Kamis, 03 Oktober 2019

  x

  • Ketiga indeks return obligasi terpantau bergerak menguat lebih tinggi. Akhir sesi end of day kemarin, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) naik +0,09% ke level 267,1251; INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) naik +0,09% ke level 262,0804; dan INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) naik 0,5% ke level 291,0789. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) didominasi Rata-rata yield tenor 1-30 tahun turun sebesar –1,56bps. Penurunan yield dicatatkan kelompok tenor menengah (5-7tahun) dan panjang (>7tahun) masing-masing sebesar –2,74bps dan –1,75bps. Sedangkan rata-rata yield tenor pendek (<5tahun) naik +0,39bps. Dengan demikian, INDOBeXG-Effective Yield turut bergerak positif yakni turun –0,0086poin ke level 7,1797. Harga seluruh seri SUN benchmark ditutup menguat pada rentang +0,08bps hingga +17,44bps dan mencatatkan rata-rata harga naik +9,17bps. Harga SUN seri FR juga mulai didominasi penguatan dengan rata-rata harga naik +7,81bps. Namun harga ketiga seri ORI berlanjut melemah dengan rata-rata turun –8,06bps. Kemarin, INDOBeXG-Clean Price naik +0,07% ke level 113,8109. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder kemarin tampak lebih semarak dengan 1.144 transaksi (+17,82%) dan mencatat total volume sebesar Rp15,41tn (+15,93%). Namun pada volume transaksi SUN benchmark terpantau menurun menjadi sebesar Rp3,24tn (-26,22%) dengan total frekuensi 94 transaksi (+30,56%). Seri obligasi negara yang mencatat total volume transaksi terbesar diraih seri FR0082 dengan total nilai Rp1,75tn. Pada obligasi korporasi, total volume transaksi terbesar dicatat seri PIHC01BCN2 dengan total nilai Rp250miliar. Performa pasar obligasi domestik tampak semakin menguat dibanding sesi siang. Mayoritas harga SUN seri FR mulai menguat. Dari 40 seri SUN FR yang beredar, 29 seri diantaranya terpantau naik di rentang +0,08bps hingga +43,71bps. Dan kenaikan harga tersebut berhasil mendorong imbal hasil SBN dominan turun. Selain faktor trading, penguatan tersebut diperkirakan terpicu oleh terapresiasinya Rupiah di pasar spot yang pada perdagangan kemarin naik +19,00poin ke level 14.197/US$. Diketahui bahwa sebenarnya pasar masih berada dalam situasi yang kurang kondusif kemarin. Di global, isu perang dagang dan resesi masih terus membayangi pasar, dan berhasil mendorong peningkatan ekspektasi risiko di global. CDS Indonesia tenor 5-tahun kemarin naik +2,73bps ke level 93,07. Ekspektasi risiko di global diprediksi akan semakin meningkat paska akan dimulainya babak perang dagang baru yang kali ini antara Amerika dan Eropa. Sementara dari dalam negeri, situasi politik juga belum kondusif ditengah wait and see susunan kabinet kerja baru Jokowi-Ma’ruf. Belum selesai kasus perang dagang antara AS-China, saat ini pasar akan dihadang isu perang dagang lain yakni antara AS dan Eropa. Pasar berpotensi tertekan setelah kantor perwakilan dagang AS mengumumkan akan mengenakan tarif pada produk impor asal Uni Eropa per 18 Oktober 2019 seperti dilansir dalam CNBC International.

EKONOMI GLOBAL

  • Dolar bergerak lebih rendah pada hari Kamis (3/10) mencapai posisi terendah satu minggu. seiring tanda-tanda perlambatan pertumbuhan ekonomi AS dan memperdalam ketegangan perdagangan global. Greenback turun setelah data menunjukkan perekrutan oleh pengusaha swasta AS telah melambat pada bulan September, indikator terbaru ini menunjukkan bahwa perselisihan perdagangan Sino-AS mengganggu ekonomi AS. Selain itu pasar akan mengamati movers dari data Services PMI Inggris yang akan dirilis pada jam 15:30 WIB dan data ISM Non-Manufacturing PMI AS yang akan dirilis pada jam 21:00 WIB.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpotensi bergerak naik dalam jangka pendek menguji level resisten di 1510 – 1515 karena tertopang oleh melemahnya dolar AS yang tertekan oleh data tenaga kerja versi ADP yang dirilis lebih rendah dari perkiraan. Support harga emas berada pada level 1490 – 1485.

MINYAK

Meningkatnya cadangan minyak AS dan potensi berkurangnya permintaan di tengah outlook perlambatan ekonomi global berpotensi menekan harga minyak menguji level support di 51.80 – 51.30. Namun optimisme pasar pada perundingan dagang AS-Tiongkok berpotensi menopang kenaikan harga minyak menguji level resisten di 53.50 – 54.00.

EURUSD

EURUSD berpeluang bergerak naik menguji level resisten di 1.1000 – 1.1020 di tengah dolar yang tertekan oleh data ADP Non-Farm Employment Change yang dirilis lebih rendah dari perkiraan. Support EURUSD berada pada kisaran 1.0920 – 1.0900.

GBPUSD

Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker menyambut kemajuan positif dalam proposal Johnson, dan Parlemen Inggris akan mendukung rencana Johnson’s Brexit berpotensi menopang GBPUSD menguji resisten di 1.2350 – 1.2380. Untuk Support GBPUSD berada pada kisaran 1.2255 – 1.2220.

USDJPY

Memanfaatkan tingginya minat pelaku pasar pada aset aman dan dolar yang tertekan oleh data ADP Non-Farm Employment Change yang dirilis lebih rendah dari perkiraan USDJPY berpeluang bergerak turun menguji level support di 106.75 – 106.50. Namun jika bergerak naik USDJPY berpeluang menguji resisten di 107.45 – 107.70.

AUDUSD

AUDUSD berpeluang bergerak turun menguji level support 0.6670 – 0.6650 karena tertekan oleh pandangan RBA yang dovish. Namun dolar yang melemah berpotensi menopang AUDUSD menguji level 0.6740 – 0.6760.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Kamis 03/10/2019 pukul 09.37WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.