Indonesia Composite Bond Index (ICBI) turun sebesar –0,17% ke level 248,2662 pada penutupan perdagangan Selasa

  • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) turun sebesar –0,17% ke level 248,2662 pada penutupan perdagangan Selasa. Penurunan juga terjadi pada INDOBeXG-Total Return (return obligasi pemerintah) sebesar –0,18% ke level 243,0196 dan kinerja INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) yang turun sebesar –0,09% ke level 275,0898. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) bergerak bearish dengan rata-rata yield pada tenor 1-30 tahun naik +3,34bps. Kenaikan yield dialami oleh seluruh tenor dimana rata-rata yield kelompok tenor menengah (5-7tahun) naik paling tinggi sebesar +6,23bps. Adapun yield tenor pendek (<5tahun) dan panjang (>7tahun) naik dengan rata-rata sebesar +3,41bps dan +2,95bps. Dengan demikian INDOBeXG-Effective Yield perdagangan Selasa naik +0,0391poin ke level 7,9811. Mayoritas harga seri SUN benchmark terkoreksi dengan rata-rata turun sebesar –15,99bps. Hanya seri FR0079 yang sanggup menguat tipis sebesar +0,24bps sedangkan harga ketiga seri lainnya melemah pada rentang –1,22bps hingga –35,48bps. Mayoritas harga SUN seri FR dan ORI juga mencatatkan koreksi harga dengan rata-rata perubahan turun sebesar –21,91bps. Pada perdagangan Selasa, INDOBeXG-Clean Price ditutup turun sebesar –0,2268poin ke level 108,5945. Aktivitas perdagangan pasar sekunder obligasi terpantau menurun. Total frekuensi turun sebesar –17,91% menjadi 692 transaksi, dan total volume turun sebesar –23,08% menjadi Rp9,23tn. Peningkatan volume lebih dipicu oleh tenor panjang dengan akumulasi penurunan sebesar Rp3,72tn dalam sehari. Seri FR0078 ditransaksikan dengan total volume terbesar yakni Rp1,50tn. Sementara itu FR0079 masih menjadi SUN teraktif yang ditransaksikan yakni 162 kali. Pada obligasi korporasi, seri ADMF04ACN5 mencatat total volume terbesar senilai Rp93miliar sedangkan untuk seri teraktif diraih oleh BBKP02SBCN2 dan TLKM02B masing-masing sebanyak 6 transaksi. Pelemahan yang masih berlangsung di pasar obligasi Indonesia pada perdagangan Selasa ini disebabkan oleh maraknya aksi jual pada seri-seri obligasi yang beredar. Terlihat dari penurunan harga seri-seri obligasi baik konvensional maupun sukuk sehingga mendorong kenaikan yield SBN seluruh tenor dalam rentang perubahan +1,60bps hingga +6,37bps. Paska Amerika resmi menaikkan tarif impor produk asal China dari 10% menjadi 25% senilai US$200miliar pada Jumat pekan lalu, pemerintah China juga akan mengenakan kenaikan tarif impor produk AS dari yang awalnya 5-10% menjadi 20-25% senilai US$60miliar pada tanggal 1 Juni mendatang. Kondisi tersebut pada akhirnya meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gejolak dan perlambatan ekonomi global dalam waktu dekat. Terlebih lagi, dari domestik, berlanjutnya pelemahan Rupiah yang pada hari ini bergerak pada rentang Rp14.434/US$ – Rp14.460/US$ turut menjadi faktor negatif di pasar SBN. Pasar obligasi dalam negeri diperkirakan masih tertahan dalam kinerja negatif Rabu ini. Sentimen penggerak diperkirakan berasal dari rilis neraca dagang yang diproyeksikan defisit sebesar $500juta akibat belum membaiknya kinerja ekspor. Namun demikian, statement terbaru Presiden Trump yang mengatakan akan kembali bertemu Presiden China dan kedua negara sepakat untuk melanjutkan negosiasi pada sela KTT G20 akhir Juni mendatang diperkirakan dapat sedikit meredam tekanan di pasar.

EKONOMI GLOBAL

 

  • Dolar menguat di awal perdagangan Asia pada hari Rabu didukung oleh masalah perdagangan dan tetap menjadi pusat perhatian investor setelah AS dan pejabat China mengatakan kedua negara akan terus bernegosiasi tentang perdagangan. Selajutnya pasar akan tertuju pada rilis data German Prelim GDP pada pukul 13:00 WIB dan Data Retail Sales AS yang akan dirilis pada pukul 19:30 WIB.

Potensi Pergerakan

EMAS

Harga emas berpotensi bergerak melemah dalam jangka pendek menguji level 1290 – 1288 menyusul komentar yang di sampaikan Presiden Trump bahwa ia akan berbicara kepada Presiden Xi Jinping pada pertemuan G20. Resisten harga emas berada pada kisaran 1305 – 1308.

MINYAK

Harga minyak berpotensi bergerak naik dalam jangka pendek menguji resisten di 62.30 – 62.80 seiring serangan terhadap industri minyak Arab Saudi yang dapat menimbulkan gangguan pasokan. sementara itu apabila ketegangan AS-China berlanjut berpeluang menekan harga minyak ke level support di 60.60 – 60.00.

EURUSD

EURUSD berpeluang bergerak melemah menguji level support di 1.1170 – 1.1140 jika data German Prelim GDP dirilis lebih rendah dari ekspektasi, Level resisten EURUSD berada pada kisaran 1.1250 – 1.1280.

GBPUSD

GBPUSD berpeluang bergerak naik dalam jangka pendek menguji resisten di 1.2950 – 1.2980 karena Theresa Mei Berencana untuk mengajukan proposal Brexit ke Parlemen Inggris pada awal Juni, namun jika hal tersebut mengalami kebuntuan kembali maka GBPUSD berpeluang menguji support di 1.2865 – 1.2830.

USDJPY

USDJPY berpeluang bergerak naik menguji level resisten di 110.00 – 110.20 karena memudarnya ketegangan perang dagang setelah Trump akan kembali bertemu Xi Jinping. Suport USDJPY berada di kisaran 109.30 – 109.00.

AUDUSD

AUDUSD berpeluang bergerak menguji level support di 0.6900 – 0.6880 karena data Wage Price Index dirilis lebih rendah dari ekspektasi. Resisten AUDUSD berada pada level 0.6980 – 0.7000.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Rabu 15/05/2019 pukul 09.29 WIB :

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.