Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada penutupan Kamis (16/8) melemah tipis

  • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada penutupan Kamis (16/8) melemah tipis sebesar –0,03% ke level 234,3633. INDOBeXG-Total Return (return obligasi pemerintah) turut turun tipis yakni sebesar –0,04% ke level 230,0234. Sementara INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) sanggup menguat tipis sebesar +0,04% ke level 254,8877. Kurva yield IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) bergerak mixed cenderung Rata-rata yield seluruh tenor 1-30tahun naik sebesar +0,65bps dengan tenor menengah (5-7tahun) dan panjang (>7tahun) tertekan naik masing-masing sebesar +1,32bps dan +1,11bps. Sementara itu rata-rata yield tenor pendek (<5tahun) turun sebesar –2,51bps. INDOBeXG-Effective Yield pada Kamis kemarin ditutup naik +0,0087poin di level 7,9632. Mayoritas harga seri SUN benchmark turun dengan rata-rata sebesar –1,55bps. Hanya harga seri FR0064 yang naik sebesar +29,31bps. Sedangkan ketiga seri lainnya mencatatkan koreksi harga pada kisaran –2,88bps hingga –21,06bps. Dominasi koreksi juga membayangi harga SBN tipe FR dan ORI secara keseluruhan dengan rata-rata penurunan sebesar –3,10bps. Dengan demikian INDOBeXG-Clean Price Kamis kemarin turut melemah sebesar –0,06% ke level 109,0590. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder mencatatkan peningkatan. Total volume transaksi tercatat sebesar Rp13,65tn (+7,96%) dimana peningkatan terbesar didorong oleh kenaikan volume SUN tenor panjang sebesar Rp2,93tn. Total frekuensi juga tercatat naik sebesar +12,30% dari 683 transaksi menjadi 767 transaksi. Dari sisi teraktif, seri FR0072 menjadi SBN teraktif dengan 140 transaksi sekaligus mencatatkan volume perdagangan terbesar yakni senilai Rp2,29tn. Untuk obligasi korporasi, seri teraktif dicatatkan EBA seri SPSBTN01 dengan total frekuensi sebanyak 18 kali (volume Rp70juta rupiah). Menutup perdagangan Kamis pekan lalu yang bertepatan sebelum libur kemerdekaan Indonesia, kinerja pasar obligasi domestik kembali melemah. Tercermin dari naiknya imbal hasil mayoritas obligasi negara dan penurunan harga seri-seri obligasi negara. Kondisi tersebut diperkirakan lebih disebabkan oleh tengah meningkatnya persepsi risiko investor paska rilis defisit neraca perdagangan Indonesia yang semakin melebar hingga US$2,03miliar. Selain itu, tekanan juga berasal dari pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap USD yang kembali terdepresiasi ke level Rp14.593/US$. Dari global, risiko terkait krisis mata uang Turki terhadap perekonomian global diprediksi juga masih membayangi pasar. Peningkatan risiko pasar terlihat dari meningkatnya nilai indikator Credit Default Swap Indonesia tenor 5-tahun menjadi 124,06 dari sebelumnya di level 123,84. Pada perdagangan awal pekan ini, pasar obligasi dalam negeri berpotensi bergerak sideways. Datarnya pergerakan pasar hari ini diperkirakan lebih dipicu oleh belum adanya sentimen lanjutan di pasar ditengah bagaimana kelanjutan isu krisis mata uang Turki. Pada pagi ini, Rupiah dibuka menguat ke level Rp14.582/US$ (Bloomberg).

EKONOMI GLOBAL

  • Dolar merosot, Senin pagi, karena permintaan investor untuk mata uang safe haven menyusut dipicu optimisme atas meredanya ketegangan perdagangan Amerika-China, dengan fokus pada perundingan antara kedua negara yang dijadwalkan pekan ini. Indeks dolar, ukuran greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, sedikit berubah pada posisi 96,126 setelah kehilangan 0,55 persen pada sesi Jumat, demikian laporan Reuters, di Tokyo, Senin (20/8). Meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan mitra dagangnya, di samping kejatuhan lira Turki, menyebabkan depresiasi pada mata uang emerging market. Sentimen tersebut mendorong indeks dolar ke posisi 96,984 pada perdagangan Rabu, tertinggi sejak Juni 2017. Namun, penguatan dolar terhenti menjelang pembicaraan perdagangan tingkat lebih rendah antara pejabat China dan Amerika, di Washington, yang dijadwalkan Selasa dan Rabu. “Perundingan Amerika-China…tidak akan berada di antara pejabat tingkat tinggi dan karenanya tidak mungkin menghasilkan kesepakatan dalam waktu dekat. Namun, pasar akan berharap pembicaraan itu membuka jalan untuk negosiasi pada tingkat yang lebih tinggi,” kata Yukio Ishizuki, analis Daiwa Securities. “Adapun lira, mata uang itu tidak akan memicu gejolak lebih besar karena Turki menuju liburan panjang.” Pasar keuangan Turki akan ditutup untuk hari libur nasional 21-24 Agustus. Standard & Poor’s memotong peringkat kredit pemerintah Turki satu tingkat ke B+ dari BB-, Jumat, mengirimnya lebih dalam ke wilayah “junk”, mengutip volatilitas lira yang ekstrim dan memperkirakan resesi tahun depan. Lira menghentikan rebound tiga hari, Jumat, anjlok lebih dari lima persen terhadap dolar karena kekhawatiran Amerika Serikat akan memberlakukan sanksi ekonomi lebih banyak kecuali Turki membebaskan pendeta Amerika yang ditahan, Andrew Brunson. Euro, yang tergelincir ke tingkat terendah 13-bulan awal pekan lalu di tengah kekhawatiran krisis Turki dapat membebani perbankan Eropa, berhasil bangkit pada sesi Jumat. Mata uang tunggal itu naik 0,55 persen, Jumat, dan terakhir sedikit berubah di posisi USD1,1436. Sementara itu,dolar tidak berubah pada posisi 110,51 yen setelah turun 0,35 persen, Jumat.
  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Senin 20/08/2018 pukul 10.51 WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.