Kamis, 28 November 2019

  • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) dan INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) melemah masing-masing ke level 273,0405 (-0,06%) dan 267,9102 (-0,07%) akhir sesi end of day Sementara INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) menguat sangat tipis +0,001% ke level 297,3272. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) dominan bearish dengan rata-rata yield tenor 1-30tahun naik +1,85bps. Penurunan rata-rata yield hanya dicatatkan tenor pendek (<5tahun) yakni –0,13bps. Sedangkan tenor menengah (5-7tahun) dan panjang (>7tahun) mencatatkan kenaikan rata-rata yield masing-masing sebesar +1,91bps dan +2,18bps. Dengan demikian, INDOBeXG-Effective Yield semakin bergerak ke atas ke level 6,9531 (+0,0099poin). Koreksi harga berlanjut mewarnai kelompok SUN benchmark. Seluruh seri SUN acuan melemah pada rentang –2,50bps (FR0078) hingga –37,40bps (FR0068). Secara keseluruhan, harga SUN seri FR dan ORI juga dominan terkoreksi dengan rata-rata menurun sebesar –8,29bps. Kemarin, INDOBeXG-Clean Price ditutup di level 115,0419 (-0,09%). Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder terpantau menurun dari sisi volume yakni menjadi sebesar Rp14,72tn (-12,45%). Sementara total frekuensi naik +13,70% menjadi 888 transaksi. Penurunan volume dialami pada transaksi SUN tenor menengah-panjang dengan total nilai mencapai Rp3,81tn. FR0068 menjadi seri SBN yang ditransaksikan dengan total volume terbesar yakni senilai Rp1,99tn. Sementara frekuensi teraktif ditransaksikan kembali dicatatkan seri FR0076 sebanyak 126 kali. Pada obligasi korporasi, seri ASDF04BCN3 mencatatkan total volume terbesar senilai Rp176miliar. Namun frekuensi teraktif sebanyak 13 transaksi dicatatkan seri BMTP01BCN1. Koreksi harga yang disertai dengan kenaikan imbal hasil SBN berlanjut mewarnai pasar obligasi hingga berakhirnya sesi end of day kemarin. Berbagai spekulasi terkait damai dagang AS-China fase awal masih menjadi faktor dominan yang menyebabkan pasar bergerak sideways. Isu damai dagang diprediksi akan kembali memanas setelah kemarin Donald Trump menandatangani Undang Undang HAM dan Demokrasi Hongkong yang sebelumnya sudah diloloskan di level DPR dan Senat AS (CNBC Indonesia). Situasi tersebut dikhawatirkan dapat membuat hubungan AS-China kembali memanas dan mempengaruhi ekonomi global. Rupiah di pasar spot kemarin juga ditutup melemah –7,0poin ke level Rp14.095/US$. Pada perdagangan hari ini, pasar obligasi berpotensi melemah. Ditengah proses damai dagang AS-China fase pertama, Donald Trump justru telah menandatangani dua UU yang mendukung para pendemo di Hongkong. Situasi tersebut dikhawatirkan dapat mempengaruhi proses damai dagang AS-China.

EKONOMI GLOBAL

  • Harga emas berpeluang bergerak naik dalam jangka pendek di tengah kembali munculnya kekhawatiran akan pasar akan memburuknya hubungan antara AS dengan Tiongkok setelah Presiden Trump tandatangani rancangan undang-undang yang mendukung aksi demonstran di Hong Kong dan dapat memicu kemarahan dari pihak Tiongkok. Sementara itu untuk GBPUSD berpeluang bergerak naik dalam jangka pendek di tengah laporan terbaru yang menujukkan keunggulan partai Konservatif dalam hasil survei menjelang pemilu Inggris yang dirilis oleh YouGov.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpeluang bergerak naik dalam jangka pendek untuk menguji level resisten di $1461 – $1466 pada outlook ketidakpastian hubungan antara AS dengan Tiongkok pasca Presiden Trump yang menandatangani RUU yang mendukung aksi demonstran di Hong Kong memicu kemarahan dari pihak Tiongkok. Jika bergerak turun, level support terlihat di rentang $1453 -$1448.

MINYAK

Harga minyak berpeluang untuk bergerak naik dalam jangka pendek untuk menguji resisten di $58.40-$59.00. di tengah sentimen turunnya aktivitas rig AS serta harapan bahwa OPEC dapat memperpanjang pengurangan produksi. Namun, dengan memburuknya hubungan AS-Tiongkok berpotensi akan menjadi beban untuk kinerja harga minyak untuk menguji level support di $57.60 – $57.00.

EURUSD

Outlook melemahnya dolar AS karena ketegangan terbaru antara AS dengan Tiongkok berpeluang menopang kenaikan EURUSD dalam jangka pendek untuk menguji level resisten di 1.1040 – 1.1080. EURUSD berpeluang untuk bergerak turun menguji support di 1.0970 – 1.0930 jika data inflasi Jerman yang dirilis pukul 20:00 WIB hasilnya lebih buruk dari estimasi.

GBPUSD

Keunggulan telak sementara partai Konservatif terhadap lawannya partai Buruh dalam hasil survei yang dirilis oleh YouGov berpeluang menopang kenaikan GBPUSD dalam jangka pendek untuk menguji level resisten di 1.2970 – 1.3020. Jika bergerak turun, level support terlihat di 1.2890 – 1.2840.

USDJPY

Meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven karena ketegangan terbaru AS-Tiongkok berpeluang memicu penurunan USDJPY dalam jangka pendek untuk menguji level support di 109.00 – 108.60. Jika bergerak naik, level resisten berada di 109.70 – 110.10.

AUDUSD

AUDUSD berpeluang bergerak turun dalam jangka pendek di tengah isu memburuknya hubungan AS-Tiongkok serta pesimisnya data belanja modal swasta Australia untuk menguji level support di 0.6740 – 0.6700. Jika bergerak naik, level resisten terlihat di 0.6810 – 0.6850.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Kamis 28/11/2019 pukul 09.58WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.