Pada perdagangan kemarin, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup menguat +0,04% di level 241,2134

  • Pada perdagangan kemarin, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup menguat +0,04% di level 241,2134. Demikian pula dengan kedua indeks return INDOBeXG-Total Return (return obligasi pemerintah) naik +0,02% ke level 236,2972, sementara INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) naik +0,16% ke level 265,6489. Kurva yield IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) tampak bergerak mixed. Rata-rata yield seluruh tenor 1-30tahun turun tipis –0,96bps. Penurunan yield hanya dicatatkan kelompok tenor pendek (<5tahun) dengan rata-rata mencapai –8,02bps. Sedangkan rata-rata yield tenor menengah (5-7tahun) dan panjang (>7tahun) naik masing-masing sebesar +0,42bps dan +0,09bps. INDOBeXG-Effective Yield kemarin ditutup turun –0,0127poin ke level 8,1508. Koreksi harga berlanjut mewarnai seluruh seri SUN benchmark dengan rata-rata harga sedikit lebih rendah dari sesi siang yakni –18,44bps (vs –22,46bps). Koreksi harga terbesar tercatat sebesar –31,00bps oleh seri FR0079, sementara koreksi harga terendah sebesar –5,32bps oleh FR0077. Meski demikian, harga SBN tipe FR secara keseluruhan bergerak mixed dengan rata-rata naik tipis +0,29bps. Adapun harga ketiga seri ORI kompak menguat dan mencatatkan rata-rata sebesar +16,13bps. INDOBeXG-Clean Price kemarin tercatat menguat meski sangat tipis yakni +0,0013poin ke level 107,9912. Aktivitas perdagangan pasar sekunder obligasi berlangsung sangat semarak dengan 720 transaksi (+105,71%), dan total volume mencapai Rp21,82tn (+151,18%). Adanya pelaksanaan lelang kemarin tampak menopang solidnya transaksi. Total volume transaksi pada seluruh seri SUN acuan yang dilelang kemarin tercatat sebesar Rp13,06tn atau mencakup 59,84% dari seluruh volume transaksi. FR0079 menjadi seri SBN yang ditransaksikan dengan total volume terbesar yakni Rp5,52tn dan sekaligus yang teraktif dengan 105 transaksi. Untuk obligasi korporasi, total volume terbesar tercatat sebesar Rp100miliar oleh SMII01BCN2. Pasar obligasi tampak bergerak volatil pada perdagangan kemarin. Setelah sempat melemah pada sesi siang, pasar obligasi berhasil ditutup menguat meski terbatas. Penguatan harga yang melanda seri-seri SBN tenor pendek tampak men-drive kinerja positif pasar kemarin. Rata-rata harga kelompok SUN tenor pendek menguat sebesar +14,73bps dan berhasil mendorong tingkat imbal hasil pada kelompok tenornya turut bergerak bullish yakni turun –8,02bps. Ditengah wait and see keputusan Parlemen Inggris mengenai masa depan Brexit serta rapat FOMC, pasar sekunder obligasi tampak ramai dipicu oleh adanya pelaksanaan lelang SBN. Pemerintah kemarin melelang 2 seri baru SPN (tenor 3-bulan dan 1-tahun) dan 4 seri SUN acuan. Total penawaran masuk pada kelompok SUN acuan tercatat sebesar Rp35,91tn atau mencakup 73,88% dari seluruh penawaran lelang yang masuk sebesar Rp48,61tn. Pemerintah memenangkan lelang kemarin diatas target indikatifnya yakni sebesar Rp23,20tn. Pada perdagangan hari ini, pasar obligasi berpotensi bergerak melemah tebatas. Ditengah wait and see hasil rapat FOMC, penolakan amandemen penundaan tenggat waktu resmi keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada tanggal 29 Maret menjadi 31 Desember oleh Parlemen Inggris dapat menjadi sentimen negatif di pasar. Sebagaimana diketahui, pengajuan amandemen tersebut guna menghindari terjadinya No Deal Brexit.
  • Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan bahwa stabilitas sistem keuangan Triwulan IV 2018 dalam kondisi normal. Demikian kesimpulan Rapat Berkala KSSK pada hari Senin, 28 Januari 2019. Kesimpulan rapat disampaikan melalui konferensi pers hari ini (29/01), yang dihadiri oleh Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner OJK dan Ketua Dewan Komisioner LPS. Hal ini berdasarkan hasil pemantauan lembaga anggota KSSK terhadap perkembangan perekonomian, moneter, fiskal, pasar keuangan, lembaga jasa keuangan, dan penjaminan simpanan. KSSK mencermati beberapa potensi risiko baik yang berasal dari perekonomian global maupun domestik dalam bentuk pelemahan pertumbuhan ekonomi global, kebijakan ekonomi AS dan dampak sengketa dagang dengan Tiongkok, serta potensi berlanjutnya defisit trade balance dan current account, dan segmentasi likuiditas. Menyikapi hal tersebut, KSSK memperkuat sinergi kebijakan fiskal, moneter, makroprudensial, dan mikroprudensial dalam menjaga SSK dan mendukung