Jumat, 30 Agustus 2019

 

  • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) turun –0,12% ke level 263,8601 pada perdagangan kemarin. Sedangkan INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) turun –0,13% ke level 258,9003 dan INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) turun –0,04% ke level 287,3304. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) bergerak Rata-rata yield 1-30 tahun naik +2,41bps dengan kenaikan tertinggi dicatatkan tenor menengah (5-7tahun) yakni +3,57bps. Rata-rata yield tenor pendek (<5tahun) dan panjang (>7tahun) naik masing-masing sebesar +1,56bps dan +2,40bps. INDOBeXG-Effective Yield kemarin naik +0,0270poin ke level 7,2739. Harga seluruh seri SUN benchmark berlanjut melemah dengan penurunan rata-rata sebesar –25,31bps. Secara keseluruhan, harga SUN seri FR juga dominan melemah. Rata-rata harga SUN seri FR kemarin turun sebesar –16,43bps. Dengan demikian, INDOBeXG-Clean Price juga semakin bergerak turun yakni –0,16% ke level 113,2155. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder terpantau menurun. Total frekuensi turun –26,88% menjadi 767 transaksi, dan total volume turun –27,34% menjadi Rp12,56tn. Senada dengan kondisi tersebut, volume transaksi benchmark juga turun sebesar –35,66% menjadi Rp2,22tn dalam 102 transaksi. FR0075 menjadi SBN teraktif ditransaksikan kemarin yakni 115 kali, sedangkan transaksi tersolid ditransaksikan dicatatkan FR0082 dengan total volume Rp1,27tn. Adapun untuk obligasi korporasi, seri TDPM02 menjadi yang teraktif ditransaksikan yakni 13 kali sekaligus mencatatkan total volume terbesar senilai Rp530miliar. Senada dengan sesi siangnya, pasar obligasi Indonesia masih mencatatkan negative return harian. Kondisi tersebut tercermin dari turunnya mayoritas harga obligasi negara seri fixed rate dan ORI sehingga turut meningkatkan imbal hasil obligasi negara mayoritas tenornya. Faktor negatif di pasar diperkirakan masih disebabkan oleh meningkatnya persepsi risiko investor terhadap kondisi global yang kurang kondusif. Selain gejolak hubungan dagang AS-China, konflik dagang juga berpotensi terjadi pada dua negara besar di Asia yakni Jepang dengan Korsel. Selain itu tengah bergejolaknya Inggris yang dihadapkan dengan dekatnya waktu “Hard Brexit” juga dikhawatirkan semakin menekan pertumbuhan ekonomi global. Namun demikian, ditengah negatifnya sentimen dari global, kurs spot Rupiah terhadap USD sanggup ditutup menguat ke level Rp14.238/US$ dan IHSG menguat tipis sebesar +0,12 ke level 6.289,12. Pada perdagangan akhir pekan ini, pasar obligasi domestik berpotensi mencatatkan rebound. Kabar terbaru yang dilansir Reuters terkait pernyataan Kementrian Perdagangan China bahwa AS-China siap menggelar pertemuan lanjutan September nanti diperkirakan sanggup meredakan tensi dagang dan menjadi katalis positif di pasar. Pada pembukaan pagi ini, nilai Rupiah dibuka menguat ke level 14.223/US$ (Bloomberg).

EKONOMI GLOBAL

 

  • Dolar AS dan aset-aset beresiko catat penguatan kemarin setelah Kementrian Perdagangan Tiongkok memberikan komentar positif terhadap kekhawatiran perang dagang AS – Tiongkok, dan masih menjadi penggerak di awal sesi Jum’at 30 Agustus 2019. Kementrian Perdagangan Tiongkok menyatakan harapan dapat menyelesaikan masalah perang dagang kedua belah negara dengan sikap yang tenang. Meredakan kekhawatiran pasar terhadap resesi ekonomi yang dapat terjadi di tengah perang dagang yang berkepanjangan. Dolar AS dan indeks bursa Wall Street mencatat penguatan kemarin setelah komentar tersebut diumumkan. Fokus utama pasar pada data belanja perorangan & Chicago PMI AS yang akan dirilis malam nanti. Data-data fundamental lainnya yang juga berpotensi menggerakkan pasar diantaranya: Data Building Approval Australia, Data penjualan ritel Jerman, Indeks harga konsumen Zona Euro, dan GDP Kanada.

Potensi Pergerakan

EMAS

Pelemahan emas berpeluang berlanjut menguji level $1508 – $1519 di tengah aksi beli aset beresiko. Sebaliknya kenaikan harga emas mungkin menguji level resisten $1530 – $1532.

MINYAK

Ekspektasi meningkatnya permintaan minyak setelah harapan positif negosiasi dagang AS – Tiongkok dapat menopang harga minyak naik menguji level $57.00 – $57.45. Sebaliknya pelemahan mendapat support di kisaran 55.35 – $55.95.

EURUSD

Rangkaian data ekonomi Zona Euro hari ini dengan fokus utama pada data CPI Flash Estimate Zona Euro sore nanti masih nampak menekan harga EURUSD menguji level 1.1000 – 1.1025. Sebaliknya bila data-data tersebut mendukung penguatan EURUSD berpotensi menguji resisten 1.1095 – 1.1110.

GBPUSD

Masih dibayangi sentimen no-deal Brexit, GBPUSD berpotensi turun menguji level support 1.2110 – 1.2155. Sebaliknya kenaikan harga GBPUSD mungkin menguji resisten 1.2200 – 1.2235.

USDJPY

Minat risk appetite pasar mungkin menopang USDJPY naik menguji resisten 106.70 – 107.00. Sebaliknya bila turun, USDJPY mendapat support pada kisaran 106.00 – 106.20.

AUDUSD

Rilis data Building Approvals Australia yang lebih buruk dari ekspektasi menekan AUDUSD turun, mungkin menguji level 0.6680 – 0.6700. Sebaliknya bila bergerak naik mendapat resisten pada kisaran 0.6745 – 0.6755.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Jumat 30/08/2019 pukul 11.07WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.