Jumat, 01 November 2019

  • Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh sedikit melambat pada September 2019. Posisi M2 pada September 2019 tercatat Rp6.002,4 triliun atau tumbuh 7,1% (yoy), sedikit melambat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 7,3% (yoy). Perlambatan M2 terutama terjadi pada komponen uang kuasi dan surat berharga selain saham. Komponen uang kuasi tercatat melambat, dari 7,4% (yoy) pada Agustus 2019 menjadi 7,0% (yoy) pada September 2019, dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan simpanan berjangka dan giro valuta asing (valas). Selain itu, surat berharga selain saham melambat dari 45,4% (yoy) pada Agustus 2019 menjadi 39,1% (yoy) pada bulan laporan. Berdasarkan faktor yang memengaruhi, perlambatan M2 disebabkan oleh aktiva luar negeri bersih serta aktiva dalam negeri bersih. Aktiva luar negeri bersih tercatat melambat dari 2,9% (yoy) pada Agustus 2019 menjadi 2,7% (yoy), seiring dengan perlambatan cadangan devisa pada September 2019. Sementara itu, aktiva dalam negeri bersih pada September 2019 tumbuh sebesar 8,6% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 9,0% (yoy). Perlambatan aktiva dalam negeri bersih terutama disebabkan oleh pertumbuhan penyaluran kredit yang lebih rendah, dari 8,7% (yoy) pada Agustus 2019 menjadi 8,0% (yoy) pada September 2019. Selain itu, tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat tercatat mengalami kontraksi sebesar -7,5% (yoy), lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi bulan sebelumnya sebesar -3,6% (yoy). Perkembangan tersebut sejalan dengan perlambatan tagihan sistem moneter kepada Pemerintah Pusat terutama pada instrumen obligasi negara, yang dibarengi dengan peningkatan kewajiban sistem moneter kepada Pemerintah Pusat dalam bentuk simpanan.
  • Pada perdagangan kemarin, ketiga indeks return obligasi Indonesia ditutup menguat. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) berada di level 272,5582 (+0,17%), INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) di level 267,6206 (+0,18%), dan INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) di level 295,2350. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) berpola bullish dengan rata-rata yield tenor 1-30 tahun turun sebesar –3,44bps. Penurunan rata-rata yield pada masing-masing kelompok tenor tercatat sebesar: pendek (<5tahun) –3,61bps; menengah (5-7tahun) –3,39bps; dan panjang (>7tahun) –3,42bps. Dengan demikian, INDOBeXG-Effective Yield turut bergerak turun yakni –0,0269poin ke level 6,8963. Penguatan harga kelompok SUN benchmark bertahan hingga akhir sesi end of day. Penguatan harga berada di antara +5,14bps (FR0077) hingga +24,02bps (FR0079) dan mencatatkan kenaikan rata-rata +14,36bps. Secara keseluruhan, harga SUN seri FR dan ORI juga dominan menguat dengan rata-rata naik sebesar +14,43bps. Kemarin, INDOBeXG-Clean Price naik +0,16% ke level 115,5628. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder cenderung stagnan dengan total volume Rp22,11tn (+1,02%) dan total frekuensi 1.100 transaksi (-1,70%). Namun, transaksi SUN benchmark tampak lebih semarak dengan total volume Rp6,30tn (+85,05%) dan total frekuensi 172 transaksi (+20,28%). SBN teraktif ditransaksikan masih dicatat seri FR0076 dengan 146 transaksi. Sedangkan total volume terbesar senilai Rp3,74tn dicatat seri FR0077. Untuk obligasi korporasi, frekuensi teraktif sebanyak 11 transaksi dicatat BEXI03DCN3 dan MEDC02CCN5. MEDC02CCN5 juga mencatat total volume terbesar senilai Rp150miliar. Rally harga berlanjut mewarnai mayoritas SUN seri FR dan ORI pada perdagangan kemarin. Dari 43 seri yang beredar, 37 seri diantaranya ditutup menguat di rentang perubahan +1,80bps hingga +87,50bps dan mendorong imbal hasil SBN turun pada seluruh tenor di kisaran –1,99bps hingga –4,69bps. Faktor penurunan FFR ke level 1,50%-1,75% masih menjadi pemicu positifnya kinerja pasar obligasi. Terlebih penurunan tersebut diikuti dengan statement Jerome Powell yang mengindikasikan belum akan bersikap hawkish dalam waktu dekat. Namun dalam pidatonya, Powell juga mengatakan bahwa tidak akan ada lagi pemangkasan suku bunga di tahun ini. Mayoritas harga obligasi negara diprediksi akan melanjutkan tren penguatannya pada perdagangan hari ini. Selain euforia FFR, statement Donald Trump yang akan segera menandatangani perjanjian dagang parsial dengan Xi Jinping turut memberikan tenaga bagi pasar. Diketahui, perjanjian damai dagang AS-China tahap I rencananya akan ditandatangi di sela-sela KTT Regional APEC di Chili yang mana dibatalkan karena kerusuhan di Santiago, Chili. Penguatan pasar obligasi diprediksi berlanjut hingga di hari terakhir perdagangan pekan ini. Selain euforia FFR, pernyataan Donald Trump yang akan segera menandatangani perjanjian dagang parsial dengan China dalam waktu dekat ini semakin memberikan sentimen positif di pasar. Namun kabar resesi dari Hongkong berpotensi sedikit meredam penguatan mayoritas harga obligasi.