momentum pertumbuhan ekonomi. Di bidang moneter, kebijakan suku bunga difokuskan untuk menurunkan defisit transaksi berjalan ke dalam batas aman dan mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik. Pada triwulan IV 2018, BI menaitkkan suku bunga acuan (BI-7DRRR) sebesar 25 bps ke level 6,00 persen. BI juga terus menempuh strategi operasi moneter yang diarahkan untuk menjaga kecukupan likuiditas baik di pasar Rupiah maupun pasar valas serta secara efektif memberlakukan transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) mulai 1 November 2018. Untuk meningkatkan fleksibilitas dan distribusi likuiditas di perbankan, Bl menaikkan porsi pemenuhan GW/M Rupiah Rerata (konvensional dan syariah) dari 2% menjadi 3% serta meningkatkan rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial/PLM (konvensional dan syariah) yang dapat direpokan ke BI dari 2% menjadi 4%, masing-masing dari Dana Pihak Ketiga (DPK). Di bidang kebijakan makroprudensial, Bl juga mempertahankan rasio Countercyclical Capital Buffer(CCB) sebesar 0% dan Rasio _ Intermediasi Makroprudensial (RIM) pada target kisaran 80-92%. BI akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan guna memastikan tetap terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Dalam rangka meningkatkan ketahanan eksternal, BI memperkuat kerjasama moneter dan keuangan dengan otoritas dari beberapa negara. Pada triwulan !V 2018, BI dan Monetary Authority of Singapore telah menandatangani perjanjian keuangan bilateral dengan nilai setara USD10 miliar dalam bentuk swap bilateral dalam mata uang lokal, serta repo bilateral dalam valuta asing untuk menjaga stabilitas moneter dan keuangan. Selain itu, BI dan Bank Sentral Tiongkok telah memperbarui perjanjian swap bilateral dalam mata uang lokal (Bilateral Currency Swap Arrangement-BCSA) serta menyepakati pertambahan nilai BCSA dari CNY200 miliar (setara USD15 miliar) menjadi CNY200 miliar (setara USD30 miliar). Di bidang fiskal, meskipun perkembangan perekonomian global cukup memberikan tantangan bagi perekonomian dalam negeri, pelaksanaan APBN 2018 membukukan kinerja yang optimal dan kredibel. Kinerja tersebut ditunjukkan oleh pencapaian yang lebih baik dibandingkan periode sebelumnya, baik dari sisi pendapatan negara, belanja negara, maupun pembiayaan anggaran. Sampai dengan triwulan IV 2018, realisasi pendapatan negara mencapai Rp1.942,34 triliun (102,52 persen terhadap APBN 2018), melebihi target yang ditetapkan. Sementara itu, belanja negara yang terealisasi dengan optimal, mencapai Rp2.202,24 triliun (99,17 persen terhadap APBN 2018), telah mendukung pencapaian target pembangunan pada tahun 2018. Dengan realisasi tersebut, defisit anggaran tercatat sebesar 1,76 persen terhadap PDB, jauh lebih baik dari target APBN 2018 sebesar 2,19 persen maupun defisit anggaran tahun sebelumnya sebesar 2,51 persen, didukung oleh keseimbangan primer yang mendekati positif. Angka defisit cukup terjaga di tengah tingginya kebutuhan pembiayaan untuk meningkatkan daya saing bangsa melalui pembangunan infrastrukitur. Untuk mendukung keberlanjutan kinerja pelaksanaan anggaran tersebut, kehati-hatian dan akuntabilitas dalam pengelolaan utang terus dijaga. Pada 2018, realisasi pembiayaan utang lebih rendah Rp32,5 triliun dari targetnya dan tumbuh negatif dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2019, pembiayaan utang direncanakan semakin menurun. Selain itu. Pemerintah juga akan berupaya menurunkan ketergantungan terhadap utang dalam valuta asing untuk menghindari risiko fluktuasi nilai tukar. Di sektor Jasa keuangan, OJK menilai bahwa stabilitas sektor jasa kKeuangan masih terjaga dengan baik. Kinerja intermediasi keuangan masih mencatatkan perkembangan positif, antara lain pertumbuhan kredit perbankan yang mencapai double digit (Desember 2018: 11,75% yoy) dan kinerja intermediasi perusahaan pembiayaan yang tumbuh sebesar 5,17% yoy. Di pasar modal, penghimpunan dana mencapai Rp166 triliun. Sementara itu, pada triwulan IV 2018, volatilitas di pasar modal domestik terpantau mereda dan investor nonresiden mencatatkan net buy di pasar saham dan pasar SBN masing-masing sebesar Rp400 miliar dan Re 42,37 triliun. Akselerasi kredit perbankan dan pembiayaan ini diikuti dengan profl risiko kredit yang masih terjaga, dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) gross perbankan dan Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan masing-masing sebesar 2,37% dan 2,71%. Permodalan lembaga jasa keuangan berada di level memadai untuk mengantisipasi peningkatan risiko sekaligus mendukung ekspansi pembiayaan. Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan per triwulan IV 2018 berada pada level 23,50%, sedangkan Risk-Based Capital (RBC) untuk asurasi umum dan jiwa masing-masing sebesar 332% dan 441%. Pada 2019, OJK telan menyiapkan lima kebijakan dan inisiatif yang diarahkan antara lain untuk mendukung pembiayaan sektor-sektor prioritas Pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, pemberdayaan UMKM dan masyarakat kecil, mendorong inovasi teknologi informasi industri jasa keuangan serta reformasi internal dalam pengaturan dan pengawasan sektor jasa keuangan. Di bidang penjaminan nasabah perbankan, LPS akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkesinambungan terhadap tren perkembangan suku bunga simpanan perbankan yang masih menunjukkan tren meningkat. Sepanjang tahun 2018 hingga awal minggu ketiga Januari 2019, rata-rata suku bunga deposito Rupiah pada 66 bank benchmark telah meningkat sebesar 66 bps (menjadi 6,17%). Sementara itu, rata-rata suku bunga valuta asing di 19 bank benchmark pada periode yang sama meningkat sebesar 64 bps (menjadi 1.21%). Penyesuaian suku bunga simpanan terhadap kenaikan suku bunga acuan diperkirakan masih akan berlangsung meskipun dengan laju yang lebih lambat. Sesuai dengan perkembangan terkini pada tanggal 13 Januari 2019, LPS kembali menaikkan tingkat bunga penjaminan sebesar 25 bps menjadi 7.00% untuk simpanan rupiah di bank umum dan 9,50% untuk simpanan di BPR, sementara tingkat bunga penjaminan simpanan valuta asing di bank juga naik sebesar 25 bps menjadi 2.25%. Tingkat Bunga Penjaminan tersebut berlaku untuk periode 13 Januari sampai dengan 14 Mei 2019.
  • Pemerintah dan Bank Indonesia menyepakati tiga langkah strategis untuk menjaga agar inflasi IHK tetap berada dalam kisaran sasaran 3,5±1% pada tahun 2019. Langkah strategis tersebut perlu ditempuh guna terus memperkuat pengendalian inflasi setelah pada 2018, inflasi IHK terkendali pada level 3,13% dan berada dalam kisaran sasarannya, yakni 3,5±1%. Perkembangan ini sangat positif mengingat hal ini merupakan pencapaian sasaran inflasi selama empat tahun berturut-turut. Pencapaian ini tidak terlepas dari sinergi kebijakan moneter dan fiskal dalam mengelola kondisi makroekonomi yang sehat serta kebijakan struktural, termasuk pembangunan infrastruktur di berbagai daerah yang memperbaiki konektivitas dan kelancaran distribusi. Ke depan, Pemerintah di tingkat pusat dan daerah serta Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi kebijakan guna terus membawa inflasi dalam tren menurun dalam kisaran 3±1% pada 2020 dan 2021 sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkesinambungan, seimbang, dan inklusif. Demikian kesimpulan yang mengemuka dalam rapat koordinasi antar pimpinan kementerian dan lembaga yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) pada 29 Januari 2019 di Jakarta. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Gubernur Bank Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Menteri Badan Usaha Milik Negara, Direktur Utama Perum BULOG, Kepala Badan Pusat Statistik serta para Pejabat Eselon I dan II dari Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pertanian, Kementerian Perhubungan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Tiga langkah strategis yang disepakati untuk menjaga inflasi 2019 tetap berada dalam kisaran sasarannya adalah sebagai berikut:
  1. Menjaga inflasi dalam kisaran sasaran, terutama ditopang pengendalian inflasi volatile food maksimal di kisaran 4-5%. Strategi ini dilakukan melalui empat kebijakan utama (4K) terkait Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif. Sesuai dengan Peta Jalan Pengendalian Inflasi Nasional 2019-2021, kebijakan ditempuh dengan memberikan prioritas kepada Ketersediaan Pasokan dan Kelancaran Distribusi, yang didukung oleh ekosistem yang lebih kondusif serta ketersediaan data yang akurat.
  2. Memperkuat pelaksanaan Peta Jalan Pengendalian Inflasi Nasional 2019-2021 dengan menempuh pula pelaksanaan Peta Jalan Pengendalian Inflasi di tingkat Provinsi.
  3. Memperkuat koordinasi Pemerintah Pusat dan Daerah dalam pengendalian inflasi melalui penyelenggaraan Rakornas Pengendalian Inflasi dengan tema “Sinergi dan Inovasi Pengendalian Inflasi untuk Penguatan Ekonomi yang Inklusif”. Rakornas selanjutnya akan ditindaklanjuti oleh Rakorpusda Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID)

