Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2019 sebesar 124,3 miliar dolar AS

  • Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2019 sebesar 124,3 miliar dolar AS, relatif stabil dibandingkan dengan posisi pada akhir Maret 2019 sebesar 124,5 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,0 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Posisi cadangan devisa pada April 2019 terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa migas, penerimaan valas lainnya, dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai didukung keyakinan terhadap stabilitas dan prospek perekonomian domestik yang tetap baik
  • Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia mengindikasikan akselerasi kenaikan harga properti residensial di pasar primer. Hal ini tercermin dari kenaikan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) triwulan I 2019 sebesar 0,49% (qtq), lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan pada triwulan sebelumnya sebesar 0,35% (qtq). Pada triwulan II 2019, IHPR diperkirakan meningkat sebesar 0,52% (qtq), terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan bangunan dan upah tenaga kerja. Pada triwulan I 2019, penjualan properti residensial meningkat sebesar 23,77% (qtq), lebih tinggi dibandingkan dengan penjualan pada triwulan sebelumnya yang menurun 5,78% (qtq). Peningkatan penjualan terjadi pada semua tipe rumah, dengan kenaikan penjualan tertinggi pada rumah tipe kecil. Hasil survei juga mengindikasikan bahwa mayoritas konsumen masih mengandalkan pembiayaan perbankan dalam membeli properti residensial. Persentase jumlah konsumen yang menggunakan fasilitas KPR dalam pembelian properti residensial sebesar 74,16%. Sejalan dengan kenaikan penjualan properti residensial, penyaluran KPR dan KPA pada triwulan I 2019 juga meningkat menjadi 4,02% (qtq) dari 1,14% (qtq) pada triwulan sebelumnya.

EKONOMI GLOBAL 

  • Pernyataan kebijakan moneter dari Reserve Bank of Australia pada pukul 8:30 WIB berpeluang akan memicu pergerakan dollar Australia di tengah pasar yang juga bersiap untuk kenaikan tarif impor barang-barang China ke AS yang dijadwalkan pada hari Jumat. Selanjutnya fokus akan tertuju pada perilisan data GDP dan produksi manufaktur Inggris pukul 15:30 WIB yang akan memicu pergerakan pada mata uang poundsterling di tengah ketidakpastian Brexit. Dan untuk di sesi AS, fokus pasar akan tertuju pada perilisan data tenaga kerja Kanada dan inflasi AS yang dirilis bersamaan pada pukul 19:30 WIB.

Potensi Pergerakan

Emas

Harga emas berpeluang bergerak naik dalam jangka pendek di tengah meningkatnya permintaan aset safe haven dibalik ketegangan dagang antara AS dengan China untuk menguji level resisten di $1288 – $1293. Namun, harga emas berpeluang untuk bergerak turun jika data inflasi AS yang dirilis pukul 19:30 WIB hasilnya lebih tinggi dari estimasi untuk menguji support di $1280 – $1275.

Minyak

Ketegangan dagang antara AS dengan China berpotensi akan memicu penurunan harga minyak dalam jangka pendek untuk menguji support di $61.40 – $60.90. Namun jika harga bergerak naik, level $62.20 – $62.70 akan menjadi level resistennya.

EURUSD

Sentimen hindar aset berisiko berpotensi akan memicu penurunan EURUSD dalam jangka pendek di tengah fundamental ekonomi di kawasan Euro yang pesimis akhir-akhir untuk menguji support di 1.1190 – 1.1140. Namun, EURUSD berpeluang untuk menguat untuk menguji resisten di 1.1250 – 1.1300 jika data neraca perdagangan Jerman yang dirilis pukul 13:00 WIB hasilnya lebih baik dari estimasi.

GBPUSD

Sentimen ketidakpastian Brexit berpotensi masih akan menjadi sentimen negatif bagi pergerakan GBPUSD dalam jangka pendek untuk menguji support di 1.2980 – 1.2930. Namun, jika data GDP dan produksi manufaktur Inggris yang dirilis pukul 15:30 WIB hasilnya optimis berpeluang menopang kenaikan GBPUSD untuk menguji resisten di 1.3040- 1.3090.

USDJPY

Tren meningkatnya permintaan aset safe haven dibalik ketegangan dagang AS-China berpeluang masih akan menekan turun USDJPY untuk menguji support di 109.50 – 109.00. Jika bergerak naik, level resisten terlihat di area 110.10 – 110.60.

AUDUSD

AUDUSD berpeluang untuk bergerak turun dalam jangka pendek di tengah krisis dagang antara AS dengan China untuk menguji support di 0.6960 – 0.6910. Namun, jika minutes RBA yang dirilis pukul 8:30 WIB menunjukkan sikap optimisme RBA berpeluang menjadi katalis positif bagi AUDUSD untuk menguji resisten di 0.7020 – 0.7070.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Jumat 10/05/2019 pukul 12.34WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.