Posisi cadangan devisa Indonesia akhir Juni 2018 cukup tinggi

  • Posisi cadangan devisa Indonesia akhir Juni 2018 cukup tinggi sebesar USD119,8 miliar, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan akhir Mei 2018 sebesar USD122,9 miliar. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,2 bulan impor atau 6,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Penurunan cadangan devisa pada Juni 2018 terutama dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi. Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai didukung keyakinan terhadap stabilitas dan prospek perekonomian domestik yang tetap baik, serta kinerja ekspor yang tetap positif.
  • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada hari terakhir perdagangan pekan kemarin ditutup menguat +0,43% di level 234,2776. INDOBeXG-Total Return (return obligasi pemerintah) dan INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) turut ditutup menguat, masing-masing sebesar +0,48% ke level 230,2911 dan +0,16% ke level 252,4837. Seluruh tenor (1-30tahun) kurva yield IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) bergerak bullish dengan rata -rata yield turun sebesar –3,77bps. Rata-rata yield tenor menengah (5-7tahun) turun paling besar mencapai -7,43bps. Sementara dua tenor lainnya, masing-masing turun sebesar: pendek (<5 tahun) -2,11bps, dan panjang (>7tahun) -3.59bps. INDOBeXG-Effective Yield Jumat kemarin ditutup di level 7,8516 dari level 7,9221 (turun –0,0706poin). Harga tiga seri SUN acuan tenor 5, 10, dan 15-tahun bergerak menguat pada rentang –12,10bps hingga +122,37bps. Hanya harga SUN acuan tenor 20-tahun yang ditutup turun sebesar –3,22bps. Penguatan harga juga mewarnai mayoritas seri-seri SBN (tipe FR & ORI) dengan rata-rata pada ke 42 seri-nya naik sebesar +33,08bps. Sementara rata-rata harga SUN benchmark Jumat kemarin tercatat sebesar +54,03bps. INDOBeXG-Clean Price semakin meningkat sebesar +0,46% ke level 110,1678. Aktivitas pasar sekunder obligasi mengalami penurunan pada kedua sisinya. Total frekuensi turun –22,59% menjadi 531 kali, dan total volume turun –72,37% menjadi Rp10,82tn. Transaksi SUN pada seluruh tenor tampak mengalami penurunan volume transaksi. Namun akumulasi penurunan volume terbesar dialami kelompok seri SUN tenor panjang dengan nilai mencapai Rp23,62tn dalam 1-hari perdagangan. Total volume terbesar Jumat kemarin tercatat sebesar Rp1,66tn oleh FR0070 (45 kali transaksi). Namun frekuensi terakitf dicatatkan FR0075 sebanyak 106 kali (Rp316miliar). Pada transaksi obligasi korporasi, vo lume terbesar tercatat sebesar Rp181miliar oleh PNMP02ACN2, dan frekuensi teraktif tercatat sebanyak 10 kali oleh BFIN04ACN1. Hingga berakhirnya sesi end of day Jumat kemarin, pasar obligasi domestik berlanjut berada di zona hijau. Menguatnya mayoritas harga seri SBN (FR&ORI) Jumat kemarin masih dipicu oleh faktor trading ditengah berbagai sentimen negatif yang beredar di pasar. Bahkan, penguatan harga tersebut turut menyebabkan kurva yield IBPA-IGSYC bergerak bullish. Namun, ditengah penguatan tersebut, investor tampak masih concern terhadap segala tekanan yang datang dari global, seperti dampak yang ditimbulkan dari trade war antara AS-China secara global, ancaman pengenaan tarif bea masuk baru ke AS terhadap 124 produk asal Indonesia oleh Donald Trump, serta tren depresiasi Rupiah di pasar Spot. Tercermin dari menurunnya minat investor untuk bertransaksi di pasar sekunder obligasi. Wait and see rilis posisi cadangan devisa Indonesia bulan Juni 2018 diperkirakan menjadi salah satu faktor sepinya transaksi obligasi. Bank Indonesia kemarin telah merilis cadangan devisa yang sebesar US$119,8miliar. Pasar obligasi diprediksi bergerak mendatar pada perdagangan hari ini menanti perkembangan terbaru perang dagang AS-China paska kunjungan Wakil PM China ke AS. Di satu sisi, rilis cadangan devisa Indonesia bulan Juni 2018 yang turun US$3,10miliar ke level US$119,80miliar turut berpotensi menjadi faktor yang dapat menekan kinerja obligasi ditengah tren outflow asing di pasar SBN.
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan ini dengan sedikit tenaga. Pasar saham Indonesia dibuka menguat 31,92 poin atau 0,56% ke level 5.726,83. Membuka perdagangan Senin (9/7/2018), ada 106 saham menguat, 24 saham melemah, dan 74 saham stagnan. Transaksi perdagangan mencapai Rp73,77 miliar dari 78,25 juta lembar saham diperdagangkan. Indeks LQ45 naik 4,17 poin atau 0,5% menjadi 899,55, Jakarta Islamic Index (JII) naik 2,8 poin atau 0,4% ke 647,55, indeks IDX30 naik 2,25 poin atau 0,5% ke 488,86 dan indeks MNC36 naik 1,54 poin atau 0,5% ke 318,59. Seluruh sektor penggerak IHSG menguat, dengan sektor property memimpin kenaikan hingga 0,8%. Disusul sektor keuangan yang naik 0,5%. Adapun saham-saham yang bergerak dalam jajaran top gainers, antara lain saham PT Hi=olcim Indonesia Tbk (SMCB) naik Rp110 atau 21,15% ke Rp630, saham PT Trimuda Nuansa Citra Tbk (TNCA) naik Rp10 atau 6,37% ke Rp167 dan saham PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) naik Rp5 atau 5,88% ke Rp90. Sementara itu, saham-saham yang bergerak dalam jajaran top losers, antara lain saham PT MAP Aktif Adiperkasa (MAPA) turun Rp410 atau 13,02% ke Rp2.740, saham PT Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU) turun Rp8 atau 6,15% ke Rp112, dan saham PT Global Mediacom Tbk (BMTR) turun Rp22 atau 4,4% ke Rp478.