EKONOMI GLOBAL

  • Dua momen penting dari Amerika Serikat (AS) hari ini berpotensi memicu volatilitas tinggi di pasar. Pertama, akan dimulai kembali negosiasi dagang antara AS-China. Pasar masih berharap positif bahwa pertemuan kali ini akan meredakan ketegangan hubungan di antara kedua negara. Pasalnya, dampak perang dagang lambat laun mulai terasa pada perlambatan ekonomi, khususnya China. Kedua, pengumuman kebijakan moneter The Fed serta pandangan bank sentral mengenai perekonomian AS juga akan menjadi fokus pasar. Pasar berekspektasi bahwa ada kemungkinan The Fed belum akan memberikan outlook kenaikan suku bunga pada tahun ini. Mengingat juga adanya kekhawatiran mengenai perekonomian AS.

Market Movers Hari Ini

Emas

Jika benar The Fed bersikap dovish pada kali ini, harga emas berpeluang menguat mengincar area 1320 jika mampu konsisten bergerak di atas 1316. Support terdekat di level 1307 dengan support kuat di level psikologis 1300.

Minyak Mentah

Permasalahan di Venezuela tampaknya masih menjadi katalis penggerak harga minyak hari ini. Di tengah pembatasan ekspor dari Venezuela, peluang penguatan harga miniyak mengincar 54.70 jika mampu menembus 53.90. Support di level 52.25.

EURUSD

EURUSD berpeluang tertopang naik jika dollar mendapat sentimen negatif dari kebijakan moneter The Fed. Peluang penguatan akan menguji resisten 1.1460 sebelum mengincar area 1.1480 – 1.1500. Support terdekat di level 1.1400.

GBPUSD

Kemarin parlemen menyetujui “plan B” Perdana Menteri Inggris Theresa May untuk menghindari rencana “hard border” di Irlandia Utara, yang artinya ada outlook penundaan waktu Brexit. Namun, sentimen negatif datang setelah pihak Uni Eropa mengatakan bahwa tidak akan ada lagi negosiasi lagi tentang itu. Pelaku pasar yang kembali khawatir mengenai ketidakpastian Brexit membuat GBPUSD melemah tajam menjelang akhir perdagangan kemarin. Selama bergerak di bawah 1.3080, isu Brexit masih berpotensi menekan GBPUSD ke level support 1.3030. Namun jika sentimen pelemahan dollar mendominasi katalis penggerak, tidak menutup kemungkinan GBPUSD berpeluang rebound mengincar resisten 1.3130.

USDJPY

Volatilitas yang terjadi di bursa saham turut membuat USDJPY juga bergerak dalam rentang terbatas. Meski begitu, outlook kebijakan dovish The Fed berpotensi turut menekan USDJPY pada hari ini. Konsisten bergerak di bawah 109.25, potensi turun USDJPY ke 108.65. Resisten terdekat di level 108.45.

AUDUSD

AUDUSD menguat tajam setelah data laju inflasi Australia tumbuh selama kuartal keempat. Sentimen positif ini berpeluang topang penguatan aussie lebih lanjut menguji level 0.7200 sebelum mengincar 0.7230. Support di level 0.7130.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Rabu 30/01/2018 pukul 10.18 WIB :

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.