Indonesia Composite Bond Index (ICBI) kemarin ditutup turun

  • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) kemarin ditutup di level 233,7034, turun –0,33% dari penutupan sebelumnya. INDOBeXG -Total Return (return obligasi pemerintah) bahkan turun lebih besar yakni –0,37% ke level 229,2378. Adapun INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) turun –0,10% ke level 255,1170. Kurva yield IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) didominasi bearish dengan rata-rata yield pada seluruh tenornya (1-30tahun) naik sebesar +3,15bps. Tenor menengah (5-7tahun) mencatatkan kenaikan rata-rata yield terbesar hingga +9,07bps. Sementara rata-rata yield pada dua tenor lainnya masing-masing tercatat sebesar: panjang (>7tahun) naik +2,95bps; sementara tenor pendek (<5tahun) turun –0,15bps. INDOBeXG-Effective Yield kemarin ditutup di level 8,2542 (+0,0633poin). Pelemahan harga masih berlanjut mewarnai kelompok SUN benchmark namun sudah mulai mereda dengan rata-rata harga turun sebesar –36,08bps. Pelemahan harga SUN benchmark berada di kisaran –26,58ps (FR0063) hingga –55,23bps (FR0065). Meski demikian, secara keseluruhan rata-rata harga seri-seri SBN (FR&ORI) kemarin turun lebih besar yakni –32,26bps. INDOBeXG-Clean Price kemarin ditutup melemah –0,40% di level 107,4985. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder kemarin masih belum semarak. Total volume turun –28,38% dari Rp11,37tn menjadi Rp8,14tn ditengah frekuensi transaksi yang stagnan yakni sebanyak 529 kali (+0,38%). Penurunan volume terbesar terjadi pada transaksi SUN tenor pendek dengan akumulasi nilai hingga Rp4,24tn dalam sehari perdagangan. Pada perdagangan kemarin, seri SBN yang teraktif dan tersolid ditransaksikan dicatatkan oleh 1 seri yang sama yakni FR0070 dengan total frekuensi 40 kali, dan total volume Rp1,80tn. Untuk transaksi obligasi korporasi, total volume terbesar tercatat sebesar Rp55miliar oleh BBRI02BCN2, sementara frekuensi teraktif tercatat sebanyak 14 kali oleh SPSBTN01. Pasar obligasi domestik tampak masih belum sanggup keluar dari tekanan. Rupiah yang terus melemah di pasar spot, yang pada perdagangan kemarin kembali melemah –32,0poin ke level 15.075/US$, masih menjadi alasan utama terkoreksinya harga seri-seri SBN. Kali ini, persepsi risiko domestik tampak lebih tinggi dari persepsi risiko di global yang tercermin dari spread yield antara tenor 2-tahun dan 10-tahun yang melebar hingga +11,84bps di saat CDS Indonesia tenor 5-tahun justru turun meski tipis yakni –0,25bps. Kondisi tersebut terpicu oleh pergerakan Rupiah yang masih terus mencari titik ekuilibrium yang baru meski sudah menyentuh ke level psikologis baru yakni di level Rp15.000/US$. Bahkan kemarin Kurs Jisdor BI sudah menyentuh ke level terendahnya sejak kurs acuan BI tersebut diperkenalkan di bulan Mei 2013. IHSG pada penutupan perdagangan kemarin juga berlanjut melemah dengan ditutup turun –0,13% ke level 5.867,74. Tren pelemahan harga diprediksi masih akan berlanjut di pasar SBN. Rilis beberapa data ekonomi AS yang lebih baik dari konsensus dikhawatirkan dapat semakin memicu pelemahan Rupiah dan menambah tekanan di pasar obligasi Indonesia. Meski demikian, ada kemungkinan pasar dipengaruhi oleh faktor trading dengan memanfaatkan momentum terkoreksinya harga SBN yang cukup dalam dalam 2 hari terakhir ini untuk melakukan aksi beli.

EKONOMI GLOBAL

  • Harga emas kembali ke bawah level $1200 pada perdagangan hari ini, setelah dollar AS kembali menunjukkan kekuatan. Terpantau sejak perdagangan Rabu kemarin, indeks dollar naik ke level tertinggi sejak 20 Agustus. Rilis data tenaga kerja AS versi ADP dan aktivitas non-manufaktur versi ISM yang lebih bagus dari perkiraan mengkonfirmasi pernyataan Pimpinan Federal Reserve mengenai kuatnya perekonomian AS.

Potensi Pergerakan

Emas

Selama tertahan di bawah level 1200, harga emas berpotensi melanjutkan penurunan dengan target ke area 1190 sampai 1187.

Minyak Mentah

Ekspektasi penurunan suplai global kembali membuat harga minyak mentah naik tajam pada perdagangan Rabu hingga ke atas level 76.00. Namun kenaikan tajam tersebut dapat memicu aksi profit taking, jika kembali menembus ke bawah level 76.00 minyak berpeluang turun ke area 75.20.

EURUSD
Masalah politik Italia terus membebani pasangan mata uang ini, selama tidak menembus ke atas level 1.1500, EURUSD berpeluang turun ke area 1.1425.

GBPUSD
Searah dengan EURUSD, GBPUSD juga terus tertekan akibat ketidakpastian hasil negosiasi Brexit. Selama tertahan di bawah level 1.3000, GBPUSD masih akan melemah dengan target ke area 1.2870.

USDJPY

Perbedaan suku bunga Federal Reserve dan Bank of Japan yang semakin lebarmembuat USDJPY naik ke level 114.54 Rabu kemarin. Naik tajam dalam beberapa pekan terakhir, dan berada di level tertinggi sejak November 2017, USDJPY berpeluang terkoreksi turun ke 114.00 akibat aksi profit taking. Jika level tersebut ditembus, target selanjutnya area 113.70.

AUDUSD

Surplus neraca perdagangan Australia yang bertambah memberikan sentimen positif bagi AUDUSD. Jika kembali menembus ke atas level 0.7100 dan konsisten di atas level tersebut AUDUSD berpeluang naik ke area 0.7130.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Kamis 04/10/2018 pukul 10.06WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.