Kamis, 14 November 2019

  • Ketiga indeks return obligasi tipe konvensional ditutup melemah pada perdagangan kemarin. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) turun –0,17% ke level 272,8257; INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) turun –0,18% ke level 267,7980; dan INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) turun –0,07% ke level 296,2584. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) bergerak mixed dengan rata-rata yield tenor 1-30 tahun turun –0,23bps. Kenaikan yield dialami kelompok tenor pendek (<5tahun) dan menengah (5-7tahun) masing-masing sebesar +2,86bps dan +5,38bps. Sedangkan rata-rata yield tenor panjang (>7tahun) turun –1,49bps. INDOBeXG-Effective Yield naik +0,0385poin ke level 6,9295. Koreksi harga berlanjut mewarnai seluruh seri SUN benchmark dengan rata-rata turun sebesar –31,71bps. Penurunan harga SUN acuan berada di rentang –18,68bps hingga –56,63bps. Secara keseluruhan, harga SUN seri FR dan ORI turut didominasi pelemahan dengan rata-rata sebesar –17,50bps. Oleh karenanya INDOBeXG-Clean Price terpantau turun yakni –0,21% ke level 115,3288. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder berlangsung kurang semarak. Total frekuensi turun –6,05% menjadi 823 transaksi dan total volume turun –16,67% menjadi Rp12,53tn. Transaksi SUN benchmark juga terpantau belum semarak dengan total volume sebesar Rp2,93tn (-18,37%) dalam 115 transaksi (+17,35%). FR0076 bertahan menjadi SBN yang teraktif ditransaksikan dalam 96 transaksi. Sementara total volume transaksi SBN terbesar senilai Rp1,30tn dicatatkan seri FR0082. Pada transaksi obligasi korporasi, BCAF03ACN1 menjadi seri teraktif ditransaksikan yakni sebanyak 14 kali, dan sekaligus mencatatkan total volume terbesar Rp637miliar. Pasar obligasi berlanjut tertahan di zona merah hingga berakhirnya sesi end of day Mayoritas seri SUN FR didominasi pelemahan harga dengan koreksi terdalam tercatat sebesar –58,37bps (FR0080). Sementara koreksi harga terendah tercatat senilai –2,28bps oleh seri FR0031. Kesepakatan damai dagang fase pertama antara AS-China yang terancam batal menjadi alasan dominasi koreksi yang melanda mayoritas seri SUN FR sejak kemarin. Imbal hasil SBN juga terpantau mixed dengan tekanan naik melanda tenor pendek-menengah. Pelemahan Rupiah di pasar spot ke level Rp14.079/US$ (turun 25,0poin) turut memberikan tekanan bagi performa pasar obligasi. Koreksi harga yang melanda pasar obligasi diprediksi masih akan berlanjut hingga adanya kejelasan kelanjutan kesepakatan dagang AS-China fase pertama. Selain itu, statement Jerome Powell kemarin malam yang menyatakan bahwa tidak akan ada pemangkasan suku bunga FFR lagi kecuali ekonomi AS memburuk berpotensi dapat semakin menekan kinerja pasar. Rabu kemarin, IHSG juga ditutup melemah yakni –0,62% di level 6.142,50. Tren koreksi diprediksi masih akan berlanjut mewarnai seri-seri obligasi negara pada perdagangan hari ini. Tensi perang dagang yang meninggi diperkirakan menjadi faktor utama yang dapat menekan pergerakan harga. Statement Jerome Powell bahwa the Fed tidak akan memangkas suku bunga acuannya lagi kecuali situasi ekonomi AS memburuk diprediksi dapat semakin menekan performa pasar obligasi.

EKONOMI GLOBAL

  • Ketua Dewan Gubernur Federal Reserve Jerome Powell, menyampaikan pada Komite Ekonomi di Washington DC hari Rabu bahwa prospek ekonomi AS tetap baik dan ia menambahkan bahwa kebijakan moneter kemungkinan besar akan tetap tepat selama data ekonomi AS tetap konsisten dengan prospek ekonomi the Fed. Selain itu data German Prelim GDP pada jam 14:00 WIB dan Retail Sales Inggris pada jam 16:30 WIB serta The Fed Chair Powell Testifies pada jam 22:00 WIB.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpeluang bergerak turun menguji level support di 1455 – 1450 karena Federal Reserve Jerome Powell, menyampaikan pada Komite Ekonomi di Washington DC hari Rabu bahwa prospek ekonomi AS tetap baik, Level resisten harga emas berada pada level 1470 – 1475.

MINYAK

Harga minyak berpeluang bergerak naik menguji level resisten di 57.90 – 58.40 karena pandangan yang senada dari OPEC dan The Fed bahwa tidak ada potensi resesi ke depan. Namun kekhawatiran pada kesepakatan dagang AS-Tiongkok berpeluang bergerak turun ke 56.80 – 56.50.

EURUSD

EURUSD berpeluang bergerak naik menguji level resisten di 1.1045 – 1.1070 jika data German Prelim GDP pada jam 14:00 WIB, namun komentar positif dari The Fed berpeluang menekan EURUSD menguji level support 1.0970 – 1.0950.

GBPUSD

Ketidakpastian politik Inggris serta indeks harga konsumen Inggris yang lebih lemah serta positifnya komentar The Fed berpeluang menekan GBPUSD menguji level support di 1.2810 – 1.2780. Namun jika mampu bergerak naik GBPUSD berpeluang bergerak naik menguji level 1.2880 – 1.2900.

USDJPY

USDJPY berpeluang bergerak turun menguji level support di 108.50 – 108.30 dalam jangka pendek, namun komentar positif dari The Fed berpeluang menopang kenaikan USDJPY untuk menguji level resisten di 109.00 – 109.30.

AUDUSD

AUDUSD berpeluang bergerak turun menguji level support di 0.6780 – 0.6760 karena tertekan oleh data ketenagakerjaan Australia yang dirilis lebih pesimis. Level resisten AUDUSD berada pada kisaran 0.6840 – 0.6870.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Kamis 14/11/2019 pukul 12.07 WIB :

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.