekunder yang belum semarak sehingga mendorong terbatasnya pergerakan pasar obligasi. Rupiah di pasar spot juga tidak bertenaga dengan ditutup melemah –21,0poin di level Rp14.216/US$ pada perdagangan kemarin (Bloomberg). Tekanan kemungkinan juga datang dari rilis data inflasi bulan September yang deflasi -0,27%mom (3,39%yoy). Penurunan tersebut dapat menjadi salah satu indikasi menurunnya daya beli masyarakat Indonesia. Namun ditengah semua tekanan tersebut, pelaksanaan lelang SBSN perdana yang diadakan pemerintah kemarin masih berlangsung semarak dengan oversubscibed 4,02 kali. Selain itu, level imbal hasil yang diminta peserta lelang juga dominan lebih rendah dari yield wajar PHEI. Mendasarkan pada sentimen yang saat ini beredar, pasar obligasi domestik berpotensi bergerak melemah. Ditengah masih minimnya sentimen dominan lanjutan, rilis data ISM-Manufacturing PMI di AS yang turun menjadi 47,8 atau jauh lebih rendah dari konsensus yang sebesar 50,4 dikhawatirkan berpotensi menimbulkan kembali isu terjadinya resesi di sana.

EKONOMI GLOBAL

 

  • Dolar AS jatuh pada hari Selasa (1/10) setelah data manufaktur dari ISM jatuh ke level terendah 10 tahun. Hal ini meningkatkan ketegangan bahwa dampak perang perdagangan dengan Tiongkok meluas ke ekonomi domestik AS. Sementara itu Presiden A.S. Donald Trump menyalahkan Federal Reserve atas dolar yang kuat, dalam tweetnya, Suku Bunga Fed terlalu tinggi. Mereka adalah musuh terburuk mereka sendiri, mereka tidak memiliki petunjuk. Menyedihkan. Market mover lainnya adalah rilis data ADP Non-Farm Employment Change pada jam 19:15 WIB Dan Crude Oil Inventories AS pada jam 21:30 WIB.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpotensi bergerak turun menguji level support di 1465 – 1460 dalam jangka pendek, namun dolar yang melemah karena tertekan data manufaktur PMI yang dirilis di bawah estimasi berpotensi menopang kenaikan harga emas menguji level resisten di 1490 – 1495.

MINYAK

Harga minyak berpeluang bergerak turun menguji level support di 53.0 – 52.50 di tengah meredahnya ketegangan di Timur Tengah dan melemahnya sektor manufaktur global yang berpotensi melemahkan permintaan minyak. Resisten harga minyak berada pada level 55.00 – 55.50.

EURUSD

EURUSD berpotensi bergerak naik menguji level resisten di 1.0970 – 1.0990 karena tertopang oleh pelemahan dolar AS yang tertekan oleh data manufaktur AS yang dirilis lebih rendah dari perkiraan. Namun jika bergerak turun EURUSD berpeluang menguji level support di 1.0900 – 1.0880.

GBPUSD

GBPUSD berpeluang bergerak naik menguji level resisten di 1.2340 – 1.2380 karena melemahnya data manufaktur Amerika Serikat ke level rendah 10 tahun yang berpotensi melemahkan dolar AS. Namun kekhawatiran akan Brexit berpeluang menekan GBPUSD menguji level support di 1.2230 – 1.2200.

USDJPY

Di tengah melamhnya dolar AS dan jatuhnya pasar aset beresiko setelah data manufaktur PMI AS dirilis lebih rendah dari perkiraan, USDJPY berpeluang bergerak turun menguji level support di 107.40 – 107.20. Namun jika bergerak naik USDJPY berpeluang menguji level resisten 107.50 – 107.80.

AUDUSD

AUDUSD berpeluang bergerak naik menguji level resisten di level 0.6745 – 0.6780 dalam jangka pendek, Namun RBA yang pangkas suku bunga berpeluang menekan turun AUDUSD untuk menguji level support di 0.6670 – 0.6640.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Rabu 02/10/2019 pukul 09.48 WIB :

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.