Jumat, 26 Juni 2020

  • Harga SUN Benchmark Melemah, Penguatan Pasar SBN Mereda. Indeks return obligasi Indonesia baik konvensional maupun sukuk hanya menguat tipis pada perdagangan Kamis. Harga seri-seri SBN fixed rate bergerak variatif dengan rata-rata perubahan naik tipis sebesar +0,63bps. Yield SBN masih berpola bullish dengan rata-rata seluruh tenor (1-30tahun) turun sebesar –2,96bps. Penurunan yield terbesar terjadi pada kelompok tenor pendek. Total volume perdagangan di pasar sekunder meningkat menjadi Rp14,48tn (+3,06%). Namun total frekuensi turun menjadi 1.040 transaksi (-19,50%). Ditengah beberapa sentimen negatif yang membayangi pasar, penguatan terbatas pasar obligasi Indonesia Kamis ini diperkirakan lebih digerakkan oleh aksi trading pasar.  Pasar sedang dibayangi oleh peningkatan risiko akibat rilis laporan IMF terbaru terkait resesi global dimana pada 2020 ekonomi global dapat terkontraksi hingga –4,9% dan GDP Indonesia terkontraksi –0,3%. Kurs spot Rupiah melemah ke level Rp14.175/US$. Pasar obligasi Indonesia berpotensi bergerak negatif pada perdagangan akhir pekan esok. Selain karena sentimen dari laporan proyeksi IMF, tekanan untuk pasar diperkirakan juga berasal dari kembali meningkatnya kekhawatiran atas penyebaran Covid-19. Dari global, kenaikan kasus corona membuat sejumlah negara kembali menerapkan lockdown secara parsial. Sementara di Indonesia, kenaikan kasus juga terus terjadi dan saat ini menembus 50.000 kasus.
  • Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada triwulan I 2020 mencatat kewajiban neto yang menurun. Pada akhir triwulan I 2020, PII Indonesia mencatat kewajiban neto 253,8 miliar dolar AS (22,5% dari PDB), lebih rendah dibandingkan dengan kewajiban neto pada akhir triwulan IV 2019 yang tercatat sebesar 339,4 miliar dolar AS (30,3% dari PDB). Penurunan kewajiban neto tersebut dikarenakan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) yang turun lebih dalam dibandingkan dengan penurunan posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN). Penurunan posisi KFLN terutama didorong oleh penurunan investasi portofolio, sejalan dengan arus keluar modal asing pada triwulan laporan sebagai dampak peningkatan ketidakpastian global akibat pandemi COVID-19. Posisi KFLN Indonesia pada akhir triwulan I 2020 turun 13,5% (qtq) dari 712,9 miliar dolar AS menjadi 616,4 miliar dolar AS. Penurunan kewajiban tersebut terutama disebabkan oleh net outflow transaksi investasi portofolio khususnya pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan saham. Penurunan posisi KFLN juga dipengaruhi oleh faktor revaluasi atas instrumen investasi berdenominasi Rupiah sejalan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pelemahan Rupiah terhadap dolar AS. Posisi AFLN menurun terutama didorong oleh transaksi aset dalam bentuk cadangan devisa. Posisi AFLN pada akhir triwulan I 2020 turun 2,9% (qtq), dari 373,4 miliar dolar AS pada triwulan sebelumnya menjadi 362,6 miliar dolar AS. Selain karena faktor transaksi, penurunan AFLN juga didorong oleh revaluasi akibat penguatan dolar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia dan penurunan rerata indeks saham di sebagian besar negara penempatan investasi residen. Bank Indonesia memandang perkembangan PII Indonesia pada triwulan I 2020 relatif terjaga. Hal ini tercermin dari penurunan posisi kewajiban neto PII dibandingkan triwulan sebelumnya. Selain itu, struktur kewajiban PII Indonesia juga didominasi oleh instrumen berjangka panjang. Meski demikian, Bank Indonesia akan tetap mewaspadai risiko kewajiban neto PII terhadap perekonomian. Ke depan, Bank Indonesia meyakini kinerja PII Indonesia akan makin baik sejalan dengan stabilitas perekonomian yang terjaga dan pemulihan ekonomi Indonesia yang berlanjut pasca COVID-19 didukung oleh konsistensi dan sinergi bauran kebijakan Bank Indonesia, kebijakan fiskal, dan reformasi struktural.
  • Mencermati perkembangan COVID-19 terkini, Bank Indonesia (BI) memperpanjang kebijakan penyesuaian jadwal kegiatan operasional dan layanan publik, dari yang sebelumnya berakhir 30 Juni 2020 menjadi 15 Juli 2020. Dengan demikian jadwal kegiatan operasional dimaksud terhitung setelah tanggal 30 Juni 2020 hingga 15 Juli 2020 tetap mengacu kepada siaran pers BI No.22/24/DKom tanggal 24 Maret 2020. Perpanjangan kebijakan memerhatikan aspek kemanusiaan dan kesehatan masyarakat, serta hasil koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan dan pelaku industri keuangan. Dalam masa prakondisi kenormalan baru, kebijakan operasional BI akan mempertimbangkan upaya peningkatan kegiatan produktif secara bertahap dengan senantiasa memerhatikan protokol kesehatan pencegahan COVID-19. BI mengimbau industri keuangan termasuk Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) untuk tetap mendorong gaya hidup baru (new lifestyle) di masa PSBB transisi ini antara lain dengan menerapkan protokol kesehatan dan pencegahan COVID-19 baik terkait pribadi maupun dalam rangka pelaksanaan tugas.

