Indonesia Composite Bond Index (ICBI) melemah tipis

  • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) melemah tipis –0,05% ke level 265,0625 pada perdagangan Jumat terpicu kinerja INDOBeXG-Total Return (return obligasi negara) yang turun –0,06% ke level 260,3158. Sementara INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) menguat +0,02% ke level 286,6600. Kurva yield PHEI-IGSYC (PHEI-Indonesia Government Securities Yield Curve) terpantau bergerak terbatas dengan rata-rata yield pada tenor 1-30tahun naik sebesar +0,55bps. Adapun pergerakan rata-rata yield pada masing-masing kelompok tenor adalah: pendek (<5tahun) turun -0,70bps; menengah (5-7tahun) naik +0,49bps; dan panjang (>7tahun) naik +0,77bps. Jumat kemarin, INDOBeXG-Effective Yield berada di level 7,0692 (+0,0118poin). Harga kelompok SUN benchmark dominan terkoreksi. Hanya harga seri FR0079 yang tercatat naik +4,95bps, sementara 3 seri lainnya (FR0077, FR0078, FR0068) melemah pada rentang –4,03bps hingga –22,50bps. Harga SUN seri FR dan ORI secara keseluruhan juga didominasi melemah dengan rata-rata turun sebesar –9,24bps. Dengan demikian, INDOBeXG-Clean Price turut terpantau melemah yakni –0,0912poin (-0,08%) ke level 114,6673. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder terpantau sepi. Total volume turun –44,73% menjadi sebesar Rp13,75tn dengan total frekuensi turun –30,99% menjadi 637 transaksi. Penurunan volume dialami transaksi obligasi negara pada seluruh tenornya dengan akumulasi penurunan terbesar dicatatkan tenor panjang yakni hingga Rp8,11tn (-57,38%). Seri SUN yang ditransaksikan dengan total volume terbesar dicatatkan oleh FR0077 dengan total nilai Rp1,75tn. Sementara frekuensi teraktif dicatatkan seri FR0075 sebanyak 112 transaksi. Pada obligasi korporasi, total volume terbesar dan frekuensi teraktif dicatatkan oleh satu seri yang sama yakni TUFI04ACN2 dengan 8 kali transaksi dan total nilai Rp365miliar. Di hari terakhir perdagangan pekan kemarin, performa pasar surat utang Indonesia berbalik melemah setelah sempat menguat pada perdagangan Kamis. Nada dovish Bank Sentral Eropa (ECB) yang dipandang kurang agresif memicu terkoreksinya harga mayoritas SUN seri FR dan ORI termasuk kelompok acuan. Diketahui Kamis kemarin waktu setempat, ECB memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,00% dan rencananya baru akan menurunkan suku bunga acuannya pada pertemuan rapat ECB di bulan September. Meski demikian, pasar juga tampak dibayangi wait and see rapat FOMC akhir bulan ini, tercermin dari aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder yang terpantau kurang semarak dan pergerakan tingkat imbal hasil SBN yang tampak terbatas yakni antara –2,07bps hingga +1,71bps. Performa Rupiah di pasar spot Jumat kemarin juga terpantau melemah dan kembali tembus ke level Rp14.009/US$. Pada perdagangan hari ini, pasar obligasi domestik berpotensi bergerak mendatar/sideways. Pekan ini, concern pasar diperkirakan masih akan tertuju pada arah kebijakan moneter. Selain wait and see rapat FOMC, adanya agenda pernyataan arah kebijakan moneter Bank Sentral Jepang (BoJ) pada hari ini waktu setempat berpotensi menyebabkan aktivitas pasar sekunder obligasi masih belum akan berlangsung semarak.

EKONOMI GLOBAL

  • Data GDP AS yang lebih baik dari ekspektasi membantu penguatan dolar AS pada akhir pekan lalu. Dengan fokus pasar hari ini tampaknya tertuju pada negosiasi dagang AS – Tiongkok, jika belum menunjukan perkembangan, berpotensi membuat pasar menghindari aset beresiko. Data ekonomi yang diperhatikan hari ini yaitu : penjualan ritel Jepang Jam 06:50 WIB, yang berpotensi menggerakkan USDJPY, dan data persetujuan KPR dan pinjaman individual Inggris jam 15:30 WIB yang akan menjadi katalis bagi pergerakan GBPUSD.

Potensi Pergerakan

EMAS

Peluang kenaikan harga emas masih berpotensi menguji level resisten $ 1429 – 1432. bila masih mengacuhkan penguatan dolar akhir pekan lalu. Turun di bawah $1416. berpotensi uji level support $1411 – 1410. Sentimen naik masih akan bertahan selama harga emas ,masih di atas level $1400.

MINYAK

Dibayangi penyusutan permintaan global dan pesimisme pertemuan dagang AS – Tiongkok, berpotensi lemahkan harga minyak menguji level support di level $55.00 – 55.10. Bila bergerak naik, berpotensi menguji level 57.30 – 57.50.

EURUSD

Peluang turun EURUSD masih berlanjut menguji level 1.1100 – 1.1080, bila sentimen penguatan dolar AS masih berlanjut. Naik di atas level 1.1150 berpotensi uji level resisten 1.1185 1.1200.

GBPUSD

Ketakutan terhadap no-deal Brexit masih berpotensi jadi penyebab pelemahan GBPUSD turun menguji level support 1.2280 – 1.2300. Sebaliknya penguatan berpotensi menguji level resisten 1.2460 – 1.2500.

USDJPY

Gagalnya USDJPY sentuh level resisten 109.00 selama pekan lalu memberikan peluang turun menguji level support 108.00 – 108.25, didukung laporan penjualan ritel tahunan Jepang yang lebih tinggi dari estimasi, menguatkan mata uang yen.

AUDUSD

Pesimisme pertemuan dagang AS – Tiongkok dan sentimen pelonggaran lebih lanjut dari RBA masih berpeluang lemahkan AUDUSD menguji level support 0.6850 – 0.6880. Bila alami penguatan, berpotensi menguji level resisten 0.6955 – 0.7000.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Senin 29/07/2019 pukul 09.47 WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.