Ketiga indeks return obligasi Indonesia tipe konvensional berlanjut dalam tren melemah

  • Ketiga indeks return obligasi Indonesia tipe konvensional berlanjut dalam tren melemah. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) turun –0,58% ke level 261,0453; INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) turun –0,62% ke level 256,0841; dan INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) turun –0,28% ke level 284,7233. Yield seluruh tenor pada kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) berlanjut bearish. Rata-rata yield tenor 1-30 tahun naik sebesar +11,20bps dengan kenaikan rata-rata pada masing-masing kelompok tenor adalah sebesar: pendek (<5tahun) +8,43bps; menengah (5-7tahun) +12,14bps; dan panjang (>7tahun) +11,56bps. INDOBeXG-Effective Yield kemarin Jumat ditutup ke level 7,3706 (+0,1060poin). Harga seluruh seri SUN benchmark terkoreksi di rentang –36,23bps hingga –105,41bps. Harga SUN pada seluruh seri FR dan ORI juga masih terpantau dominan terkoreksi. Dengan demikian, rata-rata harga SUN seri FR dan ORI kemarin melemah –68,24bps; sedangkan kelompok SUN acuan turun –73,46bps. Dominasi koreksi juga memicu posisi INDOBeXG-Clean Price semakin turun ke level 112,6012 (-0,66%). Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder terpantau meningkat. Total frekuensi naik sebesar +32,57% menjadi 1.266 kali sedangkan total volume mencatatkan kenaikan sebesar +29,50% menjadi sebesar Rp21,00tn. Kenaikan volume ditopang oleh transaksi SUN tenor panjang yang mencatatkan akumulasi kenaikan sebesar Rp5,05tn dalam sehari. Seri FR0078 mencatat total volume terbesar senilai Rp5,04tn dan sekaligus menjadi SBN teraktif dengan 177 transaksi. Sedangkan pada obligasi korporasi, total volume terbesar diraih seri ISAT03ACN2 senilai Rp376miliar dan frekuensi teraktif dicatatkan oleh seri PPLN03BCN4 dengan 112 transaksi. Kinerja pasar obligasi dalam negeri berlanjut melemah hingga sesi penutupan Jumat kemarin. Tercermin dari 44 seri fixed rate dan ORI yang beredar di pasar, hanya harga seri ORI013 yang menguat +7,90bps sedangkan 43 seri lainnya kompak terkoreksi pada rentang –1,90bps hingga –163,64bps. Kondisi tersebut turut meningkatkan imbal hasil obligasi negara seluruh tenor dan mendorong penurunan indeks return obligasi domestik. Faktor utama tertekannya performa pasar diperkirakan lebih dipicu oleh meningkatnya persepsi risiko investor terhadap tensi perang dagang AS-China yang kembali memanas. Paska berakhirnya perundingan lanjutan antara delegasi AS-China, Presiden Trump justru kembali mengeluarkan ancaman bahwa AS tetap akan mengenakan bea masuk tambahan kepada China awal September nanti. Sentimen tersebut turut menyebabkan terdepresiasinya Rupiah serta penurunan pada bursa saham domestik dan regional. Pada perdagangan Senin ini, pasar obligasi Indonesia berpotensi masih tertahan melemah dengan gerak terbatas. Fokus pasar akan tertuju pada data GDP domestik Q2-2019 yang dirilis siang nanti dan diproyeksikan tumbuh 5,05%yoy. Level tersebut sedikit melambat dibanding Q1-2019 yang tumbuh 5,07%yoy. Pada pagi ini, Rupiah dibuka melemah ke level Rp14.189/US$ (Bloomberg).

EKONOMI GLOBAL

 

  • Data Tenaga Kerja AS pada akhir pekan lalu dilaporkan sesuai ekspektasi, Non-Farm payroll 164K, tetapi data bulan sebelumnya direvisi turun menjadi 193K, dari sebelumnya 224K, memicu pelemahan dolar AS atas spekulasi pasar bahwa The Fed perlu melakukan pemotongan suku bunga acuan AS dalam waktu dekat. Kekhawatiran terhadap berlanjutnya perang dagang AS – Tiongkok juga masih menjadi fokus pekan ini, setelah twit Presiden AS, Donald trump pada hari kamis lalu berpotensi memicu ketegangan meningkat. Fokus data penggerak hari ini diantaranya: Caixin Service PMI Tiongkok pada jam 08:30 WIB, Jerman Service PMI jam 14:55 WIB, Service PMI Zona Euro jam 15:00 WIB, Sentix Investor Confidence Zona Euro jam 15;:30 WIB, Service PMI Inggris jam 15:30 WIB, dan data utama hari ii, ISM no-manufacturing PMI AS jam 21:00 WIB.

Potensi Pergerakan

EMAS

Catat penguatan di awal pekan ini atas kekhawatiran berlanjutnya perang dagang dan spekulasi peluang pemotonga suku bunga The Fed mengangkat harga emas naik menguji level resisten pada kisran $1453. – $1475. Bila berbalik turun dapat menguji level support $1430 – $1435.

MINYAK

Minyak mentah dibayangi ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran berlanjutnya perang dagang AS – Tiongkok., berpotensi turun bila perang dagang berlanjut, menguji support $53.00 – $53.50. Sebaliknya bila ketegangan di Timur Tengah berlanjut, dapat menguji resisten $56.80 – $57.00.

EURUSD

Lemahnya dolar atas spekulasi pemotongan suku bunga The fed setelah data NFP pekan lalu berpotensi dukung EURUSD naik menguji resisten 1.1160 – 1.1200. Sedangkan bila data-data ekonomi zona euro dirilis negatif, berpotensi menguji support 1.1000 – 1.1025

GBPUSD

Masih dibayangi sentimen no-deal Brexit, GBPUSD berpotensi melemah menguji support 1.2000 – 1.2085. Tetapi lemahnya sentimen dolar AS berpotensi angkat harga naik menguji resisten 1.2200 – 1.2250.

USDJPY

Sentimen minat beli Safe haven masih berpotensi tekan USDJPY turun mneguji support 105.00 – 105.50. bila berbali dola AS menguat, dapat menguji resisten 107.00 – 107.40.

AUDUSD

Sentimen pelonggaran RBA dan kekhawatiran berlanjutnya perang dagang AS – Tiongkok masih berpotensi lemahkan AUDUSD, menguji support 0.6650 -0.6700. Bila berbalik naik menguji resisten 0.6800 – 0.6820.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Senin 05/08/2019 pukul 11.39 WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.