EKONOMI GLOBAL

  • Rilis data tenaga kerja AS pada hari Jumat yang menunjukkan rendahnya kenaikan upah dan naiknya tingkat pengangguran membuat dollar terkoreksi. Sementara itu Presiden European Central Bank (ECB), Mario Draghi, yang akan berbicara di hadapan Parlemen mulai pukul 20:00 WIB akan menjadi fokus pelaku pasar pada hari ini.

Potensi Pergerakan

Emas

Jika dollar AS melanjutkan koreksi pada hari ini, harga emas berpeluang besar menguat dengan target ke area 1265, dengan support di kisaran 1250.

Minyak Mentah

Kenaikan produksi OPEC menjadi sentimen negatif bagi harga minyak mentah. Selama tidak menembus ke atas resisten 74.35, harga minyak mentah yang berpeluang melemah ke area 72.60.

EURUSD

Pasangan mata uang ini berpeluang menguat ke 1.1820 jika Draghi saat berbicara di hadapan Parlemen mengindikasikan suku bunga akan dinaikkan sebelum akhir tahun 2019. Support terdekat di kisaran 1.1715.

GBPUSD

Menteri Brexit Inggris, David Davis, yang mengundurkan diri akibat perbedaan pendapat mengenai proposal keluar dari Uni Eropa dengan PM Inggris membuka peluang penurunan GBPUSD hari ini. Selama tertahan di bawah resisten 1.3340, GBPUSD berpeluang turun ke 1.3220.

USDJPY

Rilis data tenaga kerja AS meredupkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sebanyak dua kali lagi di sisa tahun ini, yang membuka peluang penurunan USDJPY ke 109.90. Resisten terdekat di kisaran 110.75.

AUDUSD

Harga bijih besi yang naik dari level terendah 3 bulan menjadi sentimen positif bagi AUDUSD dan membuka peluang kenaikan ke 0.7490. Support terdekat di kisaran 0.7405.

 

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Senin 06/07/2018 pukul 10.08 WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.