EKONOMI GLOBAL

  • Kembalinya komentar-komentar negatif dari pejabat Tiongkok yang mengutarakan keraguan keberhasilan kesepakatan dagang AS – Tiongkok untuk jangka panjang, kemarin menyebabkan pelemahan dolar AS. Setelah sebelumnya di awal pekan Sekretaris AS, Mike Pompeo, menyerukan pernyataan keras terhadap langkah-langkah pemerintah Tiongkok terkait Hong Kong dan Uigur, dan ajakannya agar AS menentang Partai Komunis Tiongkok, partai penguasa di Tiongkok. Fokus utama pasar pada data tenaga kerja AS malam nanti, data Non-farm Payroll dan data pendukungnya yang diekspektasikan dovish bagi ekonomi AS. Data-data penggerak pasar hari ini diantaranya: Peluang penggerak AUDUSD di pagi ini adalah data manufaktur Tiongkok versi Caixin, bila dirilis lebih rendah dari ekspektasi berpotensi menekan AUDUSD turun. Di sore hari data manufaktur Inggris berpeluang melemahkan GBPUSD bila dirilis lebih rendah dari ekspektasi. Pasar akan terfokus pada rangkaian data tenaga kerja AS malam ini, Data pendapatan per jam, Nos-Farm Payroll, dan tingkat pengangguran AS menjadi penggerak harga, terutama harga emas berpotensinaik bila data-data tersebut menunjukan pelemahan. Tidak ketinggalan data manufaktur AS yang mungkin menekan turun harga emas bila dirilis lebih baik dari ekspektasi.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpotensi naik menguji level $1518 – $1520 bila kekhawatiran hubungan dagang AS – Tiongkok berlanjut. Level support pada kisaran $1504 – $1508.

MINYAK

Harga minyak berpotensi turun di tengah kekhawatiran kembali memanasnya hubungan dagang AS – Tiongkok, berpeluang menguji support $53.60. Level resisten pada kisaran $54.80 – $55.00.

EURUSD

Ekspektasi pelemahan dolar AS di tengah memanasnya hubungan dagang dengan Tiongkok, berpotensi mendukung penguatan EURUSD menguji resisten 1.1180 – 1.1240. Level support pada kisaran 1.1130 – 1.1100.

GBPUSD

Euforia Pemilu Desmber Inggris dan penundaan Brexit, disertai peluang pelemahan dolar AS berpeluang dorong GBPUSD naik menguji resisten 1.2960 – 1.3050. Level support pada kisaran 1.2850 – 1.2900.

USDJPY

USDJPY masih berpotensi turun menguji support 107.00 – 107.45 bila dolar AS berlanjut melemah. Level resisten pada kisaran 109.00 – 109.30.

AUDUSD

Didukung data manufaktur Tiongkok yang lebih baik dari estimasi, berpotensi angkat AUDUSD maik menguji resisten 0.6930 – 0.6950. Level support pada kisaran 0.6850 – 0.6880.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Jumat 01/11/2019 pukul 10.03WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.