Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada sesi end of day kemarin turun –0,10% ke level 239,8269

  • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada sesi end of day kemarin turun –0,10% ke level 239,8269. Begitu pula dengan INDOBeXG-Total Return (return obligasi pemerintah) yang turun sebesar –0,12% ke level 235,3343. Sementara itu INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) masih menguat sebesar +0,02% ke level 261,1922. Kurva yield IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) bergerak mixed. Rata-rata yield tenor pendek (<5tahun) dan menengah (5-7tahun) naik masing-masing sebesar +0,18bps dan +0,71bps. Sedangkan untuk rata-rata yield tenor panjang (>7tahun) turun sebesar –2,03bps. Dengan demikian, INDOBeXG-Effective Yield kemarin bergerak negatif yakni naik +0,0215poin ke level 8,0355. Seluruh harga seri SUN benchmark ditutup terkoreksi. Harga FR0065 melemah paling tinggi yakni –55,70bps sedangkan penurunan harga terendah dicatatkan FR0063 yakni sebesar –8,96bps. Pelemahan harga juga mendominasi seri-seri SBN baik tipe FR maupun ORI dengan rata-rata sebesar –7,18bps. Sehingga, INDOBeXG-Clean Price turut ditutup melemah yakni –0,14% ke level 109,0388. Aktivitas perdagangan pasar sekunder menurun dari sisi total frekuensi yakni –22,03% dari 690 kali menjadi 538 kali. Sedangkan total volume meningkat sebesar +3,57% dari Rp10,18tn menjadi Rp10,55tn. Volume obligasi negara tenor pendek menjadi penyumbang kenaikan volume perdagangan Rabu kemarin dengan peningkatan sebesar Rp2,56tn dalam sehari. FR0061 menjadi seri SBN yang ditransaksikan dengan total volume terbesar yakni Rp1,77tn. Sementara frekuensi teraktif dicatatkan seri FR0072 sebanyak 54 kali. Untuk transaksi obligasi korporasi, seri ADMF04ACN3 tercatat sebagai seri dengan total volume transaksi terbesar yakni Rp200miliar (ditransaksikan sebanyak 4 kali). Pasar obligasi Indonesia mencatatkan negative return harian pada perdagangan end of day Rabu kemarin. Kondisi tersebut terlihat dari menurunnya mayoritas harga obligasi negara sehingga turut memicu penurunan indeks return obligasi secara komposit. Ditengah wait and see terhadap beberapa rilis data global seperti rencana perundingan Presiden AS-China, pidato Jerome Powell, dan rilis data ekonomi AS, tekanan pada perdagangan kemarin diperkirakan lebih dipicu oleh aksi short trading investor memanfaatkan kenaikan harga yang telah terjadi dalam beberapa hari kebelakang. Sebagai informasi, pada Rabu malam kemarin waktu Indonesia, data GDP Q3-2018 US berada di level 3,5% atau lebih rendah dari perkiraan dan disaat yang bersamaan Gubernur The Fed memberikan pengakuan bahwa suku bunga acuan AS saat ini memang telah mendekati titik netral. Kondisi tersebut telah meningkatkan persepsi investor bahwa kebijakan The Fed untuk tahun 2019 tidak akan seagresif pada tahun ini. Pada perdagangan Sesi Kamis ini, pasar obligasi domestik berpotensi rebound. Sentimen positif untuk hari ini diperkirakan berasal dari pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell yang bernada dovish terkait kebijakan kenaikan FFR kedepannya. Selain itu, penguatan Rupiah juga diprediksi menjadi tenaga penguatan pasar hari ini. Membuka perdagangan Kamis, Kurs Spot Rupiah menguat ke level Rp14.465/US$ (Bloomberg).

EKONOMI GLOBAL

  • Pimpinan Bank Sentral AS (The Fed), Jerome Powell membuat kejutan dengan mengatakan suku bunga di AS kini sudah mendekati level netral. Akibat pernyataan tersebut, pasar kini memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga hanya satu kali pada tahun 2019. Sebelumnya pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya tiga kali di tahun 2019, hal tersebut terkait dengan sikap Powell yang kukuh untuk terus menaikkan suku bunga secara bertahap di tahun depan. Perubahan sikap tersebut membuat dollar AS tertekan dan harga emas menguat pada perdagangan Rabu. Pergerakan yang sama kemungkinan akan terjadi pada hari ini, terlebih jika rilis FOMC Minutes pukul 2:00 (Kamis dini hari) menegaskan pernyataan Powell mengenai suku bunga sudah mendekati netral.

Potensi Pergerakan

Emas

Suku bunga di AS yang diprediksi tidak akan naik terlalu tinggi memberikan keuntungan bagi emas, dan berpeluang menguat ke area 1232. Support terdekat di kisaran 1215.

Minyak Mentah

Penambahan stok di AS yang lebih banyak dari perkiraan membuat harga minyak mentah melemah. Namun selama belum menembus level 50.00, minyak berpeluang naik kembali ke 52.15 akibat aksi short covering. Namun jika level 50.00 ditembus secara konsisten, minyak berpeluang besar turun ke area 48.90.

EURUSD
Pidato Presiden ECB, Mario Draghi pukul 15:00 WIB dapat menjadi penggerak bagi EURUSD. Disisi lain, dollar AS yang sedang tertekan membuka peluang kenaikan EURUSD ke level 1.1425. Support berada di kisaran 1.1335.

GBPUSD

Tekanan terhadap dollar membuka peluang penguatan GBPUSD, namun Bank Sentral Inggris yang mengatakan pertumbuhan ekonomi akan melambat pasca Brexit kemungkinan akan membatasi penguatan. Target penguatan ke kisaran 1.2880, selama tidak menembus ke bawah support di kisaran 1.2800/1.2790.

USDJPY

Pasangan mata uang ini turun sekitar 20 pip ke kisaran 113.48 di awal perdagangan. Penurunan kemungkinan berlanjut ke area 113.10 selama tidak menembus ke atas 113.70.

AUDUSD

Rilis data belaja modal swasta Australia yang negatif dan jauh di bawah estimasi memberikan sentimen negatif bagi AUDUSD. Pasangan mata uang ini kemungkinan besar akan melemah selama tidak menembus ke atas 0.7230, dengan target ke area 0.7250.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Kamis 29/11/2018 pukul 09.46WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.