Indonesia Composite Bond Index (ICBI) turun sebesar —0,57% ke level 228,7875 pada end of day

  • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) turun sebesar —0,57% ke level 228,7875 pada end of day Begitu pula dengan INDOBeXG-Total Return (return obligasi pemerintah) yang turun —0,61% ke level 223,9457 dan kinerja INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) yang turun sebesar —0,30% ke level 252,9437. Kurva yield IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) berpola bearish. Rata-rata yield seluruh tenor 1-30tahun naik +10,35bps. Rata-rata yield pada ketiga kelompok tenor tertekan naik masing-masing sebesar: tenor pendek (<5tahun) naik +7,43bps; menengah (5-7tahun) naik +14,82bps; dan panjang (>7tahun) naik +10,27bps. Sehingga INDOBeXG-Effective Yield pada penutupan Jumat naik sebesar +0,1077poin ke level 8,6676. Harga seluruh seri SUN benchmark ditutup melemah dengan rata-rata harga turun sebesar —41,77bps. Seri FR0065 melemah paling dalam yakni hingga —51,87bps. Sedangkan seri FR0063 mengalami pelemahan harga terendah yakni —28,58bps. Keseluruhan harga obligasi negara seri-seri FR dan ORI mengalami koreksi harga dengan rata-rata sebesar —58,73bps. Dengan demikian INDOBeXG-Clean Price kemarin ditutup melemah sebesar —0,6795poin ke level 104,7558. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder tampak bergerak datar. Total volume meningkat +2,68% dari Rp12,36tn menjadi Rp12,70tn dan total frekuensi meningkat sangat tipis sebesar +0,14% dari 696 kali menjadi 697 kali. Untuk aktivitas perdagangan SUN benchmark mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Volume transaksi SUN benchmark naik +96,51% dari Rp1,56tn menjadi Rp3,06tn. Frekuensi transaksi meningkat +34,48% dari 87 kali menjadi 117 kali. Seri teraktif kali ini dicatatkan oleh FR0077 yang diperdagangkan sebanyak 111 kali dan sekaligus dengan volume terbesar yakni Rp2,04tn. Adapun untuk obligasi korporasi teraktif diraih oleh seri SMRA01CN2 yakni dengan frekuensi transaksi 9 kali dan volume Rp25miliar. Pasar obligasi domestik hingga sesi end of day Jumat masih dibayangi sentimen negatif global yakni risiko perlambatan ekonomi global, perang dagang antara AS dan China, dan kenaikan ekspektasi inflasi AS. Investor concern dengan dampak perang tarif terhadap pertumbuhan ekonomi baik AS maupun China. Kekhawatiran tersebut meningkat paska IMF yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan emerging countries. Begitu pula dengan ekspektasi inflasi AS yang meningkat diatas ekspektasi yang kemudian mendorong yield US Treasuries tenor 10 tahun meningkat diatas 3,00%. Berbagai sentimen negatif tersebut kemudian turut berimbas kepada tren depresiasi Rupiah terhadap USD yang telah berada di zona Rp15.200/US$ (kurs spot Bloomberg). Berkebalikan dengan kinerja ICBI, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi penutupan Jumat sanggup menguat yakni sebesar +53,67poin ke level 5.756,49. Pasar obligasi domestik pada perdagangan Senin masih berpotensi untuk bergerak negatif. Kondisi tersebut sejalan dengan pergerakan nilai tukar Rupiah pagi ini yang kembali terdepresiasi ke level Rp15.233/US$ sejak sesi penutupan Jumat yang berada di level Rp15.197/US$ (kurs spot Bloomberg). Namun pasar juga berpeluang bergerak positif dan terbatas yang didorong oleh momentum koreksi harga dan aksi trading. Sementara data ekonomi yang akan dicermati pelaku pasar yakni rilis Neraca Perdagangan Indonesia bulan September yang diprediksikan mengalami penyempitan defisit. 

EKONOMI GLOBAL

 

  • Kekhawatiran atas masalah fiskal Italia berpotensi akan menjadi sorotan pasar di awal pekan ini di tengah rencana pemerintah Italia akan menyetujui anggaran di tahun 2019 pada hari Senin yang dapat memperburuk hubungan mereka dengan Uni Eropa setelah adanya kritik dari Presiden Komisi Eropa Jean Claude Juncker bahwa Italia tidak menjaga janjinya terhadap masalah anggaran dan komentar dari Presiden ECB Mario Drgahi yang mengatakan bahwa tidak ada bantuan dari ECB jika pembicaraan anggaran gagal tercapai. Selain itu fokus lainnya akan tertuju pada krisis Brexit seiring belum tercapainya kesepakatan pada akhir pekan lalu di tengah masih buntunya negosiasi terkait perbatasan Irlandia dan adanya desakan di parlemen dari pro-meninggalkan Uni Eropa untuk kembali di “jalur perang.” Data penting hari ini akan tertuju pada penjualan retail AS yang dirilis pukul 19.30 WIB.

Potensi pergerekan

Emas

Harga emas berpeluang lanjutkan pelemahannya pada Jumat lalu dengan outlook menguatnya dollar AS pada potensi kenaikan suku bunga AS dengan menguji support di $1215 – 1212. Namun jika perilisan data penjualan retail AS lebih rendah dari estimasi berpeluang mendorong naik harga emas untuk membidik resisten di $1224 – $1226.

Minyak
Harga minyak berpeluang turun dalam jangka pendek jika pasar mempertimbangkan pandangan yang pesimis pada permintaan dari IEA serta naiknya aktivitas rig dalam laporan Baker Hughes di Jumat lalu dengan menguji support di $71.80 – $71.50. Namun, harga minyak berpeluang untuk bergerak naik untuk menargetkan resisten di $72.50 – $72.80 jika trader khawatirkan ancaman Arab Saudi yang berencana untuk tidak akan lebihkan kuota produksi.

EURUSD

EURUSD berpeluang untuk bergerak melemah dalam jangka pendek di tengah krisis hubungan Italia dan Uni Eropa, khususnya jika jadi mensahkan anggaran tahun 2019 pada hari ini dengan menguji level support di 1.1520 – 1.1500. Jika bergerak naik, level resisten terlihat di 1.1580 – 1.1600.

GBPUSD

Sentimen ketidakpastian Brexit berpotensi akan menjadi beban bagi pergerakan GBPUSD pada hari ini pasca belum tercapainya kesepakatan pada akhir pekan lalu dengan menguji level support di 1.3050. Jika bergerak naik, level resisten terdekat terlihat di 1.3150.

USDJPY

USDJPY berpotensi akan bergerak dalam volatilitas rendah pada hari ini di tengah outlook menguatnya dollar AS dan pasar saham dengan fokus tertuju pada data produksi industri Jepang yang dirilis pukul 11.30 WIB. Untuk sisi bawah level support terlihat di 111.80 – 111.50, sementara itu jika naik level resisten berada di 112.60 – 113.00.

AUDUSD

AUDUSD berpeluang melemah dalam jangka pendek karena outlook menguatnya dollar AS serta kekhawatiran atas outlook pertumbuhan dari China, proxy dagang mereka dengan mengincar level support di 0.7080 – 0.7050. Jika bergerak naik, level resisten berada di 0.7140 – 0.7150.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Senin 15/10/2018 pukul 10.36 WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.