Jumat, 08 November 2019

  • Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III 2019 menunjukkan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia yang tetap terjaga, di tengah kondisi ekonomi global yang melambat. NPI pada triwulan III 2019 menunjukkan perbaikan dengan mencatat defisit 46 juta dolar AS, jauh lebih rendah dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya sebesar 2,0 miliar dolar AS. Kondisi tersebut ditopang oleh defisit neraca transaksi berjalan yang membaik serta surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat. Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir September 2019 mencapai 124,3 miliar dolar AS, meningkat dari 123,8 miliar dolar AS pada akhir Juni 2019. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,2 bulan impor atau 6,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor. Defisit neraca transaksi berjalan membaik didukung oleh menurunnya defisit neraca perdagangan migas di tengah surplus neraca perdagangan nonmigas yang stabil. Defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan III 2019 tercatat sebesar 7,7 miliar dolar AS (2,7% dari PDB), lebih rendah dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya yang mencapai 8,2 miliar dolar AS (2,9% dari PDB). Perbaikan kinerja neraca transaksi berjalan terutama ditopang oleh meningkatnya surplus neraca perdagangan barang, sejalan dengan menurunnya defisit neraca perdagangan migas di tengah surplus neraca perdagangan nonmigas yang stabil. Membaiknya defisit neraca perdagangan migas dipengaruhi oleh impor migas yang menurun sejalan dengan dampak positif kebijakan pengendalian impor, misalnya program B20. Sementara itu, surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat stabil di tengah perekonomian dunia yang melambat dan harga komoditas ekspor Indonesia yang menurun. Defisit neraca transaksi berjalan yang membaik juga didukung oleh penurunan defisit neraca pendapatan primer akibat lebih rendahnya repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri. Surplus transaksi modal dan finansial meningkat, mencerminkan masih tingginya keyakinan investor terhadap prospek perekonomian domestik. Surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan III 2019 tercatat sebesar 7,6 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya sebesar 6,5 miliar dolar AS. Peningkatan surplus transaksi modal dan finansial terutama didukung oleh membaiknya kinerja investasi portofolio, seiring meningkatnya aliran masuk modal asing pada aset keuangan domestik. Peningkatan surplus juga disebabkan oleh menurunnya defisit investasi lainnya yang dipengaruhi oleh lebih tingginya penarikan neto pinjaman luar negeri sektor swasta dan lebih rendahnya pembayaran neto pinjaman luar negeri pemerintah. Ke depan, kinerja NPI diprakirakan tetap baik sehingga dapat terus menopang ketahanan sektor eksternal. Prospek NPI tersebut didukung oleh defisit transaksi berjalan 2019 dan 2020 yang diprakirakan tetap terkendali dalam kisaran 2,5%–3,0% PDB dan aliran masuk modal asing yang tetap besar. Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk meningkatkan ketahanan eksternal, termasuk berupaya mendorong peningkatan Penanaman Modal Asing (PMA).
  • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) dan INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) menguat pada besaran yang sama yakni +0,07% masing-masing ke level 273,31266 dan level 268,2761. Sementara INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) naik sebesar +0,04% ke level 295,8700. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) bergerak mixed dengan rata-rata yield seluruh tenor (1-30 tahun) turun sebesar –0,29bps. Penurunan yield dicatat tenor pendek (<5tahun) dan panjang (>7tahun) masing-masing sebesar –2,41bps dan –0,07bps. Sedangkan rata-rata yield tenor menengah (5-7tahun) naik +0,85bps. Kamis kemarin, INDOBeXG-Effective Yield turun –0,0089poin ke level 6,8748. Penguatan harga seri FR0078, FR0068 dan FR0079 berlanjut hingga end of day dengan kenaikan yang lebih tinggi yakni antara +7,50bps hingga +41,97bps. Secara keseluruhan, harga SUN seri FR dan ORI turut didominasi penguatan dengan rata-rata naik sebesar +5,27bps. Adapun rata-rata harga kelompok SUN benchmark naik sebesar +18,55bps. INDOBeXG-Clean Price kemarin naik +0,05% ke level 115,6841. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder cenderung stagnan. Ditengah kenaikan total frekuensi sebesar +16,03% menjadi 1.006 transaksi, total volume tercatat turun –3,69% menjadi Rp15,02tn. Namun, transaksi SUN benchmark terpantau semarak dengan total volume Rp4,20tn (+113,67%) dalam 136 transaksi (+43,16%). Total volume transaksi SBN terbesar senilai Rp2,10tn dicatat seri FR0068. Sementara pada obligasi korporasi, total volume terbesar tercatat senilai Rp230miliar oleh seri BBRI03BCN1. Akhir sesi end of day kemarin, pasar obligasi negara menunjukkan performa yang lebih positif dibanding sesi siang. Pada sesi siang, pasar sempat tertekan dengan potensi mundurnya kesepakatan dagang awal antara AS-China, serta dipangkasnya kembali proyeksi pertumbuhan ekonomi zona Uni Eropa di tahun ini menjadi 1,2%. Namun timbulnya kembali optimisme pasar akan segera tercapainya damai dagang AS-China paska Kementrian Perdagangan China menyampaikan bahwa pihaknya dan AS sepakat menarik semua tarif tambahan yang diberlakukan oleh kedua negara (Bloomberg) mampu mendorong pasar bergerak positif. Kabar tersebut turut berdampak pada performa Rupiah di pasar spot yang langsung ditutup menguat +25,0poin di level Rp13.998/US$. Meski demikian, pasar masih dibayangi wait and see data current account Indonesia, tercermin dari aktivitas perdagangan pasar sekunder obligasi yang belum semarak. Performa positif diprediksi berlanjut mewarnai pasar obligasi di hari perdagangan terakhir pekan ini terpicu optimisme segera tercapainya kesepakatan damai dagang antara AS-China. Rupiah juga berpotensi menguat dan menambah tenaga di pasar. Namun, penguatan pasar obligasi berpotensi sedikit tertahan jika defisit current account Indonesia di Q3-2019 semakin lebar.