EKONOMI GLOBAL

  • Di hari terakhir perdagangan pekan ini tampaknya pasar tampaknya akan cenderung hindari aset berisiko di tengah masih berlangsungnya kekhawatiran akan lonjakan kasus Covid-19  serta memburuknya hubungan dagang antara negara-negara ekonomi maju yang dapat memperlambat pemulihan ekonomi global, yang seakan-akan menjadi pembenaran proyeksi terbaru dari International Moneterary Fund (IMF) yang memperkirakan ekonomi global akan berkontraksi 4.9% di tahun 2020.  Untuk dolar AS kemungkinan masih akan menjadi salah satu favorit para pelaku pasar karena statusnya sebagai aset likuid yang paling di cari di tengah sentimen ketidakpastian global.Untuk sektor komoditas, harga emas berpotensi mendapatkan keuntungan dari keadaan seperti saat ini yang serba tidak pasti karena merupakan aset lindung nilai, namun jika penguatan dolar AS mendominasi sentimen pasar maka harga emas berpeluang bergerak turun. Dan untuk harga minyak berpeluang terkoreksi jangka pendek jika pasar melakukan aksi profit taking setelah kenaikan harga semalam di tengah masih adanya kekhawatiran perlambatan permintaan bahan bakar karena Covid-19.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpeluang untuk bergerak naik dalam jangka pendek untuk menguji level resisten di $1772 -$1780 jika pasar kembali mencari aset safe haven logam mulia di tengah kekhawatiran lonjakan kasus Covid-19 dan ketegangan dagang global yang melibatkan negara-negara ekonomi maju. Namun, harga emas berpeluang bergerak turun untuk menguji support di $1758 – $1750 jika ternyata pasar lebih menyukai aset likuid seperti dolar AS dan optimisnya data ekonomi AS seperti Core PCE Price Index dan Personal Spending yang dirilis pukul 19:30 WIB dan Revised UoM Consumer Sentiment pukul 21:00 WIB.

MINYAK 

Harga minyak berpeluang untuk bergerak turun dalam jangka pendek dengan menargetkan support di $38.50 – $37.60 jika pasar melakukan aksi profit taking setelah semalam menguat, di tengah masih adanya kekhawatiran akan perlambatan permintaan global karena lonjakan kasus Covid-19. Jika bergerak naik, level resisten terlihat di $39.80 – 40.70. Fokus hari ini tertuju ke data aktivitas rig AS yang dilaporkan oleh Baker Hughes pukul 00:00 WIB/Sabtu.

EURUSD 

EURUSD berpeluang bergerak turun dalam jangka pendek untuk menguji support di 1.1190 – 1.1140 karena outlook menguatnya dolar AS, ketegangan dagang AS-Eropa, serta ketegangan antara ECB dengan pengadilan Jerman terkait rencana pencetakan uang. EURUSD berpeluang bergerak naik, menguji resisten di 1.1250 – 1.1300  jika data Import Prices dari Jerman yang dirilis pukul 13:00 WIB hasilnya optimis.  

GBPUSD 

GBPUSD berpeluang bergerak turun dalam jangka pendek untuk menguji support di 1.2380 – 1.2330 di tengah outlook menguatnya dolar AS serta kegugupan pasar menjelang negosiasi Brexit kembali yang dijadwalkan tanggal 29 Juni pekan depan. GBPUSD berpotensi bergerak naik untuk menargetkan resisten di 1.2470 – 1.2520 jika laporan bulletin kuartalan dari Bank of England yang dirilis pukul 18:00 WIB yang biasanya akan berikan komentar mengenai perkembangan pasar dan operasional kebijakan moneter hasilnya cenderung hawkish.

USDJPY 

USDJPY berpotensi bergerak naik dalam jangka pendek untuk mengincar resisten di 107.50 – 108.00 di tengah outlook menguatnya dolar AS dan pernyataan Gubernur BOJ Kuroda yang cenderung dovish, dimana dia mengatakan BOJ akan terus mendukung pendanaan untuk menjaga stabilitas di pasar keuangan. Jika bergerak turun, level support terlihat di 106.80 – 106.30. 

AUDUSD

AUDUSD berpotensi untuk bergerak turun dalam jangka pendek untuk membidik support di 0.6840 – 0.6780 di tengah sentimen hindar aset berisiko dan menguatnya dolar AS. Jika bergerak naik, level resisten berada di 0.6920 – 0.6970.

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa TengahPerhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.