Kafe Keroncong Bank Jateng, Apreasiasi Sang Mastro Gesang

Menyongsong Hari Ulang Tahunnya ke-58 yang akan tiba pada 6 April 2021, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng), menggelar “Kafe Keroncong Bank Jateng, Apreasiasi Sang Maestro Gesang” yang dilaksanakan secara daring dari Co-Working Space Lantai III Gedung Bank Jateng Surakarta, Selasa (9/3).

Acara yang digelar juga untuk menyambut Hari Musik Nasional itu, dihadiri secara lansung oleh Direktur Utama Bank Jateng Supriyatno, Komisaris Utama Independen Bank Jateng Edhi Christanto, dan sejumlah direksi Bank Jateng.

Acara makin sahdu dan meriah dengan lantunan suara emas Sruti Respati yang membawakan lagu-lagu karya Gesang, seperti Keroncong Roda Dunia dan Pandanwangi, serta Endah Laras yang menyanyikan lagu Tirtonadi dan Jago Kluruk.

Menariknya, dalam kesempatan itu, Mas Nano, panggilan akrap Dirut Bank Jateng tersebut, melantunkan irama lagu Bengawan Solo lewat tiupan merdu Sexophone-nya.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang turut menyaksikan secara online via zoom, mengapreasi sajian menarik yang digelar Bank Jateng tersebut.

Ia juga mengucapkan selamat hari musik nasional dan mendukung para seniman untuk terus berkarya serta mencari jalan keluar di tengah himpitan kesulitan karena dampak pandemi. Karenanya, ia berharap, ide-ide seperti itu perlu dilanjutkan, diantaranya pertunjukkan yang digelar secara daring dan berbayar.

“Perlu disampaikan ke semua orang, bahwa ini sebagai bentuk ikhtiar bahwa senimannya tidak berhenti dan terus berkarya,” katanya.

Berbekal dari apa yang disampaikan Gubernur Jateng itu, Supriyatno mengajak semua masyarakat untuk turut membantu melestarikan budaya.

Menurutnya, kegiatan seperti itu patut digelar di mana, kapan, dan oleh siapa saja dengan mengangkat potensi setiap daerah yang ada. “Pagelaran Kafe Keroncong Bank Jateng ini dilaksanakan di Solo dan mengangkat Sang Maestro Gesang.

Suatu saat perlu dikembangkan ke arah yang lebih besar lagi, mulai dari seniman yang terlibat lebih banyak dan digelar di kota daerah lain yang pasti mempunyai potensi budaya masing-masing. Sehingga kegiatan seperti ini bisa dilakukan oleh siapa saja, bukan hanya Bank Jateng,” kata Mas Nano.

Menurutnya, Kafe Keroncong Bank Jateng digelar sebagai bentuk kerinduan spontanitas, di mana pada situasi pandemi ini jangan sampai mencekam dan perlu dicari jalan keluar. “Situasi seperti ini jangan sampai kita terhimpit sehingga tidak kreatif.

Maka kita ciptakan sesuatu yang dapat membangkitkan kreativitas seni. Ini sebagai bentuk kepedualian bersama dan yang terpenting adalah untuk mempertahankan budaya bangsa sendiri,” katanya.

Seniman Keroncong Sruti Respati, menyambut baik Kafe Keroncong Bank Jateng. Digelarnya acara serupa akan membangkitkan para pekerja seni untuk berkarya di tengah sepinya orderan pentas.

Karenanya, sebagai bentuk apresiasi terhadap karya-karya seniman, Bank Jateng juga memberikan tali asih kepada keluarga almarhum Gesang senilai Rp 58 juta sebagai bentuk cinta kasih kepada sang maestro Gesang. Tali asih tersebut diserahkan langsung oleh Dirut Bank Jateng dan diterima keponakan Almarhum Gesang, Hasanudin Santoso (58).

“Kami menyampaikan terima kasih atas apresiasi yang diberikan Bank Jateng kepada Pak Gesang, semoga apa yang diberikan ini bermanfaat dan karya-karya Pak Gesang bisa memberikan inspirasi kepada seniman generasi selanjutnya untuk terus berkarya,” kata Santoso.
Menurut dia, selama hidupnya Gesang yang berusia 92 tahun, telah menelurkan sekitar 44 karya lagu, diantaranya Bengawan Solo, Jembatan Merah, Roda Dunia, dan Caping Gunung.

Selain di bidang pekerja musik, dalam kesempatan tersebut Bank Jateng juga menghadirkan para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) binaan Bank Jateng yaitu Kharis (Panjalu Wayang) dari Wonogiri dan Abdul (Cazzen Guitar) dari Sukoharjo. Kepada keduanya, Bank Jateng memberikan fasilitas QRIS untuk transaksi secara non tunai. Dengan fasilitas tersebut, para pelaku UMKM makin mudah bertransaksi dengan cepat dan aman.