Kamis, 16 Januari 2020

  • Menutup Perdagangan Rabu, ICBI Naik Tipi Indeks return obligasi Indonesia baik konvensional maupun sukuk kompak menguat dalam kisaran +0,09% hingga +0,12%. Harga obligasi seri-seri fixed rate dan ORI bergerak variatif dengan rata-rata penguatan sebesar +6,93bps. Begitu pula pergerakan harga sukuk negara dengan rata-rata naik sebesar +7,65bps. Sejalan dengan terbatasnya penguatan pasar, aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder turut menurun baik dari sisi volume (-7,89%) maupun frekuensi (-5,58%). Pada perdagangan kemarin, pasar obligasi lebih digerakkan oleh faktor trading sembari wait and see terhadap realisasi penandatanganan damai dagang US-China fase awal pada Rabu malam. Dari domestik, BPS telah merilis neraca dagang Desember 2019 yang defisit US$28,2juta atau jauh lebih baik dibanding konsensus dengan defisit US$470juta. Pasar obligasi dalam negeri berpotensi menguat pada perdagangan Kamis ini. Katalis untuk pasar SBN diperkirakan berasal dari respon positif pasar terhadap disahkannya kesepakatan damai dagang US-China fase awal yang dinilai dapat meredakan tensi dagang kedua negara sementara waktu. Pada pembukaan perdagangan Kamis ini, kurs spot Rupiah dibuka menguat ke level Rp13.675/US$.
  • Neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2019 mencatat defisit 0,03 miliar dolar AS, menurun signifikan dibandingkan dengan defisit pada bulan sebelumnya sebesar 1,39 miliar dolar AS. Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh surplus neraca perdagangan nonmigas akibat penurunan impor nonmigas untuk seluruh jenis barang dan disertai oleh kinerja ekspor nonmigas yang membaik. Sementara itu, defisit neraca perdagangan migas menurun ditopang oleh peningkatan ekspor migas di tengah kinerja impor migas yang stabil. Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan Indonesia pada tahun 2019 mencatat defisit sebesar 3,20 miliar dolar AS, lebih rendah dibandingkan dengan defisit pada tahun sebelumnya sebesar 8,70 miliar dolar AS. Kondisi tersebut ditopang oleh penurunan kinerja impor didukung oleh kebijakan substitusi impor di tengah kinerja ekspor yang belum kuat seiring dengan perlambatan ekonomi global dan turunnya harga komoditas. Neraca perdagangan nonmigas pada Desember 2019 mengalami surplus 0,94 miliar dolar AS, setelah pada bulan sebelumnya mencatat defisit 0,30 miliar dolar AS. Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan impor nonmigas barang konsumsi seperti kendaraan dan bagiannya. Selain itu, impor bahan baku dan barang modal juga turun, seperti mesin/peralatan listrik serta besi dan baja. Membaiknya neraca perdagangan nonmigas juga ditopang oleh kinerja ekspor nonmigas yang meningkat, seperti komoditas lemak dan minyak hewani/nabati; bijih, kerak dan abu logam; serta pakaian dan aksesorinya. Secara kumulatif, neraca perdagangan nonmigas sepanjang tahun 2019 mencatat surplus 6,15 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada periode sebelumnya sebesar 4,00 miliar dolar AS. Sementara itu, defisit neraca perdagangan migas pada Desember 2019 menurun menjadi sebesar 0,97 miliar dolar AS, dari defisit 1,10 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya. Membaiknya defisit tersebut didorong oleh kinerja ekspor migas yang meningkat baik dalam bentuk hasil minyak, minyak mentah, dan gas. Di sisi lain, kinerja impor migas tercatat stabil sejalan dengan menurunnya impor hasil minyak, sementara impor minyak mentah meningkat. Secara kumulatif, neraca perdagangan migas sepanjang tahun 2019 mencatat defisit yang lebih rendah yaitu sebesar 9,35 miliar dolar AS, dibandingkan dengan defisit pada tahun sebelumnya yang mencapai 12,70 miliar dolar AS. Bank Indonesia memandang perkembangan neraca perdagangan pada Desember 2019 dan keseluruhan tahun 2019 positif dalam memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk meningkatkan ketahanan eksternal, termasuk prospek kinerja neraca perdagangan.

EKONOMI GLOBAL

  • Washington tetap mempertahankan tarif atas barang-barang Tiongkok senilai $ 360 miliar, meskipun perjanjian fase satu ditandatangani antara Presiden Donald Trump dan Wakil Perdana Menteri China Liu He di Gedung Putih. Dolar AS jatuh pada hari Rabu (15/1) karena data yang menunjukkan inflasi tetap tidak bergerak, sementara kesimpulan dari kesepakatan perdagangan fase satu AS-Tiongkok memiliki dampak yang tidak aktif pada greenback.Market movers lainnya adalah ECB Monetary Policy Meeting Accounts (19:30 WIB) dan Core Retail Sales (20:30 WIB).

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpotensi bergerak naik menguji level resisten di 1563 – 1568 karena pasar yang Washington tetap mempertahankan bea atas barang-barang Tiongkok senilai $ 360 miliar, meskipun perjanjian fase satu ditandatangani. Level support berada pada kisaran 1550 – 1545.

MINYAK

Harga minyak berpotensi bergerak turun menguji level support di 57.50 – 57.00 karena data pemerintah AS menunjukkan cadangan minyak naik 14 juta barel untuk minggu kedua berturut-turut. Level resisten berada pada kisaran 58.50 – 59.00.

EURUSD

EURUSD berpotensi bergerak turun menguji level support di 1.1130 – 1.1100 dalam jangka pendek. Namun jika bergerak naik EURUSD berpotensi menguji level resisten 1.1180 – 1.1200.

GBPUSD

GBPUSD berpotensi bergerak turun menguji level support 1.3000 – 1.2980 karena potensi penurunan suku bunga Bank of England menguat setelah data ekonomi terbaru Inggris menunjukkan laju inflasi merosot ke posisi terendah tiga tahun. Level resisten berada pada level 1.3070 – 1.3090.

USDJPY

USDJPY berpotensi bergerak turun menguji level support 109.50 – 109.30 karena pasar yang tetap khawatir terhadap kesepakatan dagang. Level resisten USDJPY berada pada level 110.30 – 110.50.

AUDUSD

AUDUSD berpeluang bergerak naik menguji level resisten di 0.6930 – 0.6950 dalam jangka pendek, Namun jika melemah AUDUSD berpotensi bergerak turun menguji level support di kisaran 0.6875 – 0.6850.

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.