Pada akhir sesi end of day kemarin, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup melemah

  • Pada akhir sesi end of day kemarin, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup melemah –0,26% di level 234,4840. Demikian pula dengan dua indeks return INDOBeXG-Total Return (return obligasi pemerintah) kemarin turun –0,30% ke level 230,0922; dan INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) turun –0,02% ke level 255,3685. Kurva yield IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) bergerak mixed. Rata-rata yield seluruh tenor 1-30tahun turun sebesar –1,52bps. Adapun rata-rata yield pada masing-masing kelompok tenor tercatat sebesar: pendek (<5tahun) naik +1,41bps; menengah (5-7tahun) naik +2,75bps; dan panjang (>7tahun) turun –2,59bps. Naiknya rata-rata yield pada tenor pendek-menengah mampu mendorong INDOBeXG-Effective Yield naik +0,0544poin ke level 8,1909. Koreksi harga kelompok SUN benchmark yang terjadi sejak sesi siang berlanjut hingga penutupannya. Pelemahan harga terjadi di rentang –44,66bps (FR0063) hingga –155,01bps (FR0075). Mayoritas harga seri-seri SBN baik tipe FR maupun ORI juga didominasi pelemahan. Kemarin, rata-rata harga SUN benchmark tercatat turun sebesar –96,65bps, sementara rata-rata harga SBN (FR&ORI) turun sebesar –18,68bps. INDOBeXG-Clean Price kemarin ditutup di level 107,9304 (-0,33%). Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder kemarin relatif stagnan. Total volume naik +13,89% dari Rp9,98tn menjadi Rp11,37tn ditengah penurunan total frekuensi sebesar –5,22% dari 556 kali menjadi 527 kali. Peningkatan volume didorong oleh transaksi SUN tenor pendek yang mencatatkan akumulasi kenaikan volume sebesar Rp2,08tn disaat kedua tenor lainnya tercatat menurun. Total volume transaksi SBN terbesar kemarin tercatat sebesar Rp1,32tn oleh FR0063. Sementara frekuensi teraktif sebanyak 53 kali masih dipegang oleh FR0075. Untuk obligasi korporasi, total volume terbesar tercatat sebesar Rp250miliar oleh MEDC03ACN2, dan frekuensi teraktif sebanyak 7 kali oleh PPRO01A dan SMGR01CN1. Perdagangan hari kedua bulan Oktober, pasar obligasi domestik berbalik ke zona merah. Melemahnya Rupiah hingga menyentuh ke level psikologis barunya yakni di level Rp15.000/US$ menjadi pemicu terkoreksinya harga seri-seri SUN benchmark maupun mayoritas harga SBN lainnya. Paska Rupiah menyentuh ke level Rp15.000/US$, persepsi risiko di global yang ditunjukkan dari CDS Indonesia tenor 5-tahun langsung melonjak sebesar +4,43bps. Tingkat imbal hasil yang diminta investor juga meningkat khususnya pada tenor-tenor pendek-menengah. Rupiah yang telah menyentuh ke level terendahnya sejak Juli 1998 dipicu oleh penguatan indeks dollar AS dan harga minyak mentah dunia. Tekanan Rupiah yang melanda pasar sekunder obligasi, juga membayangi pelaksanaan lelang SBSN kemarin. Meski total penawaran masuk pada lelang kemarin tercatat oversubscribed 2,60 kali dan pemerintah memenangkan diatas target indikatifnya yakni Rp5,11tn, namun tingkat imbal hasil yang diminta relatif tinggi. Pada perdagangan hari ini, tren koreksi harga yang melanda seri-seri SBN diprediksi masih akan berlanjut. Concern pasar tertuju pada kinerja Rupiah, dan mulai mewaspadai kemungkinan keluarnya asing secara massal dari pasar SBN guna menghindari currency risk yang semakin membesar.

EKONOMI GLOBAL

  • Harga emas kembali ke atas level $1200 per troy ons sejak Selasa kemarin. Masalah politik Italia dengan Komisi Eropa serta aksi short covering menjadi pemicu kenaikan logam mulia tersebut. Data tenaga kerja AS versi ADP pukul 19:15 WIB dan data aktivitas non-manufaktur yang dirilis ISM pukul 21:00 WIB akan menjadi penggerak emas pada hari ini. Sementara itu laporan EIA pukul 21:30 WIB akan menggerakkan harga minyak mentah yang saat ini masih berada di dekat level tertinggi sejak November 2014.

Potensi Pergerakan

Emas

Jika data yang dirilis oleh ADP dan ISM lebih rendah dari perkiraan (187K dan 58,1) harga emas berpeluang melanjutkan kenaikan meski terbatas di kisaran $1212. Sebaliknya jika data-data tersebut dirilis lebih tinggi dari perkiraan, emas berpeluang besar turun ke area $1194.

Minyak Mentah

Jika EIA melaporkan penambahan stok di AS lebih banyak dari perkiraan 1,1 juta barel, harga minyak mentah berpotensi turun ke area 74.00, dengan resisten terdekat di kisaran 75.70.

EURUSD

Selasa kemarin EURUSD membukukan penurunan lima hari beruntun akibat masalah politik di Italia. Selama tidak menembus ke atas resisten terdekat di kisaran 1.1570, EURUSD berpotensi turun ke area 1.1485.

GBPUSD

Munculnya keraguan pelaku pasar akan tercapainya kesepakatan Brexit membuat GBPUSD tertekan. Jika data aktivitas sektor jasa Inggris pukul 15:30 WIB dirilis lebih rendah dari 54,0, GBPUSD berpeluang turun ke area 1.2915. Level psikologis 1.3000 menjadi resisten terdekat.

USDJPY

Pasangan mata uang ini terkoreksi turun setelah gagal melewati level 114.00. Selama tertahan di bawah level tersebut USDJPY berpeluang besar turun ke area 112.90.

AUDUSD

Rilis data ijin membangun Australia yang lebih buruk dari perkiraan menambah tekanan bagi AUDUSD yang sebelumnya mendapat sentimen negatif dari pernyataan Bank Sentral Australia (RBA) mengenai lemahnya kenaikan gaji dan inflasi. Jika menembus support 0.7165, AUDUSD berpeluang turun ke area 0.7130.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Rabu 03/10/2018 pukul 10.01 WIB :

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.