Jumat, 04 Oktober 2019

 

  • Indeks return obligasi Indonesia berlanjut rally pada persentase kenaikan yang hampir sama. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) dan INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) naik +0,05% masing-masing ke level 267,2622 dan 262,2183; sedangkan INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) naik 0,04% ke level 291,1998. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) tampak bergerak mixed dengan rata-rata yield tenor 1-30 tahun naik sebesar +0,75bps. Adapun pergerakan rata-rata yield pada masing-masing kelompok tenor adalah sebesar: pendek (<5tahun) turun –0,72bps; menengah (5-7tahun) turun –0,62bps; dan panjang (>7tahun) naik +1,19bps. INDOBeXG-Effective Yield kemarin terpantau di tutup di level 7,1720 (–0,0078poin). Harga kelompok seri SUN benchmark bertahan mixed hingga akhir sesi end of day. Senada dengan sesi siang, penguatan harga masih dicatatkan oleh SUN acuan tenor 5-tahun dan 10-tahun. Secara keseluruhan, harga SUN seri FR dan ORI juga cenderung mixed dengan rata-rata harga naik +1,81bps. INDOBeXG-Clean Price kemarin ditutup naik +0,03% ke level 113,8480. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder kemarin tampak lebih sepi dengan 801 kali transaksi (-29,98%) dan mencatat total volume sebesar Rp12,49tn (-18,99%). Namun transaksi SUN benchmark terpantau meningkat pada kedua sisi dengan total volume sebesar Rp5,68tn (+75,32%) dan frekuensi 126 transaksi (+34,04%). Total volume transaksi SBN terbesar kemarin diraih seri FR0079 dengan total nilai Rp1,77tn. Pada obligasi korporasi, total volume transaksi terbesar senilai Rp181miliar dicatat seri TUFI04ACN2. Pergerakan terbatas berlanjut yang ditunjukkan performa pasar obligasi domestik hingga perdagangan kemarin terpapar oleh isu global. Situasi global di rasa semakin tidak kondusif paska pemerintahan Amerika berencana mengenakan tarif impor pada beberapa produk milik Eropa senilai US$7,5miliar. Pasar khawatir situasi tersebut dapat memicu terjadinya perang dagang jilid 2 yang juga berkepanjangan. Selain itu, rilis data manufaktur di Amerika yang menunjukkan gejala kontraksi semakin memberikan tekanan bagi pasar. Meski demikian, terapresiasinya Rupiah di pasar spot ke level Rp14.172/US$ (Bloomberg) diperkirakan menjadi katalis positif pada perdagangan kemarin. Ketidakpastian global diprediksi masih akan berlanjut. Selain karena Amerika kembali merilis data ekonomi “ISM Non-Manufacturing PMI” yang sebesar 52,6 atau dibawah konsensus yang sebesar 55,1, statement PM Boris Johnson bahwa dirinya berencana akan menutup kembali Parlemen Inggris dari tanggal 8 hingga 14 Oktober menjadi beberapa faktor pemicu situasi global yang belum juga kondusif. Pasar hari ini diprediksi berlanjut bergerak terbatas terpicu oleh faktor global yang semakin tidak menentu. Isu perang dagang, data ekonomi AS, maupun rencana penutupan kembali Parlemen Inggris oleh PM Johnson masih akan menjadi faktor-faktor yang akan membayangi pasar. Hari ini, pasar diperkirakan juga dibayangi wait and see Pidato Jerome Powell pada esok hari waktu setempat.

EKONOMI GLOBAL

  • Laporan data ekonomi AS yang lemah telah memicu spekulasi pasar terhadap peluang pemangkasan suku bunga acuan AS kembali pada pertemuan Federal Open market Committee di akhir bulan Oktober ini. Fokus utama pada hari ini adalah rangkaian data tenaga kerja AS, diantaranya laporan Non-Farm Payroll AS yang diekspektasikan meningkat, bila hasil yang dilaporkan turun dari data bulan sebelumnya, makan spekulasi pemangkasan suku bunga acuan AS makin dominan. Komite Uni Eropa dikabarkan memberikan waktu 1 minggu kepada PM Inggris,Boris Johnson,untuk merevisi proposal perjanjian Brexit yang sudah diberikan hari Rabu kemarin. Dengan fokus revisi diharapkan terkait perjanjian tentang Irlandia, memicu kekhawatiran tidak akan tercapainya kesepakatan sebelum batas akhir Brexit di 31 Oktober 2019.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpotensi bergerak naik dalam jangka pendek menguji level resisten di $1512 – $1515 karena ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan AS setelah laporan data ISM yang lemah. Support harga emas berada pada level $1498 – $1500.

MINYAK

Ekspektasi pemangkasan suku bunga AS dapat membantu perekonomian AS, berpotensi angkat harga minyak mencoba resisten $52.70 – $53.00. Support harga minyak pada kisaran $51.20 – $51.50.

EURUSD

EURUSD berpeluang bergerak naik menguji level resisten di 1.1000 – 1.1020 di tengah dolar yang tertekan oleh spekulasi pemangkasan suku bunga acuan AS. Support EURUSD berada pada kisaran 1.0920 – 1.0940.

GBPUSD

Permintaan revisi proposal Brexit Johnson oleh Komite Uni Eropa membayangi potensi naik GBPUSD menguji resisten 1.2375 -1.2400 yang tertopang ekspektasi peemangkasan suku bunga AS. Support GBPUSD pada kisaran 1.2200 – 1.2260.

USDJPY

Memanfaatkan tingginya minat pelaku pasar pada aset aman dan dolar yang menanti rangkaian laporan tenaga kerja AS, USDJPY berpeluang bergerak turun menguji level support di 106.00 – 106.50. Namun jika bergerak naik USDJPY berpeluang menguji resisten di 107.00 – 107.50.

AUDUSD

AUDUSD berpeluang naik menguji resisten 0.6750 – 0.6780 setelah data Ritail Sales yang lebih baik dari sebelumnya walau dibawah ekspektasi. Support AUDUSD pada kisaran 0.6700 – 0.6710.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Jumat 04/10/2019 pukul 09.39WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya