Jumat, 06 Desember 2019

  • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) menguat +0,16% ke level 272,9341. Begitu pula dengan INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) yang menguat +0,17% ke level 267,7429 dan kinerja INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) yang naik +0,06% ke level 297,7526. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) dominan Rata-rata yield tenor 1-30tahun turun –0,41bps. Rata-rata yield pada ketiga kelompok tenor turun masing-masing sebesar: pendek (<5tahun) -2,40bps; menengah (5-7tahun) -0,22bps; dan panjang (>7tahun) -0,09bps. Dengan demikian, INDOBeXG-Effective Yield kemarin turun sebesar –0,0290poin ke level 6,9929. Harga keempat seri SUN benchmark menguat di rentang +1,44bps (FR0077) hingga +43,50bps (FR0079). Harga SUN seri FR dan ORI juga didominasi penguatan dengan rata-rata perubahan pada 44 serinya naik sebesar +11,33bps. Oleh karena itu, INDOBeXG-Clean Price kemarin menguat sebesar +0,15% ke level 114,7766. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder terpantau meningkat. Total frekuensi naik sebesar +10,28% menjadi 751 transaksi dan total volume meningkat sebesar +26,90% menjadi Rp12,70tn. Peningkatan transaksi terbesar dipicu oleh transaksi obligasi Negara tenor panjang dimana frekuensinya naik 62 transaksi dan volumenya meningkat Rp1,47tn dalam sehari. FR0076 menjadi seri SBN teraktif dengan 95 transaksi dan seri FR0071 mencatatkan volume terbesar senilai Rp1,40tn. Pada obligasi korporasi, seri MEDC02CCN5 menjadi yang teraktif dengan 9 transaksi. Adapun seri BAFI03B menjadi seri yang ditransaksikan dengan total volume terbesar senilai Rp250miliar. Pasar obligasi Indonesia melanjutkan performa positif pada perdagangan Kamis kemarin. Faktor penggerak utama diperkirakan masih berasal dari dinamika terbaru hubungan dagang yakni menguatnya spekulasi pembatalan kenaikan tarif impor tambahan produk China oleh AS pada 15 Desember mendatang, seperti yang dilansir Bloomberg. Perkembangan hubungan dagang tersebut berhasil meredakan tensi dagang kedua negara dan pada akhirnya turut mendorong aksi beli pada seri-seri obligasi negara. Selain itu dari domestik, meningkatnya Indeks Kepercayaan Konsumen dan terapresiasinya kurs spot Rupiah sebesar 37poin ke level Rp14.068/US$ diprediksi turut menambah tenaga penguatan pasar SBN. Pada perdagangan akhir pekan ini, pasar obligasi dalam negeri berpotensi meneruskan tren positif. Penguatan pasar diperkirakan berasal dari euforia positif investor terhadap kondisi hubungan dagang AS-China dan berlanjutnya tren penguatan nilai tukar Rupiah terhadap USD. Pada pagi ini, kurs spot Rupiah dibuka menguat ke level Rp14.030/US$.
  • Posisi cadangan devisa Indonesia tercatat 126,6 miliar dolar AS pada akhir November 2019, tidak banyak berubah dibandingkan dengan posisi pada akhir Oktober 2019 sebesar 126,7 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,5 bulan impor atau 7,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Perkembangan cadangan devisa pada November 2019 terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa migas, penerimaan valas lainnya, dan pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai dengan didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik.

EKONOMI GLOBAL

  • Dolar AS jatuh pada hari Kamis (5/12) karena sinyal perdagangan yang beragam dari AS dan Tiongkok dan sinyal beragam tentang ekonomi A.S membuat investor lebih memilih wait and see.OPEC pada hari Kamis sepakat untuk menurunkan produksi sebanyak 500.000 barel per hari bersama dengan sekutunya hingga akhir Maret yang berpotensi menopang kenaikan harga minyak.Selanjutnya fokus pasar akan tertuju pada rilis data tenaga kerja (Non Farm Employment Change) dan indeks upah rata – rata per jam AS pada jam 20:30 WIB.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpeluang bergerak naik menguji level resisten di 1478 – 1483 karena karena sinyal perdagangan yang beragam dari AS dan Tiongkok, level support harga emas berada pada kisaran 1472 – 1469.

MINYAK

Harga minyak berpotensi bergerak naik menguji resisten di 59.00 – 59.30 karena OPEC sepakat untuk menurunkan produksi sebanyak 500.000 barel per hari bersama dengan sekutunya. level support harga minyak berada pada kisaran 57.70 – 57.40.

EURUSD

Dolar AS yang berpotensi melanjutkan pelemahan di tengah ketidakpastian dagang, berpeluang menopang EURUSD menguji level resisten di 1.1130 – 1.1150. Sementara itu jika bergerak turun EURUSD berpeluang bergerak menguji level support di 1.1070 – 1.1050.

GBPUSD

Menguatnya spekulasi menjelang pemilu Inggris untuk kemenangan mutlak oleh partai Konservatif berpeluang menopang kenaikan GBPUSD menguji resisten di 1.3190 – 1.3220, jika bergerak turun GBPUSD berpotensi menguji level support di 1.3120 – 1.3100.

USDJPY

Aksi hindar aset beresiko dari pelaku pasar di tengah ketidakpastian pasar berpeluang menekan USDJPY menguji support di 108.45 – 108.20. Level resisten USDJPY berada pada kisaran 109.00 – 109.20.

AUDUSD

Dalam jangka pendek AUDUSD berpeluang bergerak menguji level resisten di 0.6860 – 0.6880, Namun ketidakpatian kesepakatan dagang AS-Tiongkok berpeluang menekan AUDUSD menguji level support 0.6810 – 0.6780.

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.