EKONOMI GLOBAL

  • Munculnya progres dalam negosiasi dagang antara AS dengan Tiongkok setelah kementrian perdagangan Tiongkok mengatakan bahwa telah disepakati dengan AS untuk membatalkan kenaikan tarif dagang yang sudah berjalan berpeluang memicu permintaan terhadap aset berisiko di hari terakhir perdagangan pekan ini. Selanjutnya di pagi ini, hasil notula rapat Reserve Bank Australia yang dirilis berpotensi akan menjadi beban untuk kinerja dolar Australia dalam jangka pendek Namun, selama masih terjaganya optimisme negosiasi dagang AS-Tiongkok berpeluang membatasi penurunan pada dolar Australia. Data ekonomi penting hari ini akan tertuju pada data neraca perdagangan Tiongkok untuk waktu yang tentatif, neraca perdagangan Jerman pukul 14:00 WIB, data tenaga kerja Kanada pukul 20:30 WIB, sentimen konsumen AS yang dirilis University of Michigan pukul 22:00 WIB serta pidato dua anggota FOMC yaitu John Williams dan Lael Brainard yang dijadwalkan pukul 20:00 WIB dan 20:30 WIB untuk masing-masing.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpeluang untuk bergerak turun dalam jangka pendek di tengah meningkatnya permintaan terhadap aset berisiko karena optimisme negosiasi dagang AS-Tiongkok untuk menguji level support di $1464 – $1459. Harga emas berpeluang naik jika data sentimen konsumen AS dan pidato dua anggota FOMC dipandang pesimis oleh pasar untuk menguji level resisten di $1472 – $1477.

MINYAK

Ditopang optimisme negosiasi dagang AS-Tiongkok dan pernyataan sekjen OPEC yang mengatakan outlook pertumbuhan di tahun 2020 menjadi lebih cerah berpeluang menopang kenaikan harga minyak dalam jangka pendek untuk menguji level resisten di $57.40 – $57.80. Harga minyak berpotensi bergerak turun untuk menguji level support di $56.40 – $56.00 jika data aktivitas rig AS yang dirilis oleh Baker Hughes pukul 01:00 WIB/Sabtu menunjukkan adanya peningkatan.

EURUSD

EURUSD berpeluang bergerak turun dalam jangka pendek untuk menguji level support di 1.1020 – 1.980 di tengah sentimen solidnya dolar AS serta pernyataan Komisi Eropa yang menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi zona Euro untuk tahun ini dan tahun depan. EURUSD berpeluang untuk bergerak naik menguji resisten di 1.1080 – 1.1120 jika pasar dapatkan katalis positif dari perilisan data neraca perdagangan Jerman.

GBPUSD

GBPUSD berpotensi bergerak turun dalam jangka pendek di tengah sentimen pernyataan Bank of England yang cenderung dovish dan belum adanya progres mengenai Brexit untuk menguji support di 1.2790 – 1.2740. Jika bergerak naik, level resisten terdekat berada di 1.2850 – 1.2900.

USDJPY

USDJPY berpeluang bergerak turun dalam jangka pendek di tengah optimisnya data ekonomi domestik Jepang seperti pendapatan upah rata-rata dan belanja rumah tangga untuk menguji level support di 109.00 – 108.60. Namun, jika dominannya sentimen risk appetite dan menguatnya dolar AS, USDJPY berpeluang untuk bergerak naik menguji resisten di 109.60 – 110.00.

AUDUSD

Perilisan hasil notula rapat RBA yang hasilnya cenderung dovish berpotensi menjadi beban untuk pergerakan AUDUD dalam jangka pendek untuk menguji level support di 0.6870 – 0.6830. AUDUSD berpeluang untuk bergerak naik mengincar resisten di 0.6930 – 0.6970 selama masih terjaganya optimisme kesepakatan dagang AS-Tiongkok.

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.