Jumat, 24 September 2021

  • Pasar Obligasi Sideways Paska Konferensi Pers FOMC. Seluruh indeks return obligasi Indonesia ditutup menguat terbatas. ICBI dan obligasi negara naik +0,06%, sementara indeks return obligasi korporasi naik +0,02%. Pada sesi sore, harga SUN seri Fixed Rate bergerak mixed dengan rata-rata pada seluruh seri naik +4,08bps. Sementara rata-rata harga sukuk negara naik + bps. Kurva yield obligasi negara, PHEI-IGSYC, berpola mixed. Rata-rata yield tenor 1-30tahun naik +0,92bps dengan penurunan rata-rata hanya dialami tenor menengah. Total volume transaksi obligasi di pasar sekunder naik +11,69% menjadi Rp16,78tn, sementara total frekuensi turun –5,62% menjadi 1.141 transaksi. Harga obligasi berlanjut bergerak dalam rentang terbatas yakni antara –41,79bps (FR0076) hingga +46,19bps (FR0092). Demikian pula dengan seri-seri SUN acuan yang sore ini bergerak di rentang –3,04bps hingga +25,73bps. Sama halnya di sesi siang, sideways-nya harga pasar obligasi mencerminkan bervariasinya respon investor terhadap pidato Jerome Powell terkait peluang dimulainya tapering The Fed yang menurut para ekonom akan diumumkan awal November atau pertengahan Desember tahun ini, dan kenaikan FFR di tahun depan. Today’s Outlook Pasar obligasi diprediksi berlanjut bergerak mendatar pada hari terakhir perdagangan pekan ini. Meskipun Jerome Powell baru saja berpidato dalam konferensi pers FOMC, namun pasar diperkirakan masih menanti dan mencermati isi pidato Jerome Powell dalam pembukaan acara online yang diselenggarakan The Fed pada Jumat malam waktu Indonesia.
  • Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada triwulan II 2021 mencatat kewajiban neto yang menurun. Pada akhir triwulan II 2021, PII Indonesia mencatat kewajiban neto 264,1 miliar dolar AS (23,8% dari PDB), menurun dibandingkan dengan kewajiban neto pada akhir triwulan I 2021 sebesar 267,5 miliar dolar AS (25,2% dari PDB). Penurunan kewajiban neto tersebut disebabkan oleh peningkatan posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN) yang lebih besar dari peningkatan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN). Posisi AFLN Indonesia meningkat dikontribusikan oleh transaksi aset investasi langsung dan investasi lainnya. Posisi AFLN pada akhir triwulan II 2021 tumbuh 1,2% (qtq), dari 410,2 miliar dolar AS pada akhir triwulan sebelumnya menjadi 415,0 miliar dolar AS. Selain karena faktor transaksi, peningkatan posisi AFLN juga ditopang oleh faktor revaluasi akibat pelemahan dolar AS terhadap mayoritas mata uang utama dunia dan peningkatan indeks saham di sebagian besar negara penempatan aset. Peningkatan posisi KFLN Indonesia disebabkan oleh aliran masuk modal asing dalam bentuk investasi langsung dan investasi portofolio. Posisi KFLN Indonesia meningkat 0,2% (qtq) dari 677,7 miliar dolar AS pada akhir triwulan I 2021 menjadi 679,1 miliar dolar AS pada akhir triwulan II 2021. Posisi KFLN yang meningkat tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan aliran masuk modal asing dalam bentuk investasi langsung dan investasi portofolio seiring persepsi positif investor terhadap prospek perbaikan perekonomian domestik. Peningkatan lebih lanjut tertahan oleh faktor revaluasi negatif atas nilai instrumen keuangan domestik sejalan dengan penurunan harga saham beberapa perusahaan di dalam negeri. Bank Indonesia memandang perkembangan PII Indonesia pada triwulan II 2021 tetap terjaga dan mendukung ketahanan eksternal. Hal ini tercermin dari struktur kewajiban PII Indonesia yang didominasi oleh instrumen berjangka panjang. Ke depan, Bank Indonesia meyakini kinerja PII Indonesia akan tetap terjaga sejalan dengan upaya pemulihan ekonomi Indonesia dari dampak pandemi Covid-19 yang didukung sinergi bauran kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah, serta otoritas terkait lainnya. Meskipun demikian, Bank Indonesia akan tetap memantau potensi risiko terkait kewajiban neto PII terhadap perekonomian.

ECONOMIC GLOBAL

  • Dolar AS nampak melemah di awal sesi Jumat (24/9), tertekan meningkatnya minat pasar terhadap aset-aset berisiko di tengah ditundanya rencana tapering stimulus moneter The Federal Reserve hingga awal tahun 2022. 

Peluang Trading

Emas

Tertekan oleh kenaikan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS dan rencana The Fed untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan lebih cepat dari rencana semula, harga emas tertekan melemah $25.52 di hari Kamis, di tutup pada level $1742.26. Di sesi Asia (24/9), harga emas berpotensi dibeli menguji resistance $1753 selama harga bertahan di atas level $1748. Jika turun ke bawah level tersebut berpeluang dijual menguji support $1737. Potensi rentang harga di sesi Asia: $1737 – $1753

Minyak Mentah

Laporan susutnya cadangan minyak mentah AS membantu kenaikan harga minyak di hari Kamis, menguat $1.51 ke level penutupan $73.48.Di sesi Asia (24/9), harga minyak berpotensi dibeli menguji resisten $73.90 selama harga bertahan di atas level $73.00. Jika turun ke bawah level tersebut berpeluang dijual menguji support $72.70. Potensi rentang harga di sesi Asia: $72.70 – $73.90.

EURUSD

Meningkatnya minat pasar terhadap aset berisiko dan turunnya dolar AS setelah rencana penundaan pelaksanaan tapering stimulus moneter The Fed, EURUSD catat penguatan 51 pip ke level 1.1736 di hari Kamis. Di sesi Asia (24/9), EURUSD berpotensi dibeli menguji resisten 1.1755 selama harga bergerak di atas level 1.1730. Jika turun ke bawah level tersebut berpeluang dijual menguji support 1.1710. Potensi rentang harga di sesi Asia: 1.1710 – 1.1755.

GBPUSD

Turunnya dolar AS dan meningkatnya minat pasar terhadap aset  berisiko, membantu GBPUSD naik 100 pip di hari Kamis, berakhir di level 1.3171. Di sesi Asia (24/9), GBPUSD berpotensi dibeli menguji resisten 1.3750 selama harga bergerak di atas level 1.3700. Jika turun ke bawah level tersebut, berpeluang dijual menguji support 1.3780. Potensi rentang harga di sesi Asia: 1.3680 – 1.3750

Hang Seng

Ketidakpastian nasib perusahaan EverGrande masih menjadi fokus pasar, dengan janji dari CEO-nya untuk melunasi hutang kepada para investor kemarin membantu indeks Hang Seng menguat 322 poin ke level 24450 pada akhir sesi Kamis. Di sesi Asia (24/9), Indeks Hang Seng berpeluang dijual menguji support 24150 bila pemerintah Tiongkok mem-pailit-kan perusahaan properti EverGrande. Sebaliknya jika EverGrande bertahan di atas level 24570, berpeluang dibeli menguji resisten 24780. Potensi rentang harga di sesi Asia: 24150 – 24780

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.