Indonesia Composite Bond Index (ICBI) melemah

  • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) melemah –0,19% ke level 264,5638 pada perdagangan Senin. Pelemahan juga terjadi pada kinerja INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) yang turun –0,20% ke level 259,7835 serta kinerja INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) yang turun –0,07% ke level 286,4734. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) terpantau bearish dengan rata-rata yield pada tenor 1-30tahun naik sebesar +4,36bps. Adapun kenaikan rata-rata yield pada masing-masing kelompok tenor adalah: pendek (<5tahun) +4,46bps; menengah (5-7tahun) +4,58bps; dan panjang (>7tahun) +4,32bps. Perdagangan kemarin, INDOBeXG-Effective Yield berada di level 7,1135 (+0,0442poin). Harga kelompok SUN benchmark kompak terkoreksi. Harga seri FR0068 turun paling besar yakni –56,84bps sedangkan koreksi harga terendah dicatatkan FR0077 sebesar –23,26bps. Harga SUN seri FR dan ORI secara keseluruhan juga dominan melemah dengan rata-rata turun sebesar –26,43bps. Dengan demikian, INDOBeXG-Clean Price turut melemah sebesar –0,3107poin ke level 114,3566. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder terpantau turun dari sisi total volume yakni –20,53% menjadi sebesar Rp10,93tn. Sementara itu total frekuensi naik sebesar +21,51% menjadi 774 transaksi. Penurunan volume lebih didorong oleh turunnya volume perdagangan obligasi tenor pendek dengan akumulasi sebesar Rp2,02tn dalam sehari. Seri SUN yang ditransaksikan dengan total volume terbesar dicatatkan oleh FR0078 dengan total nilai Rp1,37tn. Sementara frekuensi teraktif dicatatkan seri FR0075 sebanyak 119 transaksi. Pada obligasi korporasi, total volume terbesar diraih oleh seri OTMA03B senilai Rp215miliar dan frekuensi teraktif dicatatkan oleh seri MAYA03SB dengan 10 kali transaksi. Pola bearish mewarnai pasar obligasi domestik pada perdagangan awal pekan kemarin. Kondisi tersebut tercermin dari turunnya harga 40 seri FR dan ORI (dari total 42 seri) sehingga turut mengakibatkan naiknya imbal hasil obligasi negara seluruh tenor. Alhasil, indeks return obligasi konvensional maupun sukuk turut mencatatkan negative return Ditengah penantian pasar terhadap hasil kebijakan moneter Bank Sentral The Fed Kamis esok waktu Indonesia, sentimen negatif lebih dipicu oleh meningkatnya persepsi risiko investor terhadap kondisi dinamika politik Inggris. Paska terpilih, Perdana Menteri baru, Boris Johnson, langsung menyatakan bahwa Inggris akan tetap keluar dari Uni Eropa paling lambat 31 Oktober 2019 apapun keadaannya. Potensi Hard Brexit yang kian besar semakin meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi perlambatan ekonomi secara global. Pada perdagangan hari ini, pergerakan pasar diperkirakan masih melemah dengan kecenderungan terbatas. Jelang keputusan The Fed dan dinamika Brexit terbaru, pasar juga tengah menantikan bagaimana perkembangan terbaru negosiasi dagang AS-China. Sebagai informasi, Menkeu dan Kepala Perwakilan Dagang AS sedang berkunjung ke China untuk melaksanakan perundingan selama 2 hari kedepan. Pada pagi ini, Rupiah dibuka melemah ke level Rp14.030/US$ (Bloomberg).

EKONOMI GLOBAL

  • Sentimen pemotongan suku bunga bank sentral AS menjadi penggerak pelemahan dolar AS semalam, dengan Poundsterling Inggris melemah tajam tertekan oleh pesimisme No-Deal Brexit. Sementara belum adanya perkembangan pembahasan negosiasi dagang AS – Tiongkok masih menjadi penyebab lemahnya dolar Australia. Fokus utama pasar pada kebijakkan moneter Bank of Japan yang akan dirilis hari ini. Pasar menantikan kepastian apakah ada pelonggaran moneter lebih lanjut. Data ekonomi lainnya yang perlu diperhatikan: Data inflasi Jerman jam 19:00 WIB, berpotensi menggerakkan mata uang Euro. Dan data Consumer Confidence versi The Conference Board dirilis jam 21:00 WIB, menjadi penggerak dolar AS malam ini.

Potensi Pergerakan

EMAS

Peluang naik harga emas masih bertahan selama bergerak di atas level $1422., menguji resisten $1432 – $1433. Ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve AS masih menjadi penggerak pasar. Sebaliknya pelemahan berpeluang menguji level support $1418 – $1420.

MINYAK

Adanya permintaan oleh wakil presiden Iran kepada negara-negara rekan dagangnya dan ekspektasi pasar terhadap kebijakan pemotongan suku bunga acuan AS berpotensi membawa harga minyak naik menguji level resisten $58.00 – $58.30. Sebaliknya bila melemah, harga minyak berpeluang menguji support $55.50 – $55.65.

EURUSD

EURUSD berpeluang naik menguji level resisten 1.1185 – 1.1190 diangkat sentimen pemotongan suku bunga The Fed. Sebaliknya pelemahan dapat menguji level 1.1080 – 1.1100.

GBPUSD

Ketakutan No-Deal Brexit masih berpotensi menekan GBPUSD turun menguji level support 1.2100 – 1.2150. Bila sentimen berbalik naik, berpotensi menguji resisten 1.2250 – 1.2265.

USDJPY

Fokus pasar masih kepada kebijakan BoJ yang akan dirilis, bila pernyataan bernada dovish berpotensi menopang USDJPY naik mencoba level resisten 109.00 – 109.20. Sebaliknya bila bergerak turun berpotensi menguji level 108.20 – 108.45.

AUDUSD

Sentimen pesimis pembahasan dagang AS – Tiongkok dan data Building Approvals yang dirilis lebih buruk dari ekspektasi berpotensi lemahkan AUDUSD menguji support 0.6850 – 0.6870. Bila berbalik menguat berpotensi uji level resisten 0.6940 – 0.6950.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Selasa 30/07/2019 pukul 09.33